100 Pakar Bahas Pengembangan Falsafah Pancasila

YOGYAKARTA — Upaya menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang kuat dan memiliki daya tahan dialogis terhadap ideologi lain, sejumlah pakar filsafat dari berbagai daerah di tanah air menggelar pertemuan sekaligus membahas pengembangan filsafat nusantara. Pertemuan di Fakultas Filsafat UGM tersebut diikuti sedikitnya 100 orang doktor dari berbagai universitas di Indonesia, Jumat (07/07/2017).

Ketua panitia Qolloqium Asosiasi Filsafat Nusantara, Dr Sarbini Mbah Ben mengatakan, Pancasila sebagai falsafah hidup serta pembentuk kepribadian jati diri bangsa, harus diperkuat sebagai sistem pertahanan identitas kebangsaan.

“Kita ingin menjelmakan Pancasila sebagai jiwa bangsa yang hidup dan sungguh-sungguh operasional yang tidak diretas hanya dalam sistem nilai, kita ingin mengembangkan Pancasila dengan pendekatan ilmu filsafat,” katanya.

Menurut Sarbini, saat ini gejolak kerinduan masyarakat terhadap Pancasila telah kembali bergema. Dimana masyarakat dinilai telah mengalami titik balik dari situasi kebebasan berpendapat dan kebebasan informasi tanpa batas yang memungkinkan terjadinya pertukartan transnasional tanpa seleksi.

“Identitas bangsa dan kesadaran ideologi nasional harus terus diperkuat,” ujarnya.

Dikatakan juga, Pancasila harus kembali dikembangkan secara ilmiah terlepas dari kepentingan politik penguasa. Tak hanya itu, pendekatan dan studi ilmu yang diajarkan di tingkat pendidikan sekolah dasar hingga perguruan tinggi seharusnya juga menjadikan Pancasila sebagai paradigma.

Berlangsung selama dua hari, pertemuan akan membahas beberapa tema penting, di antaranya pengembangan Pancasila dalam ilmu politik, ekonomi dan sosial dan kebudayaan. Selain itu, juga akan dilakukan deklarasi Asosiasi Doktor Filsafat Nusantara.

Asosiasi ini rencananya akan melakukan penelitian dan kajian untuk menjadikan Pancasila sebagai suatu objek studi yang komperehensif dari berbagai macam model paradigma dan pendekatan filosofis.

“Filsafat harus hadir untuk menjadikan Pancasila sebagai objek studi sehingga dihasilkan suatu anyaman pemikiran yang memiliki akar filosofis kuat sehingga dapat berdialog dengan peradaban dan perkembangan zaman,” pungkasnya.

Lihat juga...