BANTUL — Sebagai salah satu desa binaan Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) sekaligus desa pertama penerima program pendampingan Desa Damandiri Lestari, Desa Trirenggo Bantul memiliki bermacam potensi yang bisa dikembangkan. Potensi desa yang terletak di pusat ibu kota kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Bantul ini sangat beragam. Baik itu di bidang pertanian, peternakan, kuliner, kerajinan dan industri rumah tangga, pariwisata hingga kesenian dan tradisi budaya.
![]() |
| Kepala Desa Trirenggo Bantul, Munawar. |
Kepala Desa Trirenggo Bantul, Munawar, menyebutkan, Desa Trirenggo memiliki luas wilayah 6,1 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sebanyak 17.955 orang. Terbagi dalam 17 pedukuhan, Desa Trirenggo memiliki sebanyak 4.980 KK dengan kepadatan penduduk 2.943 jiwa per kilometer persegi dan kepadatan keluarga sebesar 816 KK per kilometer persegi.
Dari total jumlah penduduk, tercatat ada sebanyak 5.772 penduduk dengan usia produktif. Mayoritas penduduk Desa Trirenggo sendiri merupakan petani dan buruh tani yaitu sebanyak 1.627 orang dan sisanya bekerja sebagai tukang, perajin, wiraswasta, PNS, ABRI, hingga pegawai swsasta.
Dari total luas wilayah sebesar 610 hektar, sekitar 35 persen luas wilayah Desa Trirenggo yakni 251 hektar merupakan lahan tanah persawahan yang ditanami padi dan palawija dengan rata-rata 1 orang petani menggarap 500-1.500 meter persegi. Terdapat sebanyak 1 gabungan kelompok tani, 15 kelompok tani dan 18 kelompok ternak di desa dengan 17 pedukuhan ini.
Dengan visi makaryo mbangun deso menuju masyarakat cerdas, sehat, agamis, dan realistis, Munawar mengaku bertekad meningkatkan ekonomi masyarakat dengan mewujdkan desa wisata berbasis pertanian modern. Bidang pertanian dipilih menjadi salah satu prioritas karena dianggap memiliki potensi yang cukup besar. Melalui Gapoktan Gemah-Ripah, Desa Trirenggo bahkan telah mampu memproduksi benih padi unggulan yang memiliki daya tumbuh hingga 94 persen.
“Benih padi yang telah kita produksi ini sudah diakui sebagai salah satu benih padi terbaik di DIY. Selain banyak digunakan oleh petani Trirenggo sendiri, benih padi ini juga sudah digunakan oleh banyak petani di Bantul. Bahkan hingga dikirim ke luar daerah seperti Sragen, Wonosobo, Temanggung, Purworejo, Kutoarjo, Cilacap, dan sebagainya. Potensi ini yang akan terus kita kembangkan ke depan,” katanya.
Selain padi, potensi bidang pertanian lainnya yang juga terdapat di Desa Trirenggo adalah produksi kecambah. Hasil produksi kecambah di Desa Trirenggo dikatakan Munawar telah dikenal hingga ke berbagai pasar tradisional di DIY sehingga harus dikembangkan dengan peningkatan jumlah dan kapasitas produksi melalui sinergi antar kelompok tani yang ada.
“Potensi desa di bidang kerajinan, juga sangat banyak dan bermacam. Mulai dari kerajinan kulit, batik, blangkon, sorjan, keris, kayu, perlengkapan drumband dan masih banyak lagi. Di bidang kuliner kita punya unggulan seperti misalnya kerupuk daun kelor. Kita juga terus mendorong produksi jamu herbal dengan gerakan menanam tanaman obat di setiap keluarga. Semua akan kita berdayakan dan kita maksimalkan sesuai potensi tiap wilayah yang dimiliki,” katanya.
Lewat program pendampingan Desa Damandiri Lestari, Desa Trirenggo sendiri mendapatkan bantuan permodalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan sesuai potensi yang dimiliki. Meliputi berbagai bidang mulai dari pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, agama, hingga lingkungan hidup. Melalui program yang didukung 7 yayasan yang didirikan oleh Pak Harto ini, diharapkan Desa Trirenggo sebagai Desa Damandiri Lestari mampu mempercepat dan menambah jumlah warga sejahtera secara mandiri.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana