Banjar Mulai Dikepung Virus HIV

BANJAR – Masalah penyebaran virus HIV-AIDS di Indonesia, diyakini bagaikan fenomena gunung es, karena laporan resmi jumlah kasus tersebut tidak mencerminkan masalah yang sebenarnya. Predikat besar masalah HIV-AIDS tersebut didasarkan atas jumlah penyalahgunaan narkotika jenis jarum suntik dan prostitusi yang tinggi. Keduanya merupakan faktor utama yang berperan sangat besar dalam penyebaran dan penularan virus HIV-AIDS di kalangan masyarakat.

Untuk itu, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar, Jawa Barat, mengajak semua elemen di wilayah Kota Banjar, untuk turut serta dalam melakukan pencegahan sedini mungkin, karena Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang dapat menyebabkan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar, mengajak masyarakat dari berbagai elemen, mulai dari eksekutif, legislatif hingga jurnalis yang ada di Kota Banjar, untuk bersama-sama dalam penanggulangan dan pencegahan virus yang bisa mematikan tersebut.

Sekretariat Komisi Pengelola Program, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar, Boni Mastriolani, menjelaskan, virus HIV-AIDS adalah salah satu virus yang menakutkan dan bertahan hidup dengan cara menyerang kekebalan tubuh manusia. Sehingga, para pengidap virus ini pun tidak akan mampu melawan segala jenis infeksi yang menyerang di dalam tubuhnya tersebut, bahkan hingga berujung pada kematian.

Data yang ada di KPA Kota Banjar, hingga 2017 ini tercatat ada 214 orang yang menderita dan terserang virus HIV-AIDS. Hal tersebut merupakan bukti, bahwa Kota Banjar ini sudah mulai dikepung oleh penyebaran virus yang mematikan tersebut. “Pengidap HIV-AIDS di Kota Banjar adalah mayoritas dari pendatang, yang ber-KTP luar Kota Banjar,” ungkap Boni, Kamis (13/7/2017).

Menurut Boni, salah satu hal yang dapat menekan penyebaran virus HIV-AIDS itu dengan cara memutus mata rantai dari ibu yang sedang menyusui anaknya. Selain itu, dengan mewajibkan para calon pengantin untuk melakukan tes HIV-AIDS melalui tes VCT (Voluntary Counseling and Testing).

“Alhamdulilah, pengetesan kepada calon pengantin, dan memisahkan ibu penderita HIV-AIDS dengan anak yang sedang menyusu, bisa sedikit mengurangi penularan virus mematikan tersebut”, katanya.

Boni berharap, Pemerintah Daerah segera merumuskan formula untuk menanggulangi dan menekan penyebaran HIV-AIDS di Kota Banjar. Karena Kota Banjar sudah masuk ke dalam wilayah Kabupaten/Kota di Jawa Barat, yang darurat akan penyebaran virus HIV-AIDS.

Lihat juga...