JUMAT, 3 FEBRUARI 2017
MATARAM — Penanganan sampah di sejumlah obyek wisata di Nusa Tenggara Barat, hingga kini masih menjadi persoalan cukup memprihatinkan dan belum mampu dituntaskan oleh Pemerintah setempat, terutama di kawasan obyek wisata Gili Terawangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat.
![]() |
| Salah-satu obyek wisata di Gili Terawangan, Kabupaten Lombok Utara NTB |
Selain bisa mengganggu kenyamanan wisatawan dan citra objek wisata bersangkutan, penanganan masalah persampahan yang tidak serius juga tidak jarang dimanfaatkan oknum tidak bertanggung-jawab untuk mencari keuntungan pribadi dengan melakukan pungutan liar. (Baca: Diduga Lakukan Pungli, Tim Saber Pungli NTB Amankan 2 Pengurus LSM di Lombok Utara
“Kasus Pungli yang dilakukan salah Lembaga Swadaya Masyarakat di Gili Terawangan, Lombok Utara, merupakan salah-satu bukti masih lemahnya keseriusan Pemerintah dalam melakukan penangan masalah kebersihan di kawasan objek wisata,” kata anggota Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) NTB, Takiyudin di Mataram, Jum’at (3/2/2017).
Menurutnya, peluang akan kebutuhan penangan sampah itulah yang dimanfaatkan oknum tidak bertaanggung-jawab seperti salah-satu LSM di Gili Terawangan, yang melibatkan aparat pemerintahan dusun dan kelurahan setempat untuk mencari keuntungan dengan melakukan pungli secara ilegal.
Ia mengatakan, praktik pungli di kawasan objek wisata Gili Terawangan, selain merugikan perusahaan, juga bisa merugikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah KLU akibat terjadi kebocoran. “Untuk itulah, baik Pemkab Lombok Utara, Dinas Pariwisata maupun Pemprov NTB dalam pengelolaan kawasan pariwisata, selain mencari keuntungan, juga harus serius melaksanakan kewajiban, dan memastikan kebersihan kawasan objek wisata yang ada dari sampah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Takiyudin menambahkan, dengan terjaganya kebersihan objek wisata, selain memberikan kenyamanan bagi wisatawan, juga bisa berdampak positif bagi objek wisata bersangkutan, dan akan semakin meningkatkan kunjungan wisatawan.
Jurnalis : Turmuzi / Editor : Koko Triarko / Foto : Turmuzi