KAMIS, 16 MARET 2017
YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Berdiri sejak 2010, Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Sumber Makmur di kawasan padat penduduk Kampung Celeban, RW 5, Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, hingga kini terus aktif melakukan upaya pemberdayaan di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga ekonomi atau kewirausahaan, demi mencetak keluarga mandiri.
![]() |
| Mukri Wahyudi, Ketua Posdaya Sumber Makmur dan piala Damandiri Award yang diraihnya pada 2014. |
Ketua Posdaya Sumber Makmur, Mukri Wahyudi, mengatakan, sebelum ada Posdaya, warga Kampung Celeban, RW 5 yang kini terdiri dari 5 RT dengan 257 Kepala Keluarga dan 928 jiwa, banyak yang bekerja sebagai buruh tidak tetap. Mereka tidak mempunyai penghasilan yang jelas. Padahal, setiap hari mereka harus makan. Akibatnya, banyak warga memiliki pola pikir untuk menengadahkan tangan atau meminta.
Tak hanya itu, di bidang pendidikan, begitu banyak anak-anak di sekitar kampung Celeban yang kurang mengenal lingkungan. Tak sedikit dari mereka juga kurang diajarkan tata krama atau sopan-santun oleh orangtuanya. Melihat kondisi tersebut, Mukri mengaku prihatin. Apalagi, ketika anak-anak lebih banyak mengenal permainan modern dan melupakan permainan tradisional yang sarat akan nilai-nilai ajaran leluhur.
Pun demikian pula di bidang kesehatan. Warga kampung Celeban kurang menjaga kebersihan. Akibatnya, bahkan sampai menimbulkan wabah penyakit leptospirosis atau penyakit yang ditimbulkan oleh kencing tikus. Ada tiga orang warga yang terkena penyakit leptospirosis itu, dan di antaranya bahkan ada yang meninggal dunia.
Demi melihat kondisi warga di kampungnya yang demikian, Mukri tergerak untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Lalu, dengan niat yang tulus dan tekad yang kuat, pada 2010 Mukri mulai melakukan upaya pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Posdaya. Dengan mengajak 15 warga lainnya sebagai pengurus, Mukri yang merupakan pensiunan PNS itu mendirikan Posdaya yang kemudian diberinya nama, Sumber Makmur.
“Pada awalnya, sangat sulit. Saya tidak mendapat dukungan dari masyarakat. Banyak warga yang justru curiga kalau saya punya muatan politik. Mereka tidak percaya. Tapi, saya terus berusaha merangkul dan meminta dukungan warga,” ujar Mukri.
Dengan berbagai kendala dan sikap apatis warga pada awal pendirian Posdaya, Mukri terus saja pantang menyerah memperjuangkan berdirinya Posdaya. Semua demi kebaikan dan perubahan yang lebih baik. Untuk itu, Mukri selalu aktif mendatangi dan menghadiri setiap kegiatan atau pertemuan yang diselenggarakan oleh warga, baik di tingkat RT, RW, kampung, hingga kelurahan, baik itu pengajian, pertemuan Ibu-ibu PKK atau lainnya, demi mengenalkan program-program dan manfaat keberadaan Posdaya.
“Saya selalu merendah. Bicara apa adanya. Tapi, jangan sampai salah ngomong. Kalau bicara A, hasilnya juga harus A. Mau dikatakan saya punya kepentingan, monggo. Tapi, saya selalu berusaha membuktikan, kalau saya tidak ada muatan politik,” kata Mukri.
Berkat niat tulus, tekad kuat dan pantang menyerahnya itu, secara perlahan pada beberapa tahun kemudian, upaya Mukri mulai membuahkan hasil. Banyak warga yang mulai mau bergabung dalam Posdaya. Ia pun juga tak jemu mencari cara untuk bisa memberdayakan warga di sekitarnya, agar bisa mandiri. Baik dengan menggalang dana bantuan, hingga memanfaatkannya untuk kepentingan warga.
Kini, setelah hampir tujuh tahun sejak awal berdirinya Posdaya Sumber Makmur, warga Kampung Celeban bisa menikmati hasilnya. Melalui Posdaya, terbentuklah wadah pendidikan anak usia dini (PAUD) bagi anak-anak Kampung Celeban. Melalui berbagai upaya lingkungan, sampah-sampah yang sering dibuang sembarangan ditampung di Bank Sampah dan menjadi sumber penghasilan Kas kampung. Juga pemberdayaan di bidang ekomomi yang dilakukan melalui pembelajaran usaha kecil menengah, pendampingan, bantuan modal dan pinjaman modal melalui program Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja), warga bisa memiliki pekerjaan dan usaha.
“Kegiatan masih kita lakukan secara konsisten hingga sekarang. Memang tidak rutin. Tapi, lebih bersifat insidentil. Bahkan dari 8 Posdaya di tiap RW yang ada di kelurahan Celeban, ini hanya Posdaya Sumber Makmur RW 5 saja yang masih berjalan sampai sekarang,” katanya.
Perjuangan Mukri pun ternyata tak sia-sia. Kesabaran, ketekunan, ketulusan dan kerja kerasnya membuahkan prestasi besar, dengan diterimanya Damandiri Award 2014. Mukri bahkan ditunjuk sebagai Ketua Forum Komunikasi Posdaya Tingkat Kecamatan. Ia kerap diundang ke sejumlah acara sebagai pembicara, atau penyuluh penggerak Posdaya. “Kepuasan saya itu adalah saat melihat warga sekitar bisa hidup mandiri dan menjadi lebih baik, dan ide-ide saya bisa digunakan dan bermanfaat bagi orang lain,” kata Mukri.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana