SELASA, 14 MARET 2017
LAMPUNG — Potensi hasil ikan tangkap perairan laut di wilayah Kabupaten Lampung Selatan terutama di wilayah perairan pantai timur cukup melimpah. Melimpahnya hasil perikanan tangkap di wilayah tersebut, membuat kreativitas masyarakat untuk meningkatkan nilai jual ikan semakin beragam. Sebab, penjualan ikan segar yang banyak dilakukan oleh nelayan di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Ketapang kerap tidak terserap pasar dan bahkan terkadang tidak habis terjual. Sebagian nelayan bahkan dengan kreatif mulai melakukan peningkatan nilai jual ikan dengan membuat ikan asin, teri kering, abon ikan serta sebagian perempuan nelayan di pesisir timur Lampung melakukan proses pengasapan ikan.
![]() |
| Rusmili dan anak-anaknya. |
Beberapa kelompok perempuan yang masih menekuni usaha pengasapan ikan di Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, di antaranya berada di Dusun Ketapang yang berada tak jauh dengan tempat pendaratan ikan Ketapang. Berdasarkan pantauan Cendana News setidaknya ada beberapa perempuan pengolah ikan asap yang ada di wilayah tersebut. Namun, akibat pasokan bahan baku yang terbatas, hanya ada satu pembuat ikan asap bernama Rusmili (44). Ibu rumah tangga kelahiran Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan tersebut mengaku, sejak tahun 2000 telah melakukan proses pengasapan ikan mewarisi keahlian pembuatan ikan asap yang dimiliki oleh generasi sebelumnya.
“Suami kebetulan berprofesi sebagai nelayan tradisional. Beberapa ikan yang tidak laku dijual sebagian saya asap, tapi lama kelamaan justru saya membeli jenis ikan yang bisa diasap karena justru ikan segar bernilai jual rendah. Sementara jika diasap harganya bisa beberapa kali lipat lebih tinggi,” ungkap Rusmili, salah satu pembuat ikan asap di Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang yang ditemui Cendana News tengah menyelesaikan proses pengasapan ikan di belakang rumahnya, Selasa (14/3/2017).
Warga RT 01 RW 02 tersebut mengungkapkan, jenis ikan yang diolahnya menjadi ikan asap di antaranya jenis ikan cucut, ikan pari, dan ikan sembilang yang merupakan jenis ikan laut. Ia juga kerap membuat ikan asap dari jenis ikan air tawar di antaranya ikan lele, ikan simbat, ikan sidat, serta beberapa jenis ikan tawar lainnya. Khusus untuk ikan laut, ia mengaku, selain sebagian merupakan hasil tangkapan suami, sebagian sengaja dibeli dari hasil tangkapan nelayan besar. Terutama untuk jenis ikan pari serta ikan jenis lainnya dengan harga mulai dari Rp10 ribu per kilogram hingga Rp15 ribu per kilogram.
Bersama pembuat ikan asap lainnya, Idun (34), ia bahkan kerap membeli secara bersamaan dan saat di rumah hasil pembelian tersebut dibagi dua dan diasap di rumah masing-masing. Khusus pekan ini, ia mengaku, dengan banyaknya pesanan dari para penjual ikan asap di pasar tradisional, ia membeli berbagai jenis ikan dominan ikan pari dengan jumlah sekitar 100 kilogram. Langsung direbus untuk menghilangkan bau amis dan setengah matang lalu diletakkan di atas penggarangan seperti mengasap kelapa kopra. Sebanyak 100 gram ikan pari segar yang dibelinya, bahkan sebagian telah selesai diasap. Langsung diletakkan di wadah khusus sebelum dijual ke pengepul di pasar.
Proses pengasapan yang dilakukan oleh Rusmili pun terbilang sederhana. Selain hanya menggunakan sabut kelapa kering, ia hanya sesekali membolak-balik daging ikan yang telah dipotong-potong dalam ukuran tertentu tersebut agar tidak gosong. Proses pengasapan yang masih menggunakan bahan bakar sabut kelapa tersebut, diakui oleh Rusmili, berlangsung selama hampir tiga jam lebih dengan menggunakan api sedang. Terbilang tidak mengeluarkan api pada bagian sabut kelapa untuk menghindari ikan yang diasap gosong.
“Intinya ikan ini memang tidak dipanggang melainkan diasap, saya harus rajin mengatur sabut yanbg terbakar agar hanya mengeluarkan asap saja jangan sampai api membesar,” ungkap Rusmili.
Wanita yang memiliki 3 orang anak, dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah dan satu di antaranya sudah menikah tersebut mengaku, menekuni usaha pengasapan ikan bersama perempuan lain di desa tersebut. Akibat tidak adanya pilihan pekerjaan lain. Meski demikian, berkat ketekunannya, ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga yang bungsu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dan dibiayai sebagian besar dari hasil produksi pembuatan ikan asap tersebut.
Permintaan akan ikan asap yang cukup tinggi, terutama dari pengepul maupun konsumen, membuat Rusmili per hari rata-rata bisa memproduksi sekitar 50-100 kilogram ikan asap. Sementara pada musim ikan jenis tertentu yang cocok dibuat ikan asap, ia bisa memproduksi lebih banyak. Jumlah yang banyak tersebut biasanya diolah dengan sistem “sharing” dengan beberapa perempuan pengolah ikan asap untuk mempercepat pengasapan dan saat proses penjualan dijual secara bersamaan. Proses pengasapan yang membuat ikan menjadi awet selama beberapa hari. Untuk pengasapan yang sempurna ikan bisa bertahan sepekan. Diakuinya hanya menggunakan bahan bakar sabut kelapa saja.
Meski membeli dengan harga murah untuk per kilonya, namun ia mengaku, setelah diasap jenis ikan asap yang dijual rata-rata memiliki harga yang cukup tinggi. Satu kilogram ikan asap jenis ikan pari di tingkat pengepul kini mencapai Rp30-35 ribu dan dijual ke konsumen dengan harga sekitar Rp50-65 ribu per kilogram. Ikan asap yang sebagian digunakan untuk campuran kuliner masyarakat tradisional nelayan tersebut, banyak diminati sebagai simpanan ikan yang bisa disantap sewaktu-waktu bersama sayuran lain serta bisa dibuat sambal.
Butuh Bantuan Permodalan dari Instansi Terkait
Rusmili dan beberapa pembuat ikan asap di Desa Ketapang mengaku, selama bertahun-tahun membuat ikan asap, permodalan diperoleh dari modal pribadi. Sementara untuk bantuan dari pemerintah terutama dari instansi terkait, ia mengaku, selama ini sama sekali belum memperoleh. Meski sudah banyak perempuan yang memiliki usaha serupa namun sebagian masyarakat di wilayah tersebut belum membentuk kelompok usaha sektor perikanan, khususnya perempuan pengolah ikan. Rusmili bahkan mengaku mengandalkan permodalan dari “bank keliling” atau koperasi kredit yang menawarkan bantuan dengan sistem pengembalian harian atau rentang beberapa hari.
Rusmili dan Idun yang masih menekuni usaha pengasapan ikan tersebut mengaku, meski terkendala permodalan namun tetap bertahan untuk bisa menjalankan usaha tradisional pembuatan ikan asap tersebut. Selain menjadi penopang keluarga dan bisa membantu suami, sektor usaha tersebut menjadi satu-satunya pekerjaan yang bisa dijalankan dengan mudah memperoleh bahan baku ikan mentah.
“Sebagian perempuan di desa kami ada yang bekerja menjadi pengupas kerang dan ada yang hanya menganggur di rumah. Tapi para pengolah ikan asap memang ingin mendapatkan tambahan uang dari mengolah ikan asap,” terang Idun yang juga pengolah ikan asap.
Terkait hal tersebut, Kepala Desa Ketapang, Hj. Sri Komala Dewi mengaku, mendukung sebagian warga terutama perempuan yang melakukan pengolahan ikan asap. Saat ini, ia mengaku, sebagian perempuan yang ada di desanya sebatas mendapat pelatihan tata cara pengolahan beberapa jenis ikan menjadi produk olahan dari ikan di antaranya bakso, mpek mpek serta kerupuk. Sementara untuk produksi ikan asap masih ditekuni oleh beberapa orang karena membutuhkan keahlian tertentu, meski hasil dari proses pengolahan ikan asap cukup menjanjikan.
![]() |
| Proses pengasapan ikan. |
Rusmili yang rata-rata per hari bisa menjual ikan asap berbagai jenis mengaku, memperoleh omzet sekitar Rp3 juta untuk 100 kilogram ikan asap dengan harga jual di tingkat pengepul sebesar Rp30.000 per kilogram. Namun, selain menjual ke pengepul, ia juga mengaku pada hari tertentu di antaranya Rabu, menjual sendiri ikan asap yang dijual di pasar tradisional Sri Pendowo. Hasil penjualan ikan asap sebagian digunakan untuk keperluan keluarga dan menabung serta membayar angsuran di tempatnya meminjam modal.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
