Tolak Pembangunan Pasar Johar, Ratusan Pedagang Gelar Shalawatan di Balaikota

SENIN, 20 FEBRUARI 2017

SEMARANG — Rencana pemerintah kota (pemkot) Semarang untuk membangun Pasar Johar menjadi enam lantai mendapat respon negatif.  Paguyuban Pedagang Pasar Johar akhirnya menggelar unjuk rasa shalawatan di depan Balaikota (20/02/2017). Mereka khawatir pengunjung akan enggan berbelanja karena malas menaiki tangga.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Menurut Koordinator Aksi Slamet Santoso, wacana relokasi  2000 pedagang Pasar Johar untuk menempati lantai yang baru dirasa tidak tepat, sebab berkaca pada pasar lainnya di Kota Semarang banyak pedagang yang sepi pengunjung ketika berjualan di lantai dua.

Slamet mengaku kaget tiba-tiba sudah ada kebijakan mengenai pembangunan sudah ditetapkan walaupun pada awalnya konsultan pemkot Semarang sudah berbicara dengan mereka, tetapi pada saat keputusan        dilaksanakan secara sepihak.

Koordinator Aksi Slamet Santoso.

“Pedagang yang lama maupun baru terkena imbasnya karena luas lantai hanya enam ribu meter persegi,” kata Slamet.

Saat menemui para pengunjuk rasa, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, mengakomodir tuntutan dari para pedagang. Karena itu dirinya akan mengumpulkan Dinas Tata Ruang, Komunitas Cagar Budaya dan perwakilan pedagang untuk mencapai kesepakatan.

Ibu-ibu sedang shalawatan.

Hendi, sapaannya, mengakui, saat ini belum dipaparkan mengenai Detail Engineering Design (DED), tetapi setelah melihat aksi hari ini dirinya akan fokus memberikan solusi.

“Sejarah Pasar Johar adalah ikon Semarang, sehingga kalau ada tuntutan akan kita rembug kembali,” terangnya.

Untuk mempercantik kota, rencananya pemkot akan membangun Pasar Johar sampai enam lantai dengan rincian anggaran untuk menyusun DED senilai Rp 1,642 milliar dan amdal Rp 550 juta.

Pedagang Pasar Johar menyuarakan tuntutannya.

Anggaran tersebut juga akan dipakai untuk mengembalikan alun-alun Masjid Kauman menjadi ruang publik kembali. Tetapi banyak pedagang yang menolak rencana tersebut. Mereka berharap agar luas alun-alun yang akan dipugar separuhnya diberikan untuk lapak penjual.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto:  Khusnul Imanuddin

Lihat juga...