Kelangkaan dan Mahalnya Garam, Produsen Teri Lamsel Menjerit

LAMPUNG –— Sejumlah produsen pembuat teri di pesisir Kabupaten Lampung Selatan mulai merasakan dampak mahalnya harga garam sekaligus kelangkaan di sejumlah produsen untuk proses pembuatan teri geladah, teri jengki dan teri nasi.

Menurut Subandi, seorang produsen pembuat teri di Desa Maja Kecamatan Kalianda pukulan bagi pengusaha teri cukup beruntun dengan harga teri yang cukup stabil tanpa ada kenaikan dengan biaya produksi yang tinggi dan kini ditambah kelangkaan dan harga garam yang mahal.

Subandi menyebut sebelum kelangkaan garam dirinya masih memiliki stok sebanyak 5 sak atau ukuran 50 kilogram per karung yang dibeli dengan harga lama Rp200 ribu per sak dari distributor di Kalianda untuk proses pembuatan teri dan ikan asin yang ditekuninya selama hampir lima tahun terakhir.

Harga bahan baku teri jengki saja saat ini mencapai Rp160 ribu untuk satu basket ukuran 15 kilogram belum termasuk biaya pembelian garam dan kayu bakar untuk proses perebusan teri dan ikan asin miliknya.

“Saya sempat memiliki cadangan garam beberapa sak namun karena kebutuhan pengolahan ikan teri rebus dan ikan asin membuat cadangan menipis ditambah saat ini garam langka di pasaran sehingga saya mengolah teri dalam jumlah sedikit,” ungkap Subandi, Selasa (25/7/2017)

Selain mengeluh mahalnya harga garam Subandi menyebut banyaknya nelayan yang melakukan “ngebabang” atau melakukan pelayaran ke luar wilayah perairan Kalianda di antaranya ke perairan Serang Banten membuat bahan baku pembuatan teri berkurang. Subandi bahkan mengandalkan para pemilik bagan apung dan bagan congkel lokal memenuhi kebutuhan untuk bahan baku pembuatan teri.

Kelangkaan garam sebagai bahan penentu pengawetan teri nasi dan teri jengki juga dialami Hasan, produsen teri di Dusun Muara Piluk Desa Bakauheni yang hanya memiliki sisa satu sak garam paska mahal dan langkanya garam di pasaran.

Hasan yang ditemui Cendana News tengah melakukan proses perebusan teri tersebut mengaku dirinya membeli satu sak garam seharga Rp220 ribu perkarung berisi 50 kilogram garam.

“Kemarin ada yang berniat membeli kepada saya dua sak karena saya masih punya stok beberapa sak namun tidak saya kasih karena saya juga membutuhkan sampai sekarang tersisa satu sak garam,” beber Hasan.

Jeritan produsen teri tersebut ungkap Hasan cukup beralasan sebab harga garam persak yang dibanderol sekitar Rp220 ribu kini di pasaran sudah mencapai harga Rp300 ribu dengan beberapa toko tidak memiliki stok barang. Beberapa produsen teri bahkan terpaksa menghentikan produksi akibat tidak adanya bahan baku garam untuk pembuatan teri dan ikan asin.

Hasan bahkan menerapkan strategi penghematan penggunaan garam dengan memanfaatkan air sisa perebusan yang masih mengandung garam pada bak perebusan setelah dipisahkan antara air bersih mengandung larutan garam dari endapan rebusan teri.

“Air yang masih mengandung garam kami sisihkan dan digunakan lagi dengan campuran air laut dan penambahan garam yang takarannya dikurangi tanpa mengganggu kualitas teri yang direbus,” ujar Hasan.

Selama musim teri nasi dan jengki melimpah ia menyebut mampu memproduksi sekitar 8 ton atau 8000 kilogram teri dengan kebutuhan garam mencapai 7-8 sak.  Namun saat ini dengan pasokan garam yang langka dan bahan baku teri langka, ia hanya memproduksi sekitar 1 kuintal atau 100 kilogram teri.

Menurunnya produksi teri tersebut secara kasat mata diakui Hasan bisa dilihat dengan jumlah sanoko atau para para bambu untuk menjemur teri yang hanya digunakan sebanyak 100 sanoko. Pada saat melimpah bahan baku teri dan harga garam stabil dari sebanyak 550 sanoko miliknya nyaris tak tersisa karena digunakan untuk proses penjemuran teri.

Harga teri nasi yang bisa mencapai Rp65 ribu per kilogram dan Rp35 ribu per kilogram diakui oleh Hasan kini tak bisa dipenuhi.  Produksi menurun dan pasokan yang biasa dikirim ke Jakarta dan pasar lokal sementara ditunda akibat tidak ada stok ditambah mahalnya harga garam.

Hasan berharap harga garam kembali stabil dan produksi teri yang mempekerjakan beberapa karyawan kembali beroperasi maskimal dan bisa menjadi mata pencaharian bagi nelayan pesisir Lampung Selatan.

Hasan,produsen teri menunjukkan sisa garam untuk proses perebusan teri /Foto: Henk Widi.

 

Proses perebusan teri menggunakan kayu bakar /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...