JUMAT, 14 APRIL 2017
MANADO — Kerukunan antara umat beragama di kota Manado, Sulawesi Utara, terus terjaga dengan baik. Meski berbeda agama dan suku, namun bisa hidup berdampingan, sehingga toleransi antara umat beragama di kota yang disebut Kota Tinutuan ini terpelihara degan baik.
![]() |
| Ornamen Paskah yang dibangun di Samping Masjid Al-Ihsan, Manado |
Salah satu contoh dengan dibangunnya ornamen Paskah di samping Masjid, seperti yang terpantau di Kelurahan Dendengan Dalam, Kecamatan Pall 2, Manado. Sebuah ornamen Paskah dari Jemaat Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Yarden, Dendengan Dalam, yang terdiri dari Salib Paskah, Taman Paskah, dan hiasan lampu minyak berdiri kokoh persis di samping Masjid Al-Ihsan.
Menurut salah satu warga Kelurahan Dendengan Dalam, Salib Paskah dan taman paskah ini sudah dibangun sejak awal Maret, lalu, dan itu dilakukan oleh Jemaat GMIM Yarden. Saat pembangunan Taman Paskah di samping Masjid AL-Ihsan, sudah mendapat izin dari pengurus masjid dan warga sekitar, sehingga saat ornamen paskah itu dibangun tak ada larangan. Sebaliknya, umat muslim di sekitarnya mendukung.
“Setelah ornamen Paskah ini dibangun, warga dari umat muslim Masjid AL-Ihsan ikut melengkapi ornamen Paskah dengan medirikan hiasan lampu botol di sekitar Taman Paskah, sehingga semakin melengkapi suasana toleransi di Kota Manado, khsusnya antara umat muslim dari Masjid Al-Ihsan dan warga GMIM Yarden,” kata Tumiwa, Jumat (14/4/2017).
Sementara itu, menurut Imam Mesjid Al-Ihsan, Dahlan Alting, toleransi umat beragama di Kelurahan Dendengan Dalam sudah menjadi kekuatan tersendiri sejak dulu, sehingga saat umat nasrani melakuakn kegiatan ibadah atau memperingati Paskah, pasti umat muslim dari Masjid Al-Ihsan akan mendukung, begitupun sebaliknya saat umat Islam membuat kegiatan, umat nasrani di sekitar Masjid Al-Ihsan ikut membantu dan terlibat langsung dalam kegiatan di dalam Masjid, sehingga toleransi umat beragama di tempat tetap terpelihara dan terjaga dengan baik.
“Saat halal bihalal, umat Nasrani juga hadir, dan kami selalu gotong royong saat ada kegiatan, sehingga ini menjadi simbol indahnya toleransi antara umat beragama di Kota Manado, terutama di Kelurahan Dendengan Dalam,” terang Imam Alting.
Terpisah, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Utara, Salman Saelangi, menjelasakan, merupakan kewajiban seluruh kader Pemuda Muhammadiyah maupun umat Islam pada umumnya untuk wajib dan terus menampilkan sikap dan prilaku toleransi yang otentik, bukan hanya sekedar tampilan toleransi simbolik.
Menurut Selangi, toleransi otentik yang selama ini terawat dalam masyarakat di Sulut wajib untuk dijaga dan terus dikembangkan, karena terawatnya toleransi ini menghasilkan stabilitas yang merupakan modal dasar dan menjadi keunggulan untuk tumbuh kembangnya perekonomian suatu daerah. “Untuk itu, selaku kader Pemuda Muhammadiyah wajib selalu membuka diri merawat karakter gotong-royong dan tolong-menolong dengan siapa saja tanpa melihat agama, suku dan keberagaman lainnya. Sebagai langkah nyata Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Utara akan membantu pihak kepolisian memastikan lingkungannya aman dan nyaman untuk umat Kristiani menjalankan ibadah selama perayaan Paskah, nanti,” ungkap Saelangi
Jurnalis: Ishak Kusrant/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ishak Kusrant
Source: CendanaNews
