Cecilia Eny Berdayakan Petani Bogor dengan Budidaya Ikan Patin

RABU, 15 MARET 2017

CIBINONG — Budidaya ikan patin merupakan salah satu komoditas ikan konsumsi yang mempunyai prospek cerah.  Beberapa waktu yang lalu  Kementerian Perikanan dan Kelautan menyebutkan bahwa ada peluang untuk ekspor ikan patin ke Amerika Serikat.  Hanya saja agar bisa berkembang budidaya ikan patin membutuhkan ilmu pengetahuan yang cukup. Selain itu budidaya ikan patin mempunyai dimensi sosial.   Salah seorang menyadari hal tersebut  adalah Cecilia Eny Indriastuti. 

Caecilia Enny  (paling kiri) dan  Dirjen Budidaya Ikan Air Tawar, Kementerian Kelautan dan Perikanan,  Slamet Subiakto (memakai batik hijau).
Sejak  1997  perempuan yang karib  memulai budidaya ikan patin di sejumlah tempat di Kabupaten Bogor, seperti di Cihideung Hilir, Ciampea dan Pabuaran.  Namun dia sudah mengenal pemeliharaan ikan patin lima tahun sebelumnya.  Staf pengajar Program Diploma Institut Pertanian Bogor ini menjelaskan ada beberapa tahap budi daya patin mulai dari pembenihan, pendederan, dan pembesaran. 
Eny menjadikan bisnisnya juga mempunyai fungsi sosial.   Dia mendirikan  Tania Akuakultur untuk  memberdayakan petani setempat. “Fokus kami di pembenihan.  Kami memberikan manajemen yang baik, yaitu cara pemeliharaan yang benar sehingga mutu benih dapat terjaga dan penjualan dari satu pintu,” paparnya kepada Cendana News Selasa petang (14/3/2017). 
Selain memberdayakan petani setempat, Eny juga mengadakan kerjasama dengan Program Diploma  IPB dengan menerima mahasiswa Diploma IPB yang akan melakukan Praktik Kerja Lapangan di tempatnya.

Untuk peluang usaha ikan patin mempunyai prospek cerah.  Sekitar 1990-an  ikan patin dengan ukuran satu inci mencapai Rp250 per ekor.  Dalam satu kali siklus panen bisa mencapai lebih dari seratus ribu bibit. Itu artinya pada 1990-an dengan satu siklus panen bisa meraup  Rp25 juta. Nilai yang tinggi masa itu.

Selanjutnya menurut Eny, saat itu belum banyak yang bisa melakukan budi daya ikan patin hal tersebut diakibatkan karena ikan patin bukan ikan asli Indonesia  Patin awalnya berasal dari Thailand.  Orang Indonesia lebih mengenal Ikan Jambal.
Menurut ibu tiga anak ini pesanan benih ikan patin selalu tinggi terutama untuk Sumatera dan Kalimantan karena dapat menjadi pengganti ikan jambal yang ketersediaanya masih tergantung hasil tangkapan alam dan musim. Saat ini ikan patin semakin banyak digemari oleh masyarakat Indonesia karena dapat difillet dan dapat menggantikan fillet ikan patin “dori” dari Vietnam.  
Saat ini, dalam satu bulan, produksi larva patin yang dihasilkan oleh Eny  dan tim petaninya  sekitar delapan juta ekor.  Dari jumlah itu benih yang dihasilkan sekitar 3 sampai 4 juta sebulan, sebab risiko kematian dari larva menjadi benih selalu ada.
“Pemeliharaan larva patin masih menjadi tantangan tersendiri, sumber daya manusia, kualitas induk, kualitas air, musim sangat mempengaruhi keberhasilan pembenihan ikan patin. Ketika cuacanya ekstrem seperti kemarin, kami  sempat vacuum selama satu bulan,” papar  Eny. 
Meskipun iklim di Indonesia cenderung sama dengan iklim di Thailand, pertumbuhan patin di Indonesia tidak bisa sama seperti tempat asalnya.  Di Negeri Gajah Putih ini  ikan patin hidup di alam bebas, di sungai-sungai   Sementara kalau di Indonesia  sudah dikondisikan.  Tantangan utama yang dihadapi pembenih patin saat ini selain masih sulitnya pemeliharaan larva ditambah semakin mahalnya pakan (artemia, tubifex) dan harga benih patin yang semakin murah.
Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Dokumentasi Cecilia Eni
Lihat juga...