Subiakto Tjakrawerdaja: Damandiri Bentuk Masyarakat Sejahtera yang Mandiri

SENIN, 16 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Melalui peringatan HUT Yayasan Damandiri ke-21 yang diadakan pengurus secara sederhana dan kekeluargaan bersama para undangan di Graha Dana Abadi (Granadi), Kuningan, Jakarta, Senin (16/1/2017), seluruh pengurus menjadikannya sebagai momentum untuk terus mengabdikan diri dalam program pemberdayaan masyarakat Indonesia. Tujuannya hanya satu, yakni mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaja, memberikan sambutan dalam HUT ke-21 Yayasan Damandiri, hari ini.

Sejahtera menurut konsep Yayasan Damandiri adalah bagaimana rakyat mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan memanfaatkan potensi lokal yang mereka miliki di daerah masing-masing melalui sumber daya manusia yang ada. Peran Yayasan Damandiri adalah sebagai fasilitator bagi masyarakat, baik mengedukasi maupun memberdayakan masyarakat menjadi cerdas dan sejahtera.

Berikut petikan wawancara singkat Cendana News dengan Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaja dalam suasana peringatan HUT Yayasan Damandiri ke-21 di Jakarta hari ini.

Apakah menurut Bapak, Yayasan Damandiri sejauh ini sudah berhasil dalam memberdayakan rakyat Indonesia menuju kesejahteraan?
Menurut saya pencapaiannya cukup baik.

Apa indikator dari pencapaian tersebut?
Indikatornya adalah pencapaian Tabungan Kredit Pundi Sejahtera atau Tabur Puja. Khusus untuk perputaran dana Tabur Puja sudah mencapai kurang lebih Rp 108 miliar yang berhasil menyentuh sebanyak 34.268 anggota dalam 334 kelompok Tanggung Renteng di setiap Pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya yang kami dirikan selama ini. Saya rasa, pidato saya di dalam tadi sangat jelas mengenai angka-angka tersebut.

Artinya Damandiri sudah berhasil mensejahterakan banyak rakyat Indonesia ya?
Filosofi kami begini, Damandiri mengedukasi dan memberdayakan masyarakat. Yang bertumbuh cerdas nantinya adalah masyarakat itu sendiri. Kecerdasan akan membawa masyarakat untuk bekerja keras. Tabur Puja melalui kelompok-kelompok Tanggung Renteng mewakili semangat gotong royong, sehingga masyarakat yang cerdas pastinya akan bekerja keras secara bergotong royong bersama rekan-rekannya menuju kesejahteraan.

Dengan kata lain, Damandiri berhasil mensejahterakan rakyat secara bertahap melalui konsep pemberdayaan yang hanya dimiliki oleh Yayasan Damandiri?
Memang benar. Namun bukan berarti kami unjuk kekuatan dengan kemampuan sumber daya manusia serta finansial yang besar dan kuat, akan tetapi kami hanya memberikan contoh kecil saja. Dengan harapan, pemerintah bisa mengadopsi pola pemberdayaan Damandiri untuk mensejahterakan rakyat.

Apa rencana Yayasan Damandiri ke depannya?
Melalui momentum HUT Yayasan Damandiri ke-21 hari ini, kami sedang mengembangkan sebuah model pemberdayaan yang lebih inovatif dengan tetap berlandaskan asas gotong royong. Harapan kami dengan model pemberdayaan baru ini mampu lebih menggerakkan masyarakat untuk terus bangkit menjadi sejahtera. Namanya adalah Program Pemberdayaan Desa Lestari.

Apa yang dimaksud dengan Desa Lestari?
Desa Lestari adalah desa sejahtera yang berkelanjutan. Setiap keluarga di dalam desa tersebut sejahtera secara mandiri. Kekuatan mereka dari semangat gotong royong seluruh masyarakat dalam memanfaatkan potensi lokal demi memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Kami sudah memulainya di Boyolali, Jawa Tengah dengan memberdayakan rumah-rumah penduduk menjadi home stay bagi wisatawan. Program Desa Lestari ini akan terus berlanjut di seluruh Pulau Jawa sampai menyentuh Bogor dan Depok, Jakarta belum, tapi akan segera menyusul.

Subiakto Tjakrawerdaja berharap pemerintah di masa kini bisa mengadopsi apa yang bagus dalam program pemberdayaan Yayasan Damandiri.

Apa pesan kuat dari Yayasan Damandiri melalui momentum HUT ke-21 hari ini?
Yayasan Damandiri membentuk masyarakat sejahtera yang tidak selalu mengandalkan bantuan pemerintah, akan tetapi masyarakat sejahtera yang mandiri memberdayakan diri sendiri.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...