Gandjel Rel, Kue Khas Semarang yang Berjaya Waktu Dugderan

SABTU, 11 MARET 2017

SEMARANG — Tanyakan kepada warga Semarang tentang Gandjel Rel, mereka akan menjawab Dugderan, karena kue tersebut memang selalu menjadi ikon ketika acara Dugderan berlangsung. Gandjel Rel akan selalu diperebutkan oleh warga yang berdatangan.

Ku Gandjel Rel

Di Semarang, dugderan adalah sebuah karnaval untuk memperingati mulainya bulan Ramadhan. Berasal dari kata dug (suara bedug) dan der (suara petasan). Dalam acara tersebut, kue Gandjel Rel akan dibagikan secara massal di Masjid Agung Kauman.

Sejarah kue ini dimulai zaman kolonial Belanda. Pada waktu itu, kue tersebut adalah hidangan kelas atas yang sering dinikmati untuk menemani saat minum teh. Setelah kemerdekaan, resep kue ini disebarluaskan kepada masyarakat.

Menurut Owner Catering Minatani, Siti Ulfaati, kue tersebut dinamakan Ganjel Rel, karena bentuknya seperti pengganjal rel kereta api yang pipih memanjang, teksturnya alot, karena bahan aslinya terbuat dari campuran singkong, sementara fisiknya cenderung kasar, karena merupakan hidangan camilan menjelang makan malam. “Zaman sekarang, biasanya tekstur roti dibuat agak kenyal, agar lebih mudah digigit,” tutur Ulfa, saat ditemui, Sabtu (11/3/2017).

Lebih lanjut, Ulfa mengatakan, karena bentuknya yang agak alot tersebut, Ganjel Rel memang kurang diminati oleh warga Semarang. Karena itu, ia juga tidak setiap hari membuat kue tersebut, bahkan saat ini tidak semua toko menjual kue tersebut. Saat ini, Ganjel Rel hanya bisa ditemui ketika blusukan di Pasar Johar atau di beberapa toko kue tertentu. Permintaan baru akan mulai berdatangan ketika bulan Ramadhan, tiba.

Resep untuk membuat kue tersebut, sebenarnya cukup sederhana. Bahan-bahannya terdiri dari telur, gula pasir dan aren, margarin, susu bubuk, soda kue dan baking powder. Untuk menambah aroma dicampurkan kayu manis, sedangkan biji wijen ditaburkan di atas agar lebih sedap dilihat. “Untuk tekstur kekenyalan biasanya divariasi memakai singkong, agar keras atau tepung yang lebih lunak, semua tergantung keinginan konsumen,” ujar Ulfa.

Sementara untuk harga, wanita lulusan UIN Walisongo tersebut mengaku tergantung besarnya. Untuk ukuran 10 x 40 centi meter, dibanderol Rp35.00, sementara ukuran 20 x 50 dihargai Rp65.000. Bentuknya pun tidak selalu memanjang, terkadang ia juga mencoba bentuk lain seperti persegi dan bulat, semua tergantung cetakannya.

Siti Ulfaati

Walaupun tidak diproduksi setiap hari, tetapi Ulfa merasa beruntung sudah bisa membuat kue tersebut, karena selain untuk berbisnis dia juga punya impian agar kue khas Semarang tersebut tidak punah. “Biasanya kalau acara keluarga terkadang saya menyisipkan Ganjel Rel sabagai salah-satu hidangan,” tambah Ulfa, mengakhiri pembicaraan.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...