RABU, 3 MEI 2017
YOGYAKARTA — SMK Piri 1 Yogyakarta merupakan sekolah yang mengembangkan sekaligus mengajarkan siswanya memanfaatkan energi alternatif terbarukan menggunakan tenaga surya atau matahari. Atas bantuan dana dari Kementerian Riset dan Teknologi, sejak 2012 lalu sekolah ini telah mampu membuat becak listrik tenaga surya yang diberi nama Becak Listrik Yogyakarta.
![]() |
| Raden Sunarto bersama siswa SMK Piri 1 Yogyakarta dan becak listrik tenaga surya. |
Adalah Drs. Raden Sunarto, guru penemu becak listrik tenaga surya tersebut. Guru pembimbing sekaligus Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMK Piri 1 itu mengaku, mengembangkan becak tenaga surya setelah mengetahui keluhan para tukang becak wisata di Yogyakarta yang selalu menolak penumpang jika melewati jalur tanjakan, disebabkan karena tak kuat mengayuh becak. Dari situlah ia mulai membuat prototype becak listrik tenaga surya generasi pertama.
“Saat itu pihak sekolah diminta Kementerian Riset Teknologi untuk mengembangkan energi alternatif terbarukan. Saya dibantu siswa kemudian membuat becak listrik tenaga surya, karena saat itu di Yogya belum ada becak motor. Setelah prototype jadi saya kemudian diminta mengembangkan dalam jumlah lebih banyak hingga tercipta becak listrik tenaga surya generasi ke-2 sebanyak 10 buah,” katanya, Rabu (3/5/2017).
Dengan becak listrik tenaga surya itulah para siswa dapat mempelajari sekaligus mempraktikkan pengembangan energi terbarukan khususnya sinar matahari. Para siswa bahkan secara rutin diberikan pelajaran tambahan pembuatan becak listrik berikut pengaplikasiannya dalam setiap waktu tertentu. Pembelajaran ini diberikan agar siswa mampu menciptakan energi terbarukan khususnya dari sinar matahari.
![]() |
| Temuan inovatif becak listrik. |
Raden menjelaskan, prinsip kerja becak tenaga surya tersebut adalah memanfaatkan sel surya yang menghasilkan listrik 12 volt sebesar 50 watt, untuk dihubungkan pada aki 48 volt yang bisa menyimpan listrik, yakni melalui inferter penaik tegangan. Listrik dari aki itulah yang kemudian digunakan untuk menjalankan motor listrik BlDC 80 volt yang dipasang pada as roda becak sehingga bisa melaju tanpa dikayuh.
“Pada generasi pertama, sel surya dipasang di belakang. Sedangkan pada generasi ke dua dipindah di batas atap becak sehingga lebih praktis. Dengan sel surya 12 vol 50 watt satu buah, becak listrik tenaga surya ini mampu berjalan selama 26 jam tanpa sinar matahari. Setelah kita lakukan pengembangan kecepatan becak generasi kedua mencapai 30 km per jam, lebih cepat dari generasi pertama yang hanya 20 km per jam,” katanya.
Dengan biaya pembuatan mencapai sekitar 20 juta per unit, SMK Piri 1 Yogyakarta sebenarnya telah beberapa kali mendapat pesanan dari sejumlah instansi seperti hotel. Sayangnya, masih cukup mahalnya perangkat yang dibutuhkan membuat pemasaran becak listrik tenaga surya ini cukup sulit. Namun, demi kepentingan pembelajaran siswa, teknologi becak tenaga surya ini terus dikembangkan. Kini, teknologi becak tenaga surya ini bahkan telah dikembangkan ke kendaraan lain menjadi sepeda motor litsrik tenaga surya.
![]() |
| Raden Sunarto. |
“Harapannya becak listrik tenaga surya ini bisa menggantikan becak motor yang ada di Yogya. Karena selain hemat energi, becak listrik tenaga surya ini juga ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi,” katanya.
Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana
Source: CendanaNews


