Budidaya Pisang Terserang Layu Daun, Petani Ketapang Berharap pada Kunyit

LAMPUNG – Ratusan petani pembudidaya komoditas pisang di wilayah Dusun Trans Cilacap Desa Karangsari, Dusun Umbul Dana, Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, sejak lima bulan terakhir mengeluhkan serangan penyakit layu daun (fusarium) pada tanaman pisang yang ditanam di ratusan hektar lahan milik mereka.

Sugiarto (37), warga Dusun Umbul Dana, Desa Bangunrejo yang selama empat tahun menekuni usaha sebagai agen jual beli pisang antar pulau sekaligus petani pisang mengaku, penyakit layu daun berimbas produktivitas tanaman pisang miliknya menurun bahkan gagal panen. Penyakit akibat cendawan Fusarium oxysporum f.Sp Cubense (FOC) tersebut bahkan menyerang sekitar 200 batang dari 700 batang tanaman pisang pada lahan seluas satu hektar miliknya.

Sugiarto menyebut penyakit tersebut merupakan penyakit berbahaya pada tanaman pisang dan menyerang berbagai varietas dengan tingkat kerugian sebesar 40 persen dengan penyebab utama jamur masuk melalui bonggol pisang dan mengakibatkan rusaknya pembuluh tanaman pisang. Tanda-tanda penyakit tersebut terang Sugiarto dengan menguningnya daun, pecah batang dan bahkan ambruk dengan sendirinya meski telah berbuah.

“Penyakit ini sudah hampir lima bulan menyerang meski diberitahu obatnya dengan membuat ramuan dari daun sirih yang ditumbuk dan disemprotkan, namun kami kewalahan karena memiliki lahan pisang berhektar-hektar,” terang Sugiarto yang ditemui Cendana News tengah melakukan proses penebangan pada tanaman pisang yang terserang penyakit layu daun di kebunnya di Dusun Umbul Dana, Desa Bangunrejo, Sabtu siang (22/7/2017).

Selain wilayah persebaran penyakit yang cukup luas, ia menyebut, penyakit tersebut mudah menular dengan proses penebangan terhadap batang tanaman pisang yang sudah terkena penyakit. Sabit atau golok yang digunakan menebang batang pun terserang layu daun, tak boleh dipergunakan untuk tanaman pisang sehat. Memperkecil kerugian sebagian tanaman pisang yang terserang fusarium atau layu daun, petani seperti dirinya memilih melakukan proses penebangan dan sebagian membakar tanaman terjangkit layu daun agar tidak menular.

Pada lahan satu hektar miliknya Sugiarto menyebut menanam sebanyak 700 batang tanaman pisang berbagai varietas di antaranya pisang tanduk, janten, raja nangka, kepok, serai serta muli yang ditanam dengan jarak 2×2 meter. Meski cukup banyak namun ia menyebut total 200 batang sudah ditebang untuk menghindari pisang lain terkena penyakit serupa.

Selain diserang hama penyakit, Sugiarto yang kerap mengirim pisang ke wilayah Jakarta dan Serang mengaku, harga komoditas pisang sedang anjlok dalam beberapa bulan terakhir. Pada jenis pisang raja nangka yang harganya bisa mencapai Rp25 ribu kini hanya Rp8 ribu untuk kualitas rames (asalan) bahkan maksimal untuk kualitas CR (super) hanya seharga Rp14 ribu.

“Banyak petani pisang dan agen seperti saya kelimpungan dan bahkan sebagian bangkrut karena selain serangan penyakit layu daun, harga juga anjlok,” terang Sugiarto.

Sugiarto yang menjadi agen pisang menyebut dalam setengah bulan sekali atau 15 hari sekali mengirimkan sebanyak tiga mobil dengan rata-rata 300 tandan per mobil L300 atau sebanyak 1000 tandan sekali kirim. Semenjak serangan penyakit layu daun dan harga tengah anjlok dirinya hanya mengirim dua unit kendaraan atau sekitar 600 tandan setengah bulan sekali ke Jakarta dan Serang.

Berbeda dengan Sugiarto, petani pisang lain di Dusun Trans Cilacap yang mengaku ikut terserang penyakit layu daun pada tanaman pisang miliknya mempunyai strategi untuk mengurangi kerugian. Jumino (40) yang menanam pisang sebanyak 100 batang melakukan penanaman secara tumpang sari dengan tanaman kunyit dan jahe. Tanaman kunyit yang  bisa dipanen pada umur 8 bulan tersebut digunakan untuk mengurangi kerugian akibat gagal panen pada pisang.

“Meski sebagian tanaman sela saya bisa menghasilkan uang menutupi biaya produksi pengolahan lahan saat penanaman pisang,” terang Jumino.

Jumino yang menanam jahe dan kunyit mengaku, masih memanen kunyit miliknya sebanyak 200 kilogram dengan harga saat ini mencapai Rp3.000 meski sebelumnya mencapai Rp4.000 untuk pasokan ke sejumlah pasar di Jawa. Sementara untuk tanaman jahe emprit miliknya akan dipanen dua bulan ke depan menunggu permintaan dari pengepul yang akan mengirim ke pabrik jamu.

Meski sebagai tanaman selingan pada lahan tanaman pisang Jumino mendapatkan hasil sekitar Rp600 ribu untuk sebanyak 2 kuintal kunyit miliknya. Jumlah itu bisa menambah penghasilan bagi keluarganya. Selain mudah proses perawatannya, menanam kunyit juga bisa menekan kerugian akibat tanaman pisang yang tengah anjlok harganya dan diserang fusarium.

“Kalau tidak menanam tumpangsari dan memanfaatkan lahan, kami para petani susah buat makan. Apalagi di sini tidak ada sawah jadi hasil kebun untuk beli beras,” terang Jumino.

Sebagian petani lain bahkan menanam cabai rawit dan cabai caplak di sela-sela tanaman pisang dan dijual ke sejumlah pasar, sementara sebagian petani lain mengolah pisang menjadi sale kering yang dijual menjadi pisang olahan dan sebagian membuat keripik untuk dijual sebagai oleh-oleh.

Jumino memanen kunyit di sela-sela tanaman pisang miliknya. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...