SENIN, 3 APRIL 2017
YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Di sebuah persimpangan jalan Pedukuhan Sribitan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, sebuah warung sederhana nampak berdiri. Berukuran sekitar 2 x 1 meter persegi, warung ini menempati sebuah emperan teras rumah yang disekat dengan papan kayu.
![]() |
| Apriana, (kiri), saat melayani pembeli |
Tak ada pintu yang menghubungkan warung tersebut dengan rumah, sehingga setiap ada pembeli, sang pemilik harus memutar melewati pintu utama rumah untuk bisa melayani pembeli. Warung sederhana itu milik Apriana (30), seorang ibu rumah tangga dusun setempat. Ibu muda satu anak ini, mulai membuka usaha warung sejak sekitar 2 tahun, lalu.
Apriana menjual berbagai kebutuhan pokok sehari-hari, mulai dari bensin eceran, rokok, sembako, makanan ringan, es jus, pulsa, hingga gas elpiji. Dari hasil berjualan di warung itu, Apriana bisa mendapatkan penghasilan tambahan yang lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Keberadaan usaha warung kelontong Apriana, merupakan salah satu hasil dari program Simpan Pinjam Tabur Puja yang digagas Yayasan Damandiri, bekerjasama dengan KUD Tani Makmur, melalui Posdaya Kanthil Kuning. Dengan bantuan modal usaha Tabur Puja, itu, Apriana bisa merintis usahanya dari nol, hingga bisa berkembang seperti sekarang.
Kepada Cendana News, Apriana menceritakan awal mula membuka usaha warung kelontongnya itu. “Sejak pindah ke sini pada 2011, saya sudah berniat membuka usaha warung bersama suami. Karena saya lihat di sekitar sini belum ada warung sama sekali. Tapi, waktu itu saya dan suami belum punya modal sama sekali,” tuturnya.
![]() |
| Warung Apriana |
Pada 2015, Apriana mendapat informasi adanya program Tabur Puja di Posdaya Kanthil Kuning. Secara kebetulan pula, ada kelompok yang membutuhkan anggota tambahan untuk bisa mengajukan pinjaman modal usaha. Apriana pun menerima tawaran pinjaman tersebut. “Awalnya, saya bercerita kepada pengurus ingin buka usaha, tapi terbentur modal. Lalu, saya ditawari pinjaman Tabur Puja. Saya diberi tahu syarat-syarat dan prosesnya. Setelah itu, langsung saya terima,” katanya.
Wanita asal Wonogiri, Jawa Tengah, itu mengaku menerima tawaran pinjaman Tabur Puja, karena tanpa agunan, prosesnya cepat dan tidak ribet, serta pencairan maupun pembayaran cicilan yang dekat, karena dilakukan di lingkungan sekitar rumahnya sendiri, yakni langsung ke pengurus Posdaya. “Yang saya seneng itu dekat. Syaratnya juga cuma KTP dan C1. Seminggu langsung cair. Bunga juga lebih ringan dibanding pinjaman lain,” kata wanita yang mengaku baru pertama kali melakukan pinjaman itu.
Di tahun pertama, Apriana meminjam modal usaha sebesar Rp2 juta, dalam jangka waktu 1 tahun. Uang pinjaman itu digunakan untuk modal membeli sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, gula, mie instan serta bensin, dan setiap bulan ia membayar cicilan sebesar Rp205.000. “Awalnya itu belum ada warung. Saya jualan masih pakai kardus dan meja. Saya taruh di depan emperan teras rumah. Jadi, kalau tutup, semua barang dagangan itu harus saya angkut bawa masuk ke dalam rumah. Pokoknya masih seadanya,” katanya.
Dalam perjalanannya, usaha Apriana semakin berkembang. Selama setahun, ia bisa membayar cicilan hingga lunas tanpa kendala. Maka, di tahun kedua, ia mengajukan pinjaman lagi sebesar Rp5 juta, dengan cicilan Rp505 ribu setiap bulan. Uang itu digunakan untuk memperbesar usaha jualannya. Ia bangun warung seadanya di emperan teras rumah. Ia juga mulai menambah dagangan seperti gas elpiji dan pulsa.
“Alhamdulilah, dari berjualan ini saya bisa dapat penghasilan paling tidak Rp1 juta setiap bulannya. Kalau dulu, sama sekali tidak punya. Hanya mengandalkan gaji suami. Bahkan, saya sudah bisa membeli motor bekas sendiri, murni dari hasil berjualan ini. Jadi, sekarang saya bisa kulakan dagangan sendiri, tanpa harus menunggu suami pulang kerja,” katanya.
Tak hanya digunakan untuk modal usaha warung, dana pinjaman Rp5 juta dari Tabur Puja juga digunakan untuk modal usaha sambilan pembuatan etalase dan aluminium oleh suaminya. Kebetulan, suami Apriana selama ini bekerja sebagai karyawan di bidang yang sama, sehingga sepulang kerja atau saat libur, suaminya biasa membuat perkakas aluminium untuk memenuhi pesanan pelanggannya. “Sekarang, saya juga sudah ada mobil pick up. Itu juga dari hasil menabung. Sebagian dari suami, sebagian dari usaha jualan saya. Selain untuk kulakan bensin atau mengantar pesanan aluminium, pick up ini juga saya sewakan untuk jasa angkut,” katanya.
Apriana mengaku mendapatkan banyak manfaat dari adanya program Tabur Puja. Selain kehidupannya menjadi meningkat dari sebelumnya, Apriana sekarang juga sudah memiliki penghasilan sendiri, sehingga tidak perlu konsultasi suami, jika ingin membeli sesuatu. “Ke depan jika cicilan sudah lunas, saya ingin pinjam lagi untuk mengembangkan usaha. Ingin beli kulkas, jadi bisa untuk jualan es dan minuman dingin,” pungkasnya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana
