KAMIS, 13 APRIL 2017
LARANTUKA — Ritual selama pekan Semana Santa atau Pekan Suci yang dimulai sejak Minggu Palma hingga Minggu Paskah hendaknya dijadikan sebagai wisata rohani. Sebab ritual selama pekan Suci teristimewa Prosesi Jumat Agung sudah mendunia dan menjadikan kota Larantuka dibanjiri peziarah.
| Kapela Tuan Ana salah satu kapela tempat peziarah melakukan ritual Cium Tuan selama Semana Santa atau Pekan Suci |
Demikian disampaikan Emanuel Kara, SH penjabat bupati Flores Timur saat berbincang dengan Cendana News dan awak media yang meliput ritual selama Semana Santa di rumah jabatan bupati, Rabu (12/4/2017).
Dikatakan Eman, sapaannya, ritual selama Semana Santa hendaknya dijadikan aset daerah dengan menjadikannya sebagi wisata religi agar bisa dipromosikan dan diperkenalkan kepada wisatawan dan peziarah dari luar daerah.
“Memang ada pro dan kontra tapi mau tidak mau ini harus jadi wisata religi sebab zaman semakin berkembang dan ini juga kan secara ekonomi menguntungkan masyarakat dengan banyaknya peziarah yang datang ke Larantuka,” ungkapnya.
| Emanuel Kara,SH penjabat bupati Flores Timur |
Kalau memang ini dijadikan wisata rohani maka daerah harus membuka ruang agar investor bisa masuk dan harus diciptakan momen atau event lain selama Semana Santa dengan tidak melanggar tradisi agar bisa menarik wisatawan untuk datang.
“Jika demikian maka pemerintah dan gereja serta raja Larantuka beserta perangkatnya harus duduk bersama membahasnya agar tidak terjadi tumpang tindih serta yang terpenting jangan melanggar tradisi,” pesannya.
Sementar itu, Bernadus Tukan, sejarawan dan budayawan Flores Timur saat dihubungi Cendana News, Kamis (13//2017) mengatakan, wisata rohani merupakan suatu istilah yang diciptakan kemudian sebab menyangkut kerohanian oarng lebih mengenalnya dengan ziarah.
“Kalau wisata konotasinya lebih kepada orang menikmati kesenangan sementara kalau ziarah orang lebih banyak melakukan Laku Kapa, berdoa dan lainnya yang berhubungan dengan kerohanian dan iman,” tegasnya.
Bahwa ada fasilitas yang dibutuhkan tandas pak Dus sapaannya, itu bukan masalah tapi bukan berarti wisatawan menikmati sebuah kesenangan di kota Larantuka sehingga semua orang mendandani kota ini untuk menyenangkan para turis.
“Sebenarnya Nagi atau kota Larantuka harus menampilkan diri apa adanya ketika menjadi sebuah kota tujuan ziarah bukan wisata sebab kalau tujuan wisata maka apa yang ditampilkan harus sesuai selera para turis dan itu bertentangan dengan makna rohani dari tradisi Semana Santa ini,” sebutnya.
Mantan Uskup Larantuka almahrum Mgr. Darius Nggawa, SVD., terang pak Dus, pernah mengingatkan agar jangan pernah mengubah tradisi demi selera tourisme dimana dengan menjadikan Semana Santa sebagai obyek wisata.
“Orang ingin kembali ke suatu masa lampau yang sebenarnya tidak selalu cocok dengan situasi masa sekarang dan juga ada upaya-upaya pemantasan diri lalu tanpa disadari ada juga klaim-klaim kepentingan dan kepemilikan yang dulunya tidak pernah ada sehingga ini yang harus dihindari,” pungkasnya.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Source: CendanaNews