SABTU, 25 FEBRUARI 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan yayasan Damandiri — Mantan Ketua RT05 RW04, Jagakarsa, Elih Sahid sejak 1980 sudah menggeluti profesinya sebagai ahli listrik untuk gedung maupun perumahan. Selain itu, ia juga membuka usaha toko listrik kecil-kecilan di rumah. Mulai dari saklar, bohlam, kabel hingga semua keperluan listrik masyarakat coba disediakan di toko kecilnya.
| Elih Sahid |
1985, saat ia menjadi Ketua RT05, wajah daerah kediamannya mulai berubah dengan kehadiran para pendatang dari luar. Tanpa disadari, perlahan membuat warga asli Jagakarsa terpacu untuk menjadi lebih baik lagi secara ekonomi agar setara dengan para pendatang tersebut.
“ Sebenarnya kami hidup apa adanya dengan yang kami miliki di sini. Tapi sesuatu hal telah mengubahnya,” kenang Elih saat berbincang dengan Cendana News.
Perlahan warga mulai menjual tanah kepada pendatang, kemudian menggunakan uangnya untuk membuka usaha kecil-kecilan, baik di rumah maupun menyewa toko di pinggir jalan. Elih tidak mengikuti jejak mereka, melainkan terus menjalankan usaha toko listriknya dengan tekun sambil menyewakan tanah miliknya kepada siapapun yang ingin membuka usaha warung atau apapun.
Memasuki 2012, persaingan usaha dirasa semakin berat, termasuk persaingan sesama toko listrik. Pada kesempatan yang sama, ia mendengar bahwa sudah didirikan Posdaya Cempaka di RT05, RW04 Jagakarsa oleh Yayasan Damandiri, tepat di wilayah kediamannya. Selain mendirikan Posdaya, Yayasan Damandiri turut meluncurkan program pemberdayaan ekonomi keluarga berupa Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) bagi warga RW04 Jagakarsa.
Butuh satu tahun bagi Elih memutuskan bergabung di Tabur Puja, hingga akhirnya pada 2013, ia datang ke sekretariat Posdaya untuk mengajukan pinjaman modal usaha lewat Tabur Puja.
“ Persaingan usaha membuat harga berantakan sehingga keuntungan saya pun mulai menipis. Jalan satu-satunya adalah menambah jumlah barang dagangan, tapi saya butuh modal,” sambung bapak tiga anak ini melengkapi.
Tabur Puja mempercayakan Elih pinjaman modal usaha mikro sejumlah Rp 2 juta dengan termin pengembalian selama 12 bulan. Menggunakan suntikan modal tersebut, Elih membeli barang-barang listrik kebutuhan tokonya. Selain itu, ia membangun sebuah warung kecil untuk disewakan kepada pedagang.
Omset harian Elih meningkat dari hanya Rp 500 ribu per hari, menjadi Rp 1 juta. Usaha alat listrik miliknya mulai berkembang karena barang dagangannya semakn lengkap.
Selain omset toko listriknya, warung kosong milik Elih juga di sewa oleh seorang pedagang buah dan minuman ringan. Perlahan kehidupan Elih yang tadinya kesulitan beradaptasi dengan persaingan usaha, mulai berjalan normal seiring meningkatnya pendapatan.
Setelah melunasi cicilan Tabur Puja selama 12 kali, Elih merasa bahwa sekarang saatnya untuk mengoptimalkan hasil usahanya selama ini secara mandiri. Ia memutuskan tidak melanjutkan keanggotaannya dengan Tabur Puja. Selama dua tahun sejak 2015 hingga Oktober 2016 Elih coba memutar keuntungannya melalui toko listrik miliknya.
Pada November 2016 ia kembali datang menemui pengurus Posdaya untuk mengajukan pinjaman baru demi menambah barang dagangannya lagi. Ada beberapa peralatan listrik yang cukup mahal namun kerap dicari masyarakat.
Elih ingin membeli barang itu agar stock barang di toko listriknya semakin lengkap lagi. Tabur Puja kembali mencairkan modal usaha untuk Elih sejumlah Rp 2 juta dengan termin pengembalian yang sama seperti sebelumnya, yakni selama 12 bulan.
“ Ternyata saya butuh modal lagi karena ada beberapa barang dagangan dengan modal yang cukup besar. Uang sewa dari warung belum masuk, jadi saya butuh Tabur Puja,” pungkas laki-laki asli Betawi kelahiran 11 November 1950 ini mengakhiri perbincangan.
Saat ini cicilan Elih sudah masuk bulan ketiga dan usaha toko listrik Elih semakin lengkap lagi dari sebelumnya. Pengalaman ini sepertinya akan membuat Elih berpikir dua kali untuk berhenti dari keanggotaan Tabur Puja saat cicilan pinjaman keduanya selesai.
Jurnalis : Miechell Koagouw / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw