Mahasiswa UGM Kembangkan Teknologi Budidaya Tebu di Lahan Kering

YOGYAKARTA –– Sebagai upaya meningkatan produksi gula nasional, serta mencari terobosan sistim budidaya tanam tebu, seorang Mahasiswa S3 Agronomi, Fakultas Pertanian UGM, Wawan Sulistiono, mengembangkan teknologi terbaru khususnya di lahan kering dengan menggunakan media serbuk arang kayu.

Sistim baru itu dikembangkan mengatasi budiaya sistim tanam tebu saat ini menggunakan bibit bagal yang berdasrkan berbagai laporan penelitian dinilai kurang efisien. Selain karena kebutuhan bibit per hektar cukup besar, jumlah anakan yang dihasilkan juga sedikit dan daya tumbuh bibit tidak seragam.

“Untuk mengatasi kendala budidaya tebu di lahan kering diperlukan alternatif teknologi budidaya guna mensiasati terbatas air di lahan kering,” katanya di UGM, Jumat (28/07/2017)

Menurut Wawan penanaman bahan tanam bagal di lahan kering tepat waktu sulit dilaksanakan karena perkecambahannya sangat rentan kekeringan.

Salah satu metode yang sudah ia kembangkan adalah menggunakan benih mata tunas tunggal yang dibibitkan dan dilakukan lewat pindah tanam.

“Sistem tanam ini menghindari keterbatsan air di lahan kering tadah hujan, menghindari kemunduran tanam serta meningkatkan anakan yang serempak,” kata Wawan dalam mempertahanakn hasil penelitiannya pada ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Pertanian UGM.

Peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara- Balitbangtan, Kementerian Pertanian ini berhasil melakukan riset pengembangan teknologi sistim pindah tanam bibit pada budiaya tebu di lahan kering dengan menggunakan media serbuk arang kayu dalam mempertahakan daya tumbuh benih.

Penelitian yang dilakukan pada lahan kering seluas satu hektar, Wawan menggunakan media serbuk arang kayu untuk mempertahankan daya tumbuh benih yang mencapai 82,5% dan 66,25%.

“Media tersebut mampu menjaga sukrosa, menekan laju respirasi dan menjaga gula total benih lebih tinggi hingga penyimpanan 12 hari,” katanya.

Ia menambahkan sistim pindah tanam bibit mata tunas tunggal dengan karak tanam dengan baris 60 cm lebih menguntungkan terutama dalam peningkatan produktivitas.

Jarak tanam tersebut sangat optimal untuk pindah tanam bibit tunas tinggal di lahan kering karena menghasilkan produktivitas 34,9% dibanding bagal.

 

Lihat juga...