SABTU, 11 MARET 2017
BALIKPAPAN — Belum pulihnya kondisi ekonomi daerah di Kalimantan Timur, menyebabkan kunjungan menurun untuk pebisnis, mengingat Kalimantan Timur masih mengandalkan sektor pertambangan batu baru. Kondisi itu, tentu saja turut mempengaruhi sektor ekonomi lainnya, seperti penjualan panganan khas Balikpapan.
![]() |
| Rita dengan Sambal dan Boto Kepiting |
Namun, di sisi lain kondisi itu membuat usaha kecil menengah (UKM) terus berinovasi untuk mempertahankan pelanggan dan omzetnya. Riswahyuni, salah seorang pembuat panganan khas Balikpapan yang memiliki produk “Cake Salak”, mengatakan jika ia terus melakukan inovasi panganan yang bahan dasarnya dari buah salak. “Manfaat buah salak yang begitu besar khasiatnya, tidak hanya membuat saya berhenti untuk inovasi panganan cake salak. Inovasinya tetap dari buah salak, karena selain punya banyak manfaat, juga membantu petani salak di Balikpapan,” jelasnya, saat ditemui Sabtu (11/3/2017).
Ia menyebutkan, usaha pangan khas Balikpapan berbahan dasar salak yang sudah dijalani lebih dari lima tahun ini sudah menghasilkan 15 produk. “Saya ingin terus kembangkan buah salak ini menjadi panganan khas Balikpapan, bukan hanya cake salak, meski permintaan cake salak dominan dari 15 produk itu,” sebut perempuan yang akrab disapa Yuni.
![]() |
| UKM panganan khas Balikpapan |
Dia menyebutkan 15 produk yang terbuat dari salak itu, di antaranya cake salak, pie brownies salak, bolu lapis salak, lumpia salak, coklat dodol salak dan masih banyak yang lainnya yang berbentuk sirup. “Dengan 15 produk itu, sudah banyak permintaan dari Balikpapan hingga luar daerah, karena kami juga sudah bekerjasama dengan jasa pengiriman paket. Jadi, kami bisa menerima permintaan dari luar daerah,” ulas Yuni, yang telah mendapatkan posisi kedua pada Master Oleh-oleh Terbaik se-Indonesia 2016.
Meski kondisi ekonomi daerah belum sepenuhnya pulih, Yuni mengaku permintaan panganan khas Balikpapan yang dimiliki tidak menurun. Bahkan berjalannya waktu permintaan meningkat. “Sekarang permintaan salak sebanyak 150 kilogram untuk 3 hari, dan 50 persennya khusus untuk cake salak. Sebelumnya, hanya 100 kilogram salak untuk 3 hari. Kami mengolah salaknya tiga hari sekali dan itu semua produk habis dalam tiga hari. Omzetnya kalau dihitung per bulan bisa Rp100 juta. Itu masih kotor,” bebernya.
Yuni mengatakan lagi, untuk terus menjaga permintaan, ia akan banyak melakukan inovasi dan akan bekerjasama dengan hotel dalam waktu dekat untuk penguatan pengenalan produk cake salak.
Hal yang sama juga dikatakan Rita, salah seorang pembuat panganan khas Balikpapan berbahan dasar kepiting. Menurutnya, permintaan sambal dan botok kepiting yang dibuatnya terus meningkat permintaannya. “Usaha panganan khas Balikpapan yang terbuat dari bahan kepiting ini mulai saya geluti dua tahunan. Permintaan terus meningkat dari awal-awal pembuatan. Saya yakin, karena kepiting adalah khas Balikpapan dan akan menjadi favorit konsumen,” ungkapnya.
Rita menuturkan, dalam sebulan sambal yang dibuatnya sebanyak 150-200 botol, sementara botok kepiting dibuatnya sesuai dengan permintaan, mengingat botok tidak dapat tahan lama. Namun, dalam seminggu permintaan botok bisa mencapai 3-4 kali pembuatan dengan sekali pembuatan lebih dari 20 box. “Omzetnya lumayan untuk produk buatannya, karena permintaan terus meningkat,” tambahnya.
Rita menambahkan akan terus berinovasi dengan membuat produk-produk baru yang bahannya dari kepiting, sekaligus promosi untuk mempertahankan permintaan.
Jurnalis: Ferry Cahyanti/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ferry Cahyanti
