KAMIS, 9 MARET 2017
CIAMIS — Sejumlah pembudidaya ikan gurame di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengeluhkan kondisi cuaca yang tidak menentu selama beberapa pekan terakhir sehingga menyebabkan daya tahan bibit ikan gurami mereka menurun drastis.
| Sopyan Abdullah, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Gurami “Margo Gesang”. |
“Suhu yang tidak memenentu membuat daya tahan bibit ikan gurami turun dan mati,” kata Sopyan Abdullah (40), Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Gurami “Margo Gesang” di Dusun Ciparakan, RT 09 RW 04, Desa Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Kamis (09/03/2017).
Sopyan mengatakan, dampak paling buruk dialami pembudidaya bibit ikan gurami seperti dirinya karena kematian sangat massif. Ratusan bibit ikan yang ditangkarkan di kolam-kolam khusus mati mendadak dan sudah mengapung di permukaan saat pagi hari, begitu hujan reda.
“Volume kematian bisa mencapai di atas 50 persen. Padahal, di hari-hari biasa risiko kematian benih ikan berkisar antara 10 hingga 20 persen,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Muhlas Iskandar (45). Ia mengatakan, banyaknya kematian benih disebabkan karena kondisi cuaca yang tidak menentu.
Menurut Muhlas, risiko kematian bibit ikan meningkat saat air kolam banyak tercampur air hujan sehingga kandungan asam tinggi. Akibatnya, kata Muhlas, perbedaan suhu antara permukaan dan dalam air ekstrem.
“Air yang ada di saat hujan turun kolam masih hangat, kendati suhu ruang berubah menjadi dingin. Dengan kondisi semacam itu, membuat ikan yang memerlukan suhu air maupun ruangan hangat menjadi stres,” ujarnya.
Menurut Muhlas maupun Sopyan, kondisi ikan yang stres diperburuk dengan turunnya nafsu makan ikan yang biasanya berujung pada kematian.
“Risiko lain selain kematian, pertumbuhan ikan biasanya menjadi tidak serentak dan cenderung lama,” ujarnya.
Untuk meminimalisir ikan agar tidak mati, pihaknya berharap kepada Dinas Perikanan setempat untuk memberikan imbauan, arahan dan penanganan, kepada para pembudidaya ikan gurami secara berkala dalam menguras kolam penangkaran ikan, sehingga nilai kerugian dan kebangkrutan yang diderita para pembudidaya ikan gurami ke depan bisa diminimalisir.
Jurnalis: Baehaki Efendi / Editor: Satmoko / Foto: Baehaki Efendi