De Javasche Bank Padang, Gedung BI Bersejarah di Indonesia
PADANG — Keberadaan Gedung Bank Indonesia di Kota Padang, Sumatera Barat, turut memberikan deretan bukti sejarah di Indonesia. De Javasche Bank Padang, itu nama yang diberikan pada zaman kolonial yang didirikan pada tahun 31 Maret 1921 silam yang berlokasi di Jalan Nipah Padang.
Sejarahwan Sumbar, Mestika Zed menjelaskan, Gedung Bank Indonesia Lama Padang dulunya berfungsi sebagai bank, dan pertama kali digunakan sebagai kantor cabang De Javasche Bank sebelum diambil alih oleh Bank Indonesia (BI) pada 1 Juli 1953.
“Alasan didirikannya Gedung BI di sana, karena ketika zaman Hindia Belanda, Jalan Nipah merupakan kawasan pusat perkantoran, perdagangan, dan militer di Padang,” jelasnya, Rabu (5/7/2017).
Saat ini, gedung tersebut tidak digunakan lagi untuk perkantoran. Namun, cukup sering dari BI Perwakilan Sumbar menggunakan sebagai tempat digelarnya beberapa acara. Mengingat gedung itu telah dijadilan cagar budaya pada tahun 1998, Gedung BI Lama itu benar-benar dijaga dengan baik. Kini letak gedung bersejarah tersebut, juga bisa dipandang saat berada di atas Jembatan Siti Nurbaya.
Mestika juga menyebutkan, Gedung De Javasche Bank tersebut juga merupakan cabang yang ketiga setelah Surabaya dan Semarang dan pertama di luar jawa. Selain Padang De Javasche Bank tersebar di 12 kota penting Indonesia pada zaman kolonial Belanda yaitu Banda Aceh, Medan, Bandung, Cirebon, Jakarta, Solo, Malang, Kediri, Surabaya, Yogyakarta, Manado, dan Pontianak.
Menurutnya, berdirinya kantor De Javashce Bank di Padang terealisasi berkat permohonan Kamar Dagang dan Industri Kota Padang kepada Pemerintah Pusat dan Direktur De Javasche Bank di Batavia. Namun, pembangunan ini awalnya mendapat persoalan, karena tidak mendapat izin untuk didirikannya perkantoran.
“Karena waktu itu, kawasan Muaro Padang direncanakan menjadi areal pelabuhan, sehingga bangunan-bangunan yang tidak terkait dengan pengembangan pelabuhan laut, tidak diberi izin,” katanya.
Mestika juga mengapresiasi, mulai dari masyarakat dan pemerintah, karena telah turut sama-sama menjaga cagar budaya tersebut. Sehingga kondisi bangunan itu sampai saat ini terlihat kokoh, dan lingkungan pun terlihat bersih. Untuk itu ia berharap pada generasi muda di Ranah Minang mengetahui terkait sejarah Indonesia yang ada di Sumatera Barat, seperti halnya di Kota Padang.
“Saya lihat masih sangat minim anak-anak muda yang berwisata sejarah atau cagar budaya. Jika pun ada, bukannya mengetahui sejarahnya, tapi malah mementingkan berfoto saja,” tegasnya.