KAMIS, 13 APRIL 2017
LARANTUKA — Pelabuhan laut Pante Palo yang terletak di Kelurahan Sarotari, Kota Larantuka, sejak Rabu (12/4/2017) hingga Kamis (13/4/2017) sore sudah melayani 2.873 peziarah yang menyeberang menggunakan kapal motor tradisional menuju Wure di Pulau Adonara.
| Yohanes Albertus, Kepala Seksi Keselamatan Pelayaran Dinas Perhubungan Kabupaten Flores Timur (berdiri) bersama petugas di Pante Palo. |
Demikian disampaikan Yohanes Albertus, Kepala Seksi Keselamatan Pelayaran Dinas Perhubungan Kabupaten Flores Timur yang bertugas sebagai koordinator pelayaran dari dan menuju Wure saat Semana Santa ketika ditemui Cendana News, Kamis (13/4/2017).
Dikatakan Yohanes, untuk hari Rabu (12/4/2017) jumlah peziarah mencapai 255 orang. Sementara Kamis (13/4/2017) jumlah peziarah meningkat drastis menjadi 2.618 peziarah. Semua peziarah sebelum menaiki kapal motor didaftarkan namanya oleh petugas Dinas Perhubungan.
“Semua peziarah yang hendak menyeberang kami daftarkan namanya agar saat ada kecelekaan di laut mendapatkan dana dari asuransi Jasa Raharja,” ujarnya.
Dinas Perhubungan Flores Timur, sebut Yohanes, menyediakan 3 dermaga yang akan dipergunakan untuk kapal motor mengangkut peziarah ke Pulau Adonara, yakni di Pante Palo, TPI Amagarapati dan pelabuhan Larantuka.
Petugas Dinas Perhubungan di Pante Palo sebanyak 5 orang, di dermaga Wure 2 orang, di pelabuhan TPI Amagarapati 3 orang sedangkan di pelabuhan Larantuka ada 4 petugas. Petugas juga akan memeriksa dan mengontrol kapasitas maksimum penumpang serta mengatur jadwal kapal yang akan berlayar.
“Kapal dan penumpang yang akan ke Wure semua diatur dan hari Kamis (13/4/2017) kami membatasi peziarah yang hendak ke Wure, waktunya dari jam 07.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA. Sebab di atas pukul 18.00 WITA ada prosesi di gereja,” terangnya.
Sementara untuk hari Jumat (14/4/2017) kata Yohanes,waktunya dari jam 7 pagi hingga jam 12 siang. Sebab setelah itu ada tradisi prosesi laut mengantar patung Tuan Meninu melewati laut dari Pante Palo menuju Armida Pohon Asam di Kelurahan Lohayong.
“Karena rata-rata kapalnya berukuran 7 Grass Ton (GT) sehingga penumpang yang diangkut maksimal 10 orang saja. Sementara bila carteran, petugas dari kami akan mengecek kapasitas kapalnya. Sebab bila tidak muat maka akan dibagi ke kapal motor lainnya,” terangnya.
Yohanes berharap agar para peziarah bisa bersabar dan mengikuti prosedur pendaftaran nama serta menaiki kapal yang telah ditentukan sesuai urutannya. Kapal yang berangkat juga diatur agar semua kapal bisa kebagian berlayar dan adil.
Agustinus Demon Wurung, nakhoda kapal pengangkut peziarah kepada Cendana News di dermaga Pante Palo menjelaskan, jumlah peziarah hari Kamis (13/4/2017) lebih banyak dibandingkan dengan hari Rabu (12/4/2017). Kapalnya sudah 8 kali berlayar pulang-pergi dengan biaya setiap penumpang sebesar 10 ribu rupiah dan jadwal berangkat diatur oleh petugas dari Dinas Perhubungan.
Agustinus mengakui, penumpang di hari Kamis memang lebih banyak tapi keuntungan yang didapat pemilik kapal juga sangat terbatas karena jumlah peziarah di tahun 2016 menurun dibandingkan tahun 2015 lalu serta di tahun-tahun sebelumnya.
| Kapal motor tradisional yang mengangkut peziarah dari Pante Palo. |
“Besok kami jadwalnya berlayar ke Tana Merah dekat Wure dengan biaya per penumpang 5 ribu rupiah karena jaraknya lebih dekat,” terangnya.
Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary
Source: CendanaNews