JUMAT, 3 MARET 2017
LAMPUNG — Proses pembuatan tempe yang ditekuni oleh Ahmad (34) dan Ansor (32) masih terus berproduksi di salah satu sentra pembuatan tempe di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. Ahmad mengaku dengan bahan baku kedelai yang masih bisa diperoleh dari distributor di pasar Kalianda, dirinya masih tetap bisa melakukan proses pembuatan tempe dan tahu. Meski dominan tempat pembuatan makanan tradisional berbahan baku kedelai tersebut lebih banyak membuat tempe dengan perbandingan 60:40. Sebagian kedelai ukuran 100 kilogram sebanyak 60 kilogram menjadi tempe dan 40 kilogram menjadi tahu. Proses pembuatan tempe dan tahu juga masih dilakukan dengan sistem manual dan dikerjakan bersama sekitar 3-4 karyawan yang ikut membantu membuat tempe dan tahu.
![]() |
| Ahmad menunjukkan kedelai untuk pembuatan tempe dan tahu. |
Ahmad mengungkapkan, saat ini bahan baku kedelai masih mudah diperoleh meski merupakan kedelai impor dengan harga Rp 7.500 per kilogram. Dirinya mengakui pada saat masa sulit memperoleh kedelai, bahan baku tersebut diperoleh dengan harga sekitar Rp 9.000 per kilogram. Kendala pasokan bahan baku tersebut, diakui oleh Ahmad kini sudah tak lagi menjadi kesulitan bagi perajin tempe dan tahu seperti dirinya, karena pemasok skala besar bisa menyokong untuk bahan baku tempe dan tahu tersebut.
“Sekarang sudah mulai mudah memperoleh bahan baku tapi kendala yang kami hadapi soal pemasaran karena saat ini mulai banyak pembuat tempe dari wilayah lain yang juga membuat tempe. Karenanya kami harus menjaga kualitas tempe yang kami buat dengan sistem pembungkusan menggunakan plastik,” ungkap Ahmad, salah satu pembuat tempe tradisional di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Jumat (3/3/2017).
![]() |
| Kedelai. |
Sistem pemasaran yang dilakukan oleh Ahmad dan Asror sebagai perajin tempe selama ini dilakukan sebagian besar dengan melakukan sistem menitipkan pada sejumlah warung dan menjual ke pasar. Sementara itu, Ahmad mengungkapkan, dengan kapasitas produksi yang tetap ia sulit melakukan penambahan jumlah produksi karena pelanggan pada sejumlah warung juga tidak mengalami penambahan. Ia bahkan mengakui pelanggan terbesar justru dari sejumlah warung gorengan yang menjual tempe goreng, pisang goreng dan sejumlah warung sekolah.
Ia mengaku sangat terbantu dengan distribusi yang lancar dan permintaan yang tinggi dari para pedagang gorengan terutama saat hari sekolah karena produksi akan tempe sebagian diserap oleh pedagang gorengan tersebut. Selain itu proses pembuatan tempe dan tahu dilakukan menyesuaikan dengan hari pasaran sejumlah pasar tradisional selama sepekan karena isterinya, Anminah (30), ikut mendistribusikan produksi tempe dan tahu dengan melakukan penjualan langsung di pasar tradisional. Rata-rata dijual ke sejumlah pedagang sebanyak 100 hingga 200 bungkus untuk dijual kembali. Tempe yang dibungkus dengan plastik tersebut dijualnya ke pengecer dengan harga Rp 4.000 untuk sebanyak 3 bungkus dan dijual ke konsumen dengan harga Rp 5.000 per tiga bungkus.
![]() |
| Kedelai yang telah direbus, diberi ragi dan siap dibungkus. |
“Meski terus berproduksi tapi pada saat-saat tertentu permintaan akan tempe juga terkadang menurun terutama menjelang bulan puasa Ramadhan karena konsumsi akan tempe bergeser ke lauk lain,” ungkap Ahmad.
Selain tidak bisa meningkatkan jumlah produksi tempe dan tahu karena menyesuaikan permintaan, Ahmad mengaku pangsa pasar tempe dan tahu masih terbatas. Ia bahkan menyebut hampir di setiap kecamatan selalu ada perajin tempe sehingga jarang pembuat tempe bisa menjual ke luar wilayah terutama di wilayah yang juga memiliki perajin tempe. Selain itu kendala lain yang dihadapi Ahmad di antaranya naik turun (fluktuasi) harga kacang kedelai. Saat harga bahan baku pembuatan tempe dan tahu berupa kacang kedelai melambung, ia mengaku tidak serta merta bisa menaikkan harga tempe dan tahu seperti komoditas lain.
“Kalau menaikkan harga bisa bisa pelanggan lari dan menjadi kesempatan bagi perajin tempe lain yang berani harga rendah, kami biasanya menyiasati dengan memperkecil ukuran,” ungkap Ahmad.
![]() |
| Kedelai yang telah dibungkus menunggu proses fermentasi sebelum jadi tempe. |
Ahmad bahkan mengaku tetap selalu memantau harga kedelai dari distributor untuk melihat perubahan harga. Sebab, ia mengakui, pergerakan harga kedelai bisa terjadi dalam sepekan dan berubah sewaktu-waktu. Ia bahkan terkadang menyimpan bahan baku kedelai hingga 5 kuintal per minggu mengantisipasi kenaikan harga kedelai yang bisa berubah sewaktu-waktu. Ia mengungkapkan, harga kedelai yang saat ini berada di bawah Rp 8.000 terbilang landai dan bisa menyokong sektor usaha kecil seperti dirinya.
“Saat musim hujan juga menjadi kendala bagi kami karena distribusi yang bisa terlambat di antaranya saat pengiriman kedelai dan juga mengirim tempe ke pedagang yang kadang terlambat,” ungkapnya.
Ia juga mengaku dengan sistem pembuatan tempe tradisional tersebut, dirinya masih mengandalkan tempat usaha dengan sistem menyewa di lokasi yang strategis dekat dengan sumber air serta aliran air. Saat ini, ia mengaku, masih mengandalkan uang pinjaman dari bank swasta untuk menjalankan produksi tempe dan tahu dengan harapan bisa memperluas usaha tersebut sekaligus memiliki tempat usaha tetap yang dimiliki sendiri tanpa harus menyewa. Kendala permodalan, diakuinya, masih menjadi kendala terutama dengan persyaratan yang cukup rumit untuk meminjam pada bank pemerintah. Ia bahkan mengungkapkan, dengan modal pinjaman dari keluarga dan bank swasta, membuatnya masih bisa melangsungkan usaha pembuatan tempe miliknya.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi


