LAMPUNG — Usaha kecil nelayan sektor ikan tangkap di wilayah perairan pantai timur Lampung Selatan yang terpengaruh perubahan musim bulan purnama, berimbas tidak melautnya sejumlah nelayan. Namun, bagi sejumlah nelayan tangkap tradisional di sepanjang perairan Kecamatan Ketapang, kondisi tersebut menjadi kesempatan untuk melakukan penangkapan ikan jenis pepirik atau pepetek di sepanjang perairan dangkal menggunakan teknik jaring.
![]() |
| Pembudidaya ikan sedang menyiapkan pasokan ikan. |
Menurut salah satu nelayan, Sumadi (34), jenis ikan pepirik yang kerap digunakan sebagai bahan baku pembuatan ikan asin, saat ini mengalami penurunan harga sekitar Rp1.000 per kilogram. Dalam sehari, Sumadi mengaku berhasil memperoleh ikan jenis pepirik hingga mencapai 300 kilogram dan dikirim ke pengepul pembuatan ikan asin.
Sumadi yang biasa melakukan aktivitas mencari ikan hingga beberapa mil dari pantai, pada saat terang bulan memilih mencari ikan di sepanjang perairan pantai dengan hanya mengandalkan jaring. Hasil yang diperolehnya dengan mencari ikan jenis pepirik ini, diakuinya, tidak begitu besar dibandingkan dengan mencari ikan jenis lain di antaranya ikan kembung, tongkol, kacangan serta ikan cumi yang dihargai cukup tinggi. Meski demikian, dalam kondisi musim bulan purnama, saat sejumlah nelayan memilih istirahat, ia mengaku, masih bisa memperoleh hasil cukup lumayan dalam sehari dengan jumlah mencapai 300 kilogram dengan uang diperoleh mencapai Rp300 ribu.
“Kalau dibandingkan dengan hanya menganggur mencari ikan jenis pepirik ini sangat menguntungkan. Terutama karena pencarian ikan hanya dilakukan di pinggir pinggir perairan dangkal dan bermodalkan jaring jenis payang sembari menggiring ikan, hasilnya lumayan,” terang Sumadi yang menjual ratusan kilogram ikan jenis pepirik tersebut kepada Samsu Alam, salah satu pembuat ikan asin dan teri di pesisir Kecamatan Ketapang, Selasa (14/3/2017).
Para nelayan baru akan kembali melaut saat bulan purnama mulai tenggelam dalam jangka beberapa hari ke depan sehingga aktivitas melaut bisa kembali berjalan dengan normal. Sebagian nelayan yang tidak melaut memilih menyandarkan perahunya sembari memperbaiki peralatan tangkap yang akan dipergunakan untuk melaut beberapa hari kemudian. Sumadi yang masih terus melakukan aktivitas mencari ikan jenis pepirik tersebut, bukan tanpa alasan mencari ikan, sebab dirinya mencari ikan jenis pepirik dengan banyaknya permintaan akan pakan ikan jenis kerapu (groupers) yang dibudidayakan oleh para pembudidaya ikan kerapu di Provinsi Banten.
Samsu Alam (37), sebagai salah satu pengepul ikan pepirik untuk bahan pakan ikan kerapu mengaku, jumlah permintaan yang tinggi akan bahan pakan ikan kerapu membuat dirinya masih tetap menerima nelayan yang menjual kepadanya. Ia bahkan mengungkapkan, selama ini ikan jenis pepirik atau pepetek kerap digunakan sebagai bahan baku pembuatan ikan asin. Namun, tidak sebandingnya biaya produksi, harga jual yang murah, biaya operasional pengolahan belum termasuk harga garam yang mulai merangkak naik, membuat ia tak lagi memproduksi ikan asin dari bahan ikan pepirik.
Proses pembuatan ikan asin yang masih memerlukan bahan bakar kayu, bahan pengawet garam, serta tenaga kerja yang dipekerjakan, diakui Samsu Alam, kerap tak sebanding dengan harga jual. Ia bahkan menyebut, harga bahan baku pengawet berupa garam yang didatangkan dari Pulau Jawa saat ini untuk satu kuintal atau 100 kilogram dibelinya dengan harga Rp1 juta dengan harga per kilogramnya mencapai Rp1.000. Biaya operasional tinggi untuk proses pembuatan ikan asin belum termasuk hambatan kondisi cuaca yang kerap hujan sehingga berimbas pengeringan tidak sempurna. Berakibat ikan asin miliknya banyak yang busuk, membuat Samsu Alam mencari pangsa pasar baru.
Pangsa pasar baru ikan pepirik, diakui Samsu Alam, dengan adanya pesanan dari para pembudidaya ikan jenis kerapu di perairan Serang, Anyer, Provinsi Banten. Ia bahkan mengungkapkan, peluang permintaan akan pakan ikan kerapu yang merupakan ikan budidaya berharga tinggi dan menjadi komoditas ekspor ke negara Taiwan, China dan Hongkong tersebut, membuat dirinya tak lagi menggunakan ikan pepirik sebagai bahan baku ikan asin dan menjualnya ke pembudidaya ikan kerapu. Ikan pepirik yang dalam perhitungan Samsu Alam untuk per kilogramnya dibeli dengan harga Rp1.000, dijual ke pemilik ikan kerapu dengan harga Rp2.500-3.000 per kilogram.
“Selain lebih cepat, pemasaran dan permintaan yang tinggi, selain dari pembudidaya kerapu luar Lampung, permintaan akan ikan pakan kerapu ini juga mulai datang dari wilayah Lampung yang juga dikenal sebagai sentra budidaya kerapu,” terang Samsu Alam, salah satu pengusaha ikan asin di Ketapang.
Jumlah permintaan akan pakan ikan kerapu dari para pembudidaya, diakuinya, tergantung permintaan. Bahkan, ia menyebut, dalam sepekan ia ditarget bisa mengirimkan ikan jenis tersebut sebanyak 2,5 ton. Untuk sekali pengiriman dengan jumlah sekitar 300 kilogram saja, ia memperoleh omzet sekitar Rp750.000 sekali pengiriman atau sekitar Rp6.250.000 per bulan dari usaha menjual ikan pepirik sebagai bahan pakan untuk budidaya ikan kerapu. Sistem Keramba Jaring Apung (KJA) di lokasi pembudidayaan ikan kerapu di Serang Banten yang dibudidayakan di antaranya jenis kerapu macan, kerapu bebek, kerapu cantang dan kerapu tikus.
Meski demikian, Samsu Alam mengaku, masih terus mencari pangsa pasar lain untuk siap disetori ikan jenis pepirik yang mulai banyak diminati para pembudidaya ikan kerapu. Selain menekuni usaha pengiriman pakan ikan yang dikemas dalam box khusus berpendingin dengan jasa ekspedisi tersebut, Samsu juga tetap menekuni usaha pembuatan ikan asin dengan bisa mempekerjakan beberapa karyawan. Warga asal Desa Berundung Kecamatan Ketapang tersebut juga mengaku, saat ini selain membuat ikan asin dirinya juga masih terus melakukan produksi teri kering.
“Karena bahan baku teri untuk pembuatan teri kering masih cukup susah diperoleh, saya memiliki upaya lain agar tetap bisa membayar karyawan dan beruntung permintaan ikan jenis pepirik terus meningkat,” ungkapnya.
![]() |
| Samsu Alam. |
Sektor usaha perikanan dengan beberapa jenis di antaranya pembuatan ikan asin, pengepul kerang, penjualan ikan pepirik untuk bahan pakan ikan Kerapu tersebut, juga menjadi perhatian Kepala Desa Ketapang, Hj. Sri Komala Dewi. Ia menegaskan, sebagai desa yang memiliki batas laut dan sebagian warganya berprofesi sebagai nelayan, sektor usaha kreatif tersebut terus didukung oleh pihak desa. Meski demikian, menurut Sri, kesulitan nelayan untuk memperoleh bantuan permodalan untuk memperlancar usaha masih menjadi kendala. Saat ini, Kepala Desa Ketapang tersebut bahkan mengaku fokus pembangunan di Desa Ketapang masih terbatas infrastruktur sehingga untuk pengembangan usaha nelayan masih memerlukan penanganan lanjutan.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
