Jebol Rp100 Ribu, Harga Telur Dikeluhkan Rakyat

NABIRE – Pasokan telur ayam dari pulau Jawa tak ada dalam dua pekan terakhir ke Indonesia Timur tepatnya di Kabupaten Nabire, berdampak naiknya harga telur ke 100 ribu rupiah yang sebelumnya berkisar 45 ribu rupiah, Sabtu (22/07/2017).

Melonjaknya harga telur ayam ini sangat dirasakan masyarakat, terutama pedagang menengah ke bawah serta pengusaha warung dan rumah makan. Irma salah satu pedagang telur di pasar sentral Kalibobo, Nabire, mengeluhkan pasokan telur miliknya dari Surabaya belum datang, sementara permintaan pasar sangat tinggi. Hal inilah membuat sebagian besar pedagang menaikkan harga telur di pasaran.

“Kalau telur ayam dari Jawa banyak dan dipadukan dengan telur lokal Nabire, sudah pasti harga akan normal seperti biasanya dengan harga 45 sampai 65 ribu per rak,” kata Irma saat dijumpai Cendana News.

Senada hal itu, Wati salah satu warga Smoker Kelurahan Sriwini mengaku, harga telur sekarang mahal, uang belanja yang diberikan suami tak mencukupi dengan kemahalan harga telur, sedangkan suami gemar makan telur. “Suami saya tiap pagi sarapan telur ceplok, ya mau bagaimana lagi Mas terpaksa saya harus beli telur juga,” kata Megawati dengan nama panjangnya.

Sementara kata Wati, harga komoditi lain harganya masih normal tak ada pergeseran sama sekali. Menurutnya, saat ini hanya pasokan lokal yang mendominasi kota Nabire. “Semoga pemerintah daerah dapat menangani kenaikan harga telur ini, agar kami masyarakat menengah ke bawah tak kewalahan dari sisi ekonomi,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Distribusi dan Promosi, Dinas Perdagangan Kabupaten Nabire, Yosias Wihawari saat dikonfirmasi membenarkan kekosongan telur di Kota Nabire. Kenaikan harga telur ini, lanjutnya  karena ada beberapa kapal  yang terlambat masuk dan ada juga yang naik dok atau sedang perbaikan.

“Inilah yang membuat harga telur antar pulau naik. Pantauan kami di lapangan harga jualnya ada di angka 85 ribu hingga 100 ribu rupiah per rak,” kata Yosias.

Sedangkan telur lokal masih murah dengan harga berkisar 55 ribu hingga 60 ribu rupiah, namun stoknya sudah mulai menipis, demikian dikatakan Yosias. “Dan ukurannya yang lebih kecil, makanya masyarakat kurang berminat, tetapi karena kebutuhan pokok ya terpaksa dibeli,” tuturnya.

Lihat juga...