Melihat Gubernur Jateng ‘Berubah’ Jadi Semangka

SABTU, 4 MARET 2017

SEMARANG — Tangannya tampak lihai menggores semangka sambil sesekali melihat foto yang dipasang di depan sebagai modelnya. Setelah itu dirinya sibuk memilih ukuran pisau untuk dicocokkan dengan ketebalan kulitnya. Tak butuh waktu yang lama sebuah desain unik wajah Ganjar Pranowo beserta istri tercinta, Siti Atiqoh Supriyanti telah selesai menghiasi kulit Semangka. Hasilnya langsung diapresiasi oleh orang nomor satu di Jateng tersebut ketika mengunjungi Stand Indonesia Chief Asociation (ICA) Jateng di Festival Buah Jateng 2017 yang diadakan di halaman Gedung Grahardika.

Aprianto dengan Fruit Carving Semangka bergambar wajah Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan istrinya, Siti Atiqoh Supriyanti

Menurut salah satu pengurus ICA Jateng, Aprianto sejarah Fruit Carving berasal dari negeri Thailand sekitar tahun 1.300-an ketika zaman Nang Noppamart. Raja tersebut sangat mencintai keindahan sehingga semua hidangan yang disajikan kepadanya harus terlihat mempesona, akhirnya pelayannya banyak yang berkreasi mengukir buah-buahan agar bisa memuaskan selera Raja Nang, sejak saat itulah Fruit Carving menyebar ke seluruh dunia.

Di Indonesia seni Fruit Carving paling banyak berkembang di Bali dikarenakan di negeri seribu pura tersebut banyak diadakan kegiatan ritual keagamaan, bahkan seni ini sudah masuk ke dalam mata kuliah di Universitas Udayana. Sementara di Pulau Jawa hiasan ini banyak dipakai di dekorasi pesta pernikahan, arisan dan hajatan keluarga.

“Buah yang akan diukir tidak bisa sembarangan, biasanya berbentuk bulat dan tekstur kulitnya agak lunak seperti semangka, buah naga, labu, wortel dan tomat,” ujar Aprianto saat ditemui CDN (04/03/2017).

Untuk menghias buah hingga jadi sangat tergantung tekstur buah dan keahlian tangan, bagi para pemula yang baru belajar bisa membutuhkan waktu berhari-hari dengan resiko kegagalan karena kulit buah yang sudah terpotong tidak bisa disambung lagi, tetapi bagi chief yang sudah professional bisa selesai hanya dalam hitungan jam.

“Total waktu yang saya perlukan untuk membuat wajah pak Ganjar dan istrinya sekitar empat sampai lima jam,” terangnya.

Sementara itu pengurus ICA Jateng lainnya, Aryo Kusmana mengatakan, saat ini organisasinya sedang mengembangkan teknik dasar Fruit Carving agar masyarakat bisa mempelajarinya dengan sederhana sebagai awalan. Apalagi di Jateng sendiri potensi buah-buahan yang bisa dijadikan sebagai dasar Fruit Carving melimpah ruah, hal ini juga sekaligus untuk mempromosikan buah-buahan lokal.

“Saat ini kami belum berniat mengkomersilkan Fruit Carving, lebih fokus ke berbagi ilmu tentang kreasi buah-buahan dulu,” tambah Aryo

Pengurus Ica Jateng sedang menerangkan Fruit Carving kepada masyarakat

Didirikan pada pada tahun 2008, saat ini anggota ICA Jateng sudah mencapai 582 orang. Membershipnya tidak hanya terdiri dari koki professional saja, tetapi banyak juga dari pebisnis dan pecinta kuliner. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, seringkali ICA Jateng dilibatkan oleh pemerintah provinsi ketika ada festival kuliner. Mereka juga aktif menyosialisasikan ke masyarakat cara hidup sehat dengan makanan yang alami.

Pada bulan April 2012, ICA Jateng ikut mempopulerkan Lumpia sebagai makanan khas Kota Semarang dengan memecahkan rekor MURI membuat Lumpia yang panjangnya mencapai 465 meter dengan diameter 5 cm. Lumpia tersebut dibuat dengan menggandeng 500 orang juru masak menghabiskan 13 ribu lembar kulit lumpia asli dan 1 ton rebung untuk isinya.

Jurnalis : Khusnul Imanuddin / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Khusnul Imanuddin

Lihat juga...