Kue Pinukuik Batang Kapeh, Oleh-oleh Khas dari Jalur Lintas Sumatera

SABTU, 11 MARET 2017

PADANG —  Provinsi Sumatera Barat yang terdiri dari 19 kabupaten dan kota, menyimpan banyak rasa kuliner yang benar-benar khas olahan sendiri, dan tidak akan pernah ada ditemukan di daerah lainnya.

Salah seorang pekerja tengah memasak kue Pinukuik milik Etek Enggi.

Seperti halnya di Kabupaten Pesisir Selatan, Kecamatan Batang Kapas, ada suatu tempat yang berada di Jalan Raya Pasar Kuok, yang merupakan Jalur Lintas Sumatera, Sumatera Barat – Bengkulu – Jambi itu, terdapat sebuah kedai yang khusus menjual kue atau makanan yang disebut Pinukuik. Karenakan hanya ada di Kecamatan Batang Kapas, orang-orang lalu menyebutnya Pinukuik Batang Kapeh. Kue Pinukuik ini bentuk tampilannya memang tidak semewah masakan Eropa. Tapi, soal rasa belum tentu kalah. Pinukuik ini dibuat dengan bumbu alami dan dimasak tidak menggunakan api.

Etek Enggi yang merupakan peracik Pinukuik Batang Kapeh, menjelaskan, untuk membuat Pinukuik tersebut tidak terlalu sulit, karena bahan utamanya ialah parutan kelapa sedang, dan bukan kelapa tua, yang dicampur dengan tepung, tapai, dan juga panili. “Hanya itu saja bahan-bahannya, soal kecocokan rasanya, di sinilah kuncinya dan itu hanya lidah saya yang menentukan, apakah adonan sudah pas atau belum,” jelasnya, Sabtu (11/3/2017).

Ia menyebutkan, untuk memasak Pinukuik itu, tidak di atas kobakaran api seperti memasak sambal rendang. Tapi, di atas hangatnya bara api dari sabuik (sabut/kulit kelapa tua) yang telah dibakar. Tempat memasaknya pun berbeda, yakni sebentuk kuali kecil yang berukuran khusus untuk memasakan Pinukuik. “Dikarenakan dari sabuik, maka saat memasak Pinukuiknya akan banyak asap, tapi bukan berarti kuenya akan rasa asap, ya,” tegas Etek Enggi.

Hanya butuh waktu sekira 5 menit, adonan Pinukuik itu sudah bisa disajikan, dan siap disantap. Harganya pun tidak terlalu mahal, hanya Rp1.000 untuk satu buah Pinukuik. Tapi, jika dibeli berdasarkan jumlah uang, misalnya Rp5.000, maka penjualnya akan memberi 6 buah Pinukuik, begitu kelipatan selanjutnya. “Saya memulai usaha ini sejak 1989. Ketika itu, tidak begitu banyak pelanggan atau pembeli, karena dulu itu kue Pinukuik ini juga banyak dijual di daerah Pesisir Selatan. Namun, seiring waktu, di tempat-tempat lainnya tidak lagi menjual kue Pinukuik, dan saya pun tetap bertahan menjual kue ini, buktinya alhamdulillah saya banyak pelanggan,” ujarnya.

Pelanggan Pinukuik Etek Enggi itu tidak hanya dari masyarakat atau warga yang melintasi Jalan Raya Pasar Kuok saja, tetapi sejumlah pejabat daerah di Pesisir Selatan juga sering membeli kue Pinukuik buatan Etek Enggi.

Kue Pinukuik setelah dimasak dan siap untuk disantap

Untuk melayani pembeli, Etek Enggi menyediakan 6 tungku pemasak kue. Buka setiap hari, mulai dari pukul 07.00 WIB hingga sore hari pukul 16.00 WIB, dan tergantung cepat atau lamanya kue Pinukuiknya habis.

Sementara itu, salah seorang pembeli yang datang dari Provinsi Bengkulu, Mela, menceritakan, kue Pinukuik yang dijual Etek Enggi itu memang sangat lezat. Rasanya sangat lembut di lidah saat dinikmati, apalagi rasa kelapa sedangnya sangat terasa dan ditambah dengan rasa tapai. “Selain tidak terlalu mahal, kue ini enak, dan bisa dijadikan oleh-oleh karena kuenya tidak akan basi selama seharian, meski bahannya dari kelapa,” ujarnya.

Mela mengakui, setiap melewati Batang Kapas, ia selalu singgah untuk membeli Pinukuik sebagai oleh-oleh yang dibawanya ke Kota Padang. Hal ini mengingat, Pinukuik itu hanya ada di Batang Kapas, dan tidak akan ada di daerah lainnya, termasuk di Sumatera Barat.

Sedangkan di Kecamatan Sutera dan masih di Kabupaten Pesisir Selatan, juga menjual jenis kue yang sama. Memang baru didirikan, namun pelanggannya pun masih merupakan masyarakat sekitar, yang terget pasarnya ialah petani yang di pagi hari butuh sarapan pagi, sebagai pencampur minum kopi atau teh. Soal rasa, memamg tidak jauh berbeda, hanya saja di antara kedua peracik kue Pinukuik itu, memang memiliki keunikan rasa tersendiri.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Muhammad Noli Hendra

Lihat juga...