KAMIS, 16 MARET 2017
YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Paryanti yang juga pengurus Posdaya Sumber Makmur, mengakui upaya merintis PAUD di kampung bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali suka-duka yang harus dijalani. Dengan segala keterbatasan yang ada, ia pun harus tetap mengajar anak-anak di kampungnya secara rutin.
![]() |
| Paryanti |
Jauh sebelum menjadi seperti sekarang, Paryanti dan sejumlah pengurus Posdaya Sumber Makmur lainnya di RW 5 Kampung Celeban, Tahunan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, harus ekstra kerja keras dalam menghidupkan kegiatan belajar-mengajar di PAUD Sumber Makmur. Di saat belum adanya sarana berupa alat bantu proses pembelajaran, Paryanti harus membuatnya sendiri dengan memanfaatkan barang-barang bekas di lingkungan sekitar. “Karena tidak ada modal, kita membuat sendiri mainan untuk proses pembelajaran dari barang bekas, seperti kertas, kerikil, bunga kering, bluluk kelapa (bakal buah kelapa -red) dan lain-lain,” kata Paryanti.
Selain berbagai keterbatasan itu, tersendatnya dana bantuan Pemerintah untuk pemenuhan gizi siswa PAUD, tak jarang juga membuat para pendidik PAUD Sumber Makmur, termasuk Paryanti, harus tombok. Tak jarang, Paryanti harus menyediakan makanan dan minuman untuk siswa dengan menggunakan uang pribadi. “Hujan atau tidak hujan, kita sebagai pendidik harus selalu datang untuk mengajar. Walaupun kadang murid yang datang cuma dua orang. Namun, itu sudah konsekuensi. Karena maju atau tidaknya PAUD sangat tergantung pada pendidik,” katanya.
![]() |
| PAUD Sumber Makmur di Kampung Celeban, Kota Yogyakarta |
Pada masa awal pendiriannya, lanjut Paryanti, pendidik PAUD Sumber Makmur juga hanya merupakan Ibu-ibu PKK dengan latar pendidikan SMA dan SMEA. Meski ada beberapa pendidik yang lulusan S1, termasuk Paryanti. Untuk meningkatkan kompetensi pendidik PAUD, mereka pun rutin mengikuti berbagai pelatihan, workshop, hingga studi banding yang memang disediakan Pemerintah. Termasuk di antaranya mengikuti bimbingan teknis, diklat dasar hingga diklat lanjut. “Seiring waktu berjalan, PAUD terus berkembang. Proses pembelajaran yang awalnya hanya sekedar tepuk-tepuk dan nyanyi-nyanyi, mulai meningkat dengan penerapan sub tema pembelajaran,” katanya.
Berkembangnya proses pembelajaran di PAUD Sumber Makmur juga diimbangi dengan peningkatan alat-alat pendukung proses pembelajaran. Sejumlah bantuan berupa alat-alat permainan pun diusulkan oleh pengelola PAUD. Baik itu dari Pemerintah maupun dari lembaga swadaya masyarakat. Seiring dengan perkembangannya, PAUD Sumber Makmur pun pernah ditunjuk sebagai Kelompok Bermain mewakili tingkat Kelurahan. “Sejak merintis pendirian PAUD pada 2006, semua pendidik tidak mendapat bayaran. Baru dua tahun terakhir ini pendidik mendapat intensif dari Pemerintah, meski besarannya juga hanya Rp600.000 per semester,” kata Paryanti.
Paryanti menilai, keberadaan Posdaya sendiri sangat membantu upaya pemberdayaan pendidikan, khususnya bagi anak-anak usia dini. Selain melakukan pembenahan dan memberikan sejumlah bantuan berupa alat-alat penunjang proses pembelajaran, keberadaan Posdaya juga membuat kegiatan PAUD di Kampung Celeban RW 5 lebih bergairah. “Sebelumnya itu PAUD hanya bergairah setiap akan ada kegiatan saja. Tapi, dengan adanya Posdaya ini, membuat kegiatan PAUD bisa terus bergairah. Bahkan dengan adanya Posdaya, kita sempat melakukan pemberdayaan pada anak-anak hingga ke luar kampung. Seperti saat terjadi bencana erupsi Merapi dan bencana lahar dingin Kali Code,” pungkas Paryanti.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana
