Rumit dan Lamanya Proses Pembuatan Wayang Kulit

SABTU, 21 JANUARI 2017

BANTUL — Duduk di atas sebuah kursi kayu sederhana, Sukino (54) tampak sibuk memahat lembaran bahan kulit pada sebuah meja tua. Matanya cermat menatap ujung besi pahat, yang gagangnya ia genggam dengan tangan kirinya. Sebuah sosok pahatan tokoh wayang, masih tampak belum jadi seutuhnya meski telah berhari-hari dikerjakannya.
Sukino sedang memahat kulit kerbau untuk dijadikan wayang
Ya, untuk membuat sebuah tokoh wayang kulit, Sukino, seorang pengrajin wayang kulit, asal dusun Gendeng RT 04 Bangunjiwo Kasian Bantul, membutuhkan waktu sedikitnya dua minggu lamanya. Itupun jika pembuatan, tidak dihitung sejak mulai dari proses awal pengolahan kulit kerbau hingga siap untuk dipahat.
“Paling tidak butuh waktu dua minggu untuk membuat satu tokoh wayang. Itu pun jika kulit sudah siap dipahat. Paling lama adalah saat proses memahat hingga bisa membentuk sosok karakter tokoh. Karena memang paling rumit. Proses ini setidaknya memakan waktu sekitar satu minggu,” ujarnya kepada Cendananews, belum lama ini.
Selain harus cermat dan teliti, Sukirno juga harus selalu sabar setiap kali memahat. Ada sedikitnya 32 jenis mata pahat yang harus ia gunakan. Karena itu pula ia bahkan tak berani memahat setiap kali merasa mengantuk. Jika rasa kantuk itu datang, ia akan memilih tidur barang sebentar terlebih dahulu.
“Kalau memahat dalam kondisi mengantuk itu resiko salahnya besar. Padahal kalau kita sampai salah, akan merusak kulit. Kalau sampai fatal ya terpaksa harus ganti kulit dan mulai dari awal,” kata Sukino yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi pengrajin wayang kulit itu.
Ia menerangkan, awal proses pembuatan wayang kulit ialah memperlakukan kulit kerbau agar siap untuk dipahat. Kulit kerbau yang masih ada bulunya, pertama-tama harus direndam selama satu malam, baik dengan lumpur atau air biasa. Hal itu bertujuan agar kulit cepat lentur.
Setelah itu, kulit yang telah lentur lantas direntangkan dengan menggunakan bingkai kayu, kemudian dijemur. Proses penjemuran ini bisa berlangsung satu hingga dua hari, tergantung cuaca. Setelah kering, kulit yang masih ada bulunya tersebut baru dikerok hingga menjadi lembaran kulit mentah.
“Dulu saya melakukan sendiri semua proses itu dari awal. Tapi karena banyak membuang waktu dan cukup berat, sekarang tidak lagi. Saya memilih membeli kulit mentah yang sudah siap. Sehingga saya bisa fokus khusus untuk pembuatan wayangnya,” terangnya.
Setelah kulit siap diproses, pertama-tama Sukino akan membuat pola sosok tokoh wayang yang akan dibuatnya dengan memakai jarum. Lalu dilanjut dengan proses penatahan. Setelah proses pemahatan selesai ia kemudian akan mengecat atau mewarnai tokoh wayang tersebut. Selanjutnya adalah memberi sandangan atau asesoris pakaian sesuai karakter tokoh masing-masing. Dan terakhir adalah memasangkan gapit atau gagang pegangan yang terbuat dari tanduk kerbau.
“Paling banyak yang dipesan itu tokoh lakon pewayangan yang terkenal seperti pandawa lima, rama-shinta, serta puno kawan. Semua memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Paling sulit itu membuat tokoh Kresna. Karena motif ukirannya sangat rumit dan paling banyak,” terangnya.
Sukino menjelaskan, kulit kerbau dipilih karena dianggap paling bagus dibanding kulit sapi atau kambing. Kelebihannya yakni tidak mudah mengembang atau menyusut saat berada di suhu panas atau dingin. Beda dengam kulit sapi yang bisa mengerut di suhu dingin atau kulit kambing yang terlalu lembek.
“Kulit kerbau ini semua didatangkan dari Sulawesi. Selain untuk membuat wayang, biasanya paling banyak digunakan untuk membuat kerupuk dan kerecek,” katanya.
Rumit dan lamanya proses pembuatan wayang kulit memang membuat harga satu buah tokoh wayang cukup mahal. Satu buah tokoh wayang kulit bahkan bisa mencapai harga Rp5 juta per bijinya. Meskipun ada juga yang dijual lebih murah. Semua tetap tergantung kualitas bahan maupun ukirannya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...