Budi Daya Tanaman Langka Beromzet Satu Miliar di Dusun Kebun Kliwon

JUMAT, 3 MARET 2017

MAGELANG — Sekilas jika melihat kondisi Dusun Kebun Kliwon memang terlihat sederhana. Di dusun yang menempuh waktu 30 menit dari Candi Borobudur tersebut, suasananya terlihat tenang. Tetapi cobalah berjalan ke kebun di belakang rumah warga, akan tampak serombongan orang yang sedang riuh-rendah mengobrol di dekat tanaman yang berjejer. Pembicaraannya terlihat serius karena sedang melakukan transaksi harga dengan nominal fantastis. Mereka adalah kolektor yang sedang berburu tanaman langka Pohon Tin.

Khoirul Saleh, Ketua Komunitas Kebun Kliwon Figs.

Ketika ditemui CDN (03/03/2017) di rumahnya, Ketua Komunitas Kebun Kliwon Figs, Khoirul Soleh (42) menerangkan, bahwa dalam sehari biasanya sekitar empat sampai lima kolektor tanaman yang datang ke rumahnya untuk bertransaksi pohon Tin. Mereka datang tidak hanya dari Magelang, tetapi juga dari seluruh Indonesia, bahkan dari luar negeri.

“Pohon Tin yang paling banyak dicari, untuk ukuran satu setengah meter harganya empat puluh juta,” kata Khoirul.

Menurut Khoirul, pemesan pohon Tin juga banyak yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tertarik untuk membelinya karena keistimewaan pohon tersebut namanya tercantum dalam surat At-Tin di Al-Quran. Iklim di Kebun Kliwon juga dianggap mendukung pertumbuhan pohon tersebut. Musim kemarau adalah musim yang dianggap cocok untuk membudidayakan pohon Tin karena untuk merawatnya harus disiram secara teratur. Sedangkan ketika musim hujan datang, Khoirul dengan dibantu tiga orang karyawannya akan memasang plastik agar pohon tersebut tidak terkena langsung air hujan dalam skala yang besar.

Pohon Tin yang siap diekspor ke Malaysia.

Ditanya mengenai keuntungan yang diperoleh ketika membudidayakan tanaman langka, dia mengakui tidak pernah menghitungnya secara detail, tetapi dalam sebulan dirinya bisa mengirim tiga truk ke luar desa dengan omset Rp. 15 juta untuk sekali pengiriman. Karena keuntungan yang didapat lumayan besar, di Dusun Kebun Kliwon tidak ada pemuda yang merantau ke luar daerah untuk mencari pekerjaan.

Selain Pohon Tin, warga Dusun Kebun Kliwon juga membudidayakan pohon anggur Brazil yang dijual Rp 350 ribu per pohon. Menurut Khoirul, transaksi tanaman langka yang pernah dicatat BRI Magelang tahun 2016 bisa mencapai satu milliar per tahun.

Sementara itu, pembudidaya tanaman langka lainnya, Budi Setiadi (47) menjelaskan, walaupun perputaran uangnya besar, seringkali dirinya tidak bisa memenuhi permintaan kolektor karena bibitnya masih tergolong langka. Saat ini dirinya masih mengimpor bibitnya dari luar negeri, sehingga seringkali dia harus membuat waiting list untuk memenuhi keinginan pelanggannya.

Budi Setiadi.

“Terkadang pembeli sudah jauh ke sini pada kecewa karena stoknya sedang habis, karena itu biasanya saya memasukkannya ke dalam daftar tunggu,” ujar Budi yang juga menekuni budi daya Durian Musangking yang dibanderol Rp.150 ribu per buah.

Selain bibit, permasalahan lainnya yang sering timbul adalah prosedur ekspor yang dianggap memakan waktu lama, karena tanaman langka tidak akan bisa bertahan lama jika dicabut dari tanah, tingkat keasaman tanah saat berada di pot akan menurun jauh jika dibandingkan tanah yang ada di kebun. Karena itu dia meminta agar memberi perlakuan khusus bagi kebijakan ekspor tanaman langka.

“Seringkali dari kami harus rugi karena tanaman tersebut layu sebelum sampai tujuan, biasanya tertahan lama di pelabuhan dalam keadaan gelap,” pungkas Budi.

Ke depan, bersama dengan pembudidaya tanaman langka lainnya, dia berencana untuk membuat koperasi sehingga bisa mendapat akses informasi yang banyak mengenai aturan ekspor tanaman langka. Selain itu mereka juga ingin bekerjasama dengan pengelola Borobudur untuk bisa memasarkan tanaman tersebut di sekitar candi yang termasuk salah satu tujuh keajaiban dunia tersebut.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...