SELASA, 31 JANUARI 2017
TUBAN — Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu sudah menjadi sentra kerajinan gerabah di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Di lokasi ini, setiap harinya dapat dengan mudah dijumpai orang-orang yang tengah sibuk bergelut dengan tanah liat untuk membuat kerajinan gerabah yang berkualitas. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di Kelurahan Karang memang memiliki keahlian membuat kerajinan gerabah yang diperoleh secara turun-temurun dari keluarganya. Sehingga tidak heran jika hampir di depan setiap rumah terdapat banyak tumpukan berbagai jenis kerajinan gerabah dengan berbagai bentuk.
![]() |
| Narko. |
Setidaknya, seperti itulah gambaran yang disampaikan Narko (68), salah satu perajin gerabah mengenai kondisi Kelurahan Karang pada masa lalu yang sangat terkenal dengan produk kerajinan gerabahnya. Namun sayang, kondisi tersebut kini jauh berbeda. Saat ini terlihat hanya beberapa rumah saja yang di depannya masih terdapat tumpukan gerabah karena memang jumlah perajin gerabah di Kelurahan Karang sudah banyak berkurang.
Terus menyusutnya jumlah perajin gerabah tersebut, menurut Narko, disebabkan oleh beberapa hal di antaranya yaitu dari usia perajin yang memang sudah tidak lagi muda, mulai langkanya bahan untuk membuat gerabah, hingga keengganan generasi muda sekarang untuk meneruskan usaha turun-temurun kerajinan gerabah dari keluarganya.
“Kalau dulu di daerah sini banyak yang bikin gerabah, tapi kalau sekarang jumlah perajin gerabah semakin berkurang karena tidak ada penerusnya dan bahannya juga susah didapatkan. Mungkin sekitar 10 tahun lagi di daerah ini sudah tidak ada lagi yang produksi gerabah,” ungkapnya.
Jadi, jangan heran kalau perajin gerabah di daerah Karang hampir semuanya sudah lanjut usia karena generasi muda sekarang lebih memilih untuk kerja yang lain daripada meneruskan usaha membuat gerabah. Narko sendiri mengaku, hanya memiliki seorang putri yang sudah menikah sehingga tidak ada lagi yang meneruskan usaha gerabahnya.
“Mungkin saya menjadi generasi terakhir perajin gerabah dari keluarga karena sudah tidak ada yang meneruskan usaha kerajinan gerabah,” tuturnya.
Selain itu, menurut Narko, sulitnya mendapatkan bahan baku untuk membuat gerabah terutama pasir laut di daerah Tuban, menyebabkan para perajin gerabah terpaksa harus memilih untuk tidak meneruskan usahanya. Pasir laut sendiri merupakan salah satu komponen penting sebagai bahan campuran untuk membuat gerabah.
“Pasir laut yang biasanya dapat diambil di daerah Remen dan Bancar, sekarang sudah tidak bisa diambil lagi karena tempat untuk mengambil pasir laut sudah ditutup. Kalau beli pasir laut dari luar daerah Tuban pasti lebih mahal sehingga banyak perajin yang memilih untuk berhenti membuat gerabah,” terangnya.
Sementara itu, nasib yang sama juga dialami Rusmiati (59) perajin gerabah lainnya. Menurutnya, ia tidak lagi dapat mengharapkan ada yang meneruskan usaha kerajinan gerabahnya karena anaknya sendiri tidak tertarik untuk membuat gerabah.

“Kalau dulu generasi di atas saya masih ada yang mau meneruskan membuat gerabah, termasuk saya. Tapi, kalau sekarang, jangankan meneruskan usaha, disuruh belajar membuat gerabah saja anak saya tidak mau,” akunya. Oleh sebab itu, sekarang banyak usaha gerabah yang tutup karena tidak ada yang meneruskan. Untuk saat ini, lanjutnya, hanya sekitar 10 orang perajin yang masih aktif membuat kerajinan gerabah, itu pun usianya sudah tua.
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq