Revitalisasi Waduk Cengklik Mendesak Dilakukan
SOLO — Keberadaan Waduk cengklik, yang berada di Desa Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Solo, Jawa Tengah, banyak dikeluhkan petani yang ada di aliran saluran irigasi di bawahnya. Pasalnya, waduk yang dibangun pada tahun 1926-1928 oleh Mangkunegaran kerjasama dengan Pemerintahan Belanda, saat ini tidak berfungsi secara maksimal dan jauh dari yang diharapkan.
Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Boyolali, Samidi, menyebutkan, sejak dibangun hingga saat ini, keberadaan waduk Cenglik, belum pernah mendapat sentuhan dari pemerintah, baik pemerintah daerah, provinsi maupun pusat. Terlebih, fungsional waduk yang saat dibangun luas genangan mencapai 300 hektare, saat ini tersisa kurang dari setengahnya. “Sama sekali belum pernah ada perbaikan. Untuk pengerukan sedimentasi juga belum pernah dilakukan,” kata Samidi di sela-sela sidak anggota Komisi VI DPR RI, Endang Srikarti Handayani, di waduk Cengklik, Jumat (7/7/2017) siang.
Akibat banyaknya sedimentasi, fungsi waduk cengklik yang seharusnya dapat menjadi saluran irigasi bagi 1.578 hektare lahan pertanian, menjadi tidak maksimal. Bahkan, banyaknya sedimentasi dan banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok, membuat banyak petani tidak dapat menikmati aliran irigasi dari waduk Cengklik. “Kalau dihitung-hitung, yang dapat saluran irigasi tidak ada setengah dari yang semula ada 1.500 hektare lahan petani. Oleh karena itu, kita minta pemerintah untuk bisa memberikan solusi,” ungkap dia.
Menurut Samidi, selama ini ada ribuan petani yang mengandalkan irigasi dari waduk Cengklik. Saluran irigasi waduk Cengklik, mampu mengairi petani di 5 kecamatan berbeda, yakni Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, dan Kecamatan Kartasura, Gatak, serta Baki, Kabupaten Sukoharjo. “Karena sebagian besar saluran irigasi tidak berfungsi maksimal, banyak petani yang tidak mendapatkan air untuk pengairan,” imbuhnya.
Sementara itu, Endang Srikarti Handayani, setelah melakukan pengecekan langsung di waduk Cengkik, menyatakan revitaliasai sangat dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi waduk seperti semula. Terlebih, panjangnya rentan waktu dari pertama dibangun hingga saat ini yang sudah hampir 90 tahun, menjadi alasan kenapa waduk Cengklik harus direvitalisasi. “Dan yang jauh lebih penting adalah ribuan petani yang menggantungkan irigasi dari waduk ini. Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, merupakan daerah penopang pangan (padi) di Jawa Tengah, dan nasional. Tentunya ini untuk kelangsungan stabilitas pangan kita,” tandas Endang.
Politisi partai Golkar itu mengaku, sejauh ini dirinya selalu mengkampayekan akan gerakan cinta petani. Profesi petani yang telah banyak ditinggalkan oleh masyarakat, terutama kalangan pemuda ini menjadi pekerjaan rumah (PR) tersendiri bagi pemerintah agar di masa yang akan datang Indonesia tidak terjadi krisis pangan. Kebijakan yang keberpihakan kepada petani saat ini harus dilakukan pemerintah guna menyelamatkan petani agar tidak hilang dari bumi Indonesia.
Melihat kondisi waduk Cengklik yang kondisinya sudah tidak berfungsi dengan baik, pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk merawat serta memperbaiki agar masyarakat petani dapat menikmati kembali saluran irigasi. “Harus dilakukan, karena ini untuk menghidupi masyarakat kita. Kalau petani sudah tidak ada lagi, bagaimana kondisi pangan nasional,” tambah dia.
Terkait revitaliasi waduk Cengklik, Endang mengaku telah berkoordinasi dengan Menko Perekonomian, Darmin Nasution. Turunnya ke waduk Cengklik tersebut tak lain untuk mengumpulkan data-data yang akan diajukan sebagai dasar dilakukan revitalisasi waduk yang sudah berumur hampir satu abad tersebut. “Kita berusaha keras agar waduk ini bisa direvitalisasi. Ini karena memang sudah mendesak dilakukan perbaikan guna kesejahteraan masyarakat petani sekaligus untuk kelangsungan pangan secara nasional,” pungkasnya.