RABU, 8 MARET 2017
MAUMERE — Kain tenun ikat dalam masyarakat Kabupaten Sikka merupakan sebuah karya tangan para perempuan yang tekun memintal benang, mengikat, mencelup hingga menenunnya menggunakan alat tenun tradisional sampai menghasilkan sebuah lembar kain tenun.
![]() |
| Theresia Nona Ice Muda saat menenun kain tenun motif tradisional. |
Bagi masyarakat Sikka, kain tenun selalu dipergunakan sebagai pakaian adat. Saat digelarnya ritual adat juga dikenakan saban hari di rumah ataupun saat menghadiri pesta, ke rumah ibadah, rumah duka dan penguburan orang meningal dan kegiatan lainnya di luar rumah.
Di Sikka masih dengan mudah mendapatkan kain-kain tenun yang dijajakan di pasar-pasar tradisional dan pasar modern seperti di Kota Maumere dan di beberapa gerai khusus penjualan kain tenun dengan motif beraneka ragam baik tradisional maupun modifikasi.
Kembang Sutra yang beralamat di RT 1 RW 05 Kelurahan Nangalimang Kecamatan Alok Kabupaten Sikka merupakan salah satu perkumpulan, kelompok para perempuan yang tetap setia menenun untuk mempertahankan warisan budaya ini dan juga menghasilkan uang untuk membiayai kehidupan.
Pertahankan Kualitas
Yohana Dua Bela, Ketua Kelompok Kembang Sutra saat ditemui Cendana News Rabu (8/3/2017) di rumahnya berbicara panjang lebar tentang kelompok perempuan penenun yang sudah terkenal di Kabupaten Sikka. Kelompok Kembang Sutra, sebut Yohana, didirikan tahun 1991 setelah Dinas Perindustrian Kabupaten Sikka akan memberikan bantuan mulai dari alat tenun, benang dan obat pewarna asal para penenun bergabung dalam kelompok.
“Kelompok ini terbentuk tahun 1991 difasilitasi oleh Dinas Perindustrian Kabupaten Sikka dengan anggota 16 orang dan setelah banyak anak perempuan putus sekolah saya ajak bergabung sehingga jumlah anggotanya mencapai 60 orang,” terangnya.
Pada tahun 1992 kelompok ini mengikuti lomba antar kelompok tenun di provinsi NTT terkait Gugus Kendali Mutu dan Kembang Sutra meraih juara dua dan raihan prestasi ini melecut anggota kelompok untuk terus mengembangkan keterampilan tangan demi menghasilkan sebuah kain tenun yang berkualitas.
Buah kerja keras ini membuat kelompok tenun Kembang Sutra sudah terkenal di seantero Kabupaten Sikka. Kelompok ini tetap mempertahankan kualitas berkat ilmu tentang gugus kendali mutu yang diajarkan Dinas Perindustrian Sikka sehingga kain tenunnya tidak luntur dan tetap mempertahankan motif tradisional asli seperti Gabar, Mawarani, Naga Lalang, Pedang Puhun, Rente, Koja Role, dan lainya.
Kain tenun yang dihasilkan kelompok ini, kata Yohana, memiliki lebar 80 sentimeter dengan panjang 2,5 meter. Sebab kalau lebih lebar kainnya susah ditenun. Panjang kain bisa ditambah sesuai permintaan, tetapi dengan ukuran ini sudah dicoba dan bisa menghasilkan sebuah baju.
“Pekerjaan pokok kami menenun untuk menambah penghasilan keluarga dan kami lebih banyak mendapat pesanan orang hingga puluhan lembar sekali beli. Saat ini hampir semua perempuan di Kelurahan Nangalimang bisa menenun dan dasar menenun didapat dari kelompok ini,” terang Yohana.
Terkendala Pemasaran
Theresia Nona Ice Muda, salah seorang aggota kelompok Kembang Sutra, menjelaskan, dulu setelah diikat anggota datang ke rumah ketua kelompok untuk mencelup sehingga kualitasnya terjaga. Tapi saat ini anggota sudah mencelupnya di rumah masing-masing sehingga kadang sulit dikontrol kualitasnya.
Anggota kelompok sekali datang mengambil benangnya cukup untuk dua kain tenun dan selembar dijual sendiri sedangkan selembarnya diberikan ke kelompok untuk dijual agar dananya untuk membeli benang dan obat celup dan kembali dibagikan ke anggota.
“Saat ini banyak anggota yang sudah bisa tenun sehingga mereka menenunnya sendiri tapi saat ada pertemuan mereka tetap datang menghadiri,” tuturnya.
Masalah klasik yang dihadapi setiap kelompok tenun di Sikka juga dihadapi Kelompok Kembang Sutra, yakni masalah pemasaran hasil produksinya. Kalau benang dan obat pewarnanya tidak susah memperolehnya.
“Kalau tidak ada pesanan kami kadang menjual sendiri di Pasar Alok, Nita dan Geliting. Kalau lagi butuh uang untuk keperluan sehari-hari atau menyekolahkan anak anggota biasa melepas selembar kain tenun dengan harga Rp400 ribu,” terangnya.
![]() |
| Yohana Dua Bela (kanan) bersama Theresia Nona Ice Muda sedang memperlihatkan kain tenun motif tradisional buah karya Kelompok Kembang Sutra. |
Bila musim penghujan, beber Theresia, kain tenun susah sekali terjual sedangkan setelah bulan Mei biasanya penjualannya mulai laris sebab banyak yang mengurus pernikahan dan kain tenun kerap dipakai untuk hantaran belis atau mahar perkawinan serta pemberian dari keluarga perempuan kepada keluarga lelaki sebagai balasan hantaran yang dibawa.
Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary
