BALIKPAPAN — Progres rencana pembangunan jalur kereta api barang saat ini masih dalam tahap survey teknis oleh Kereta Api Borneo. Rencananya, jalur kereta api akan dibuat dua, yaitu jalur utara dari Tabang, Kalimantan Selatan – Maloy Sangata (Kalimantan Timur) sepanjang 270 kilometer dan jalur selatan ruas Kabupaten Penajam Paser Utara – Kutai Barat sepanjang 305 kilometer.
Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak, menuturkan pembangunan jalur kereta api barang jalur utara dan selatan dilaksanakan oleh investor Rusia. Pembangunan rel kereta api dinilai mudah dilakukan di Kalimantan, karena luas lahan, murah dan tidak berhadapan dengan pemukiman penduduk.
“Melihat lahan yang ada, kalau kita cukup lewat hutan saja tinggal bagaimana status hutannya, apakah hutan lindung atau konservasi”, jelasnya, usai pertemuan dengan manajemen Rusia Railways di Balikpapan, Senin (10/7/2017).
Dalam pembangunan jalur kereta api tersebut, Gubernur juga mengajak pengusaha lokal maupun nasional untuk ambil bagian dalam proyek. “Harapannya, pengusaha Kaltim jangan hanya jadi penonton, saya undang untuk ikut mensukseskan,” tukasnya.
Terkait lahan jalur kereta api yang belum selesai, pihaknya mengatakan akan mengundang Kepala Daerah PPu, Kubar, Kukar untuk membantu menyelesaikan pembebasan lahan.
President Director Kereta Api Borneo, Sergey Kuxnetsov, mengatakan dua jalur kereta yang akan dibangun, yakni jalur selatan dan utara yang diperkirakan akan memakan biaya 3 miliar dollar. “Dalam waktu dekat kita buatkan time schedule dan kita sampaikan progres realisasi pada gubernur,” ungkapnya kepada media.
Untuk realisasi proyek jalur selatan, dilaksanakan dua tahap, salah satu pembangunan pelabuhan di kawasan industri Buluminung PPU.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Kereta Api Borneo, Yadi Sabianur, menuturkan kawasan industri Buluminung belum masuk kawasan ekonomi khusus. Namun, akan diusulkan ke pemerintah provinsi ke pusat agar Buluminung masuk dalam KIK.
“Kita pilih Buluminung, karena itu dulu jalur kereta, dan beli tanah di Karingau ternyata mahal. Di sana Rp75-100 ribu per meternya. Posisinya sama bisa buat pelabuhan,” tandasnya.
Sedangkan anggaran pembangunan dipastikan tidak menggunakan APBD, melainkan dana dari Rusia dan perusahaan. Dan estimasi pembangunan berkisar 4-5 tahun. “Bila start 2019 selesai 2022 mendatang,” imbuhnya.