SELASA 31 JANUARI 2017
LAMPUNG—Masjid Al Muhajirin di Tepi Jalan Trans Sumatera KM 54, Dusun IV Depada bagian plang nama terlihat Siger yang terpasang dan sebagian besar bangunan masjidsa Kedaton, Kecamatan Kalianda Lampung didirikan untuk kebutuhan ibadah salat bagi warganya. Masjid yang diresmikan oleh Bupati Lampung ketika dijabat Wendy Melia mempunyai keistimewaan secara arsitektur mewakili ikon budaya Lampung.
![]() |
| Masjid Al Muhajirin Kedaton Kalianda Lampung Selatan dengan ornamen Lampung. Tampak ciri khas siger di tiang. |
Adat dan budaya Lampung terwakili pada beberapa ornamen yang menjadi bagian dari Masjid Al Mujahirin. Pada bagian eksterior terdapat Siger. Dalam adat Lampung Siger adalah mahkota terdiri dari sembilan rangkaian yang melambangkan sembilan macam marga dan suku di Lampung. Pada bagian plang nama terlihat Siger yang terpasang dan sebagian besar bangunan masjid. Dominasi penggunaan kayu yang masih dipertahankan hingga kini sebagai salah satu ciri khas bangunan rumah adat Lampung
Lantai keramik putih pada bagian luar satu trap tangga dibatasi dengan pagar artisitik terbuat dari kayu medang. Pagar itu dicat warna coklat mempermanis tampilan masjid. Warna cokelat itu senada dengan dominasi warna coklat tersebut baik pada cat atap serta kusen kusen kayu. Sementara pada bagian dalam masjid beberapa ukiran kaligrafi sebagai penghias terlihat di bagian depan tepat di atas mimbar.
Lampu gantung pada langit langit berplafon triplek putih juga terlihat terpasang sebagai lampu penerang bagian dalam yang dilengkapi dengan beberapa lampu hias lainnya. Arsitektur masjid yang meski berukuran kecil sekitar 8×10 meter namun nyaman tersebut menonjolkan kesederhanaan bahkan dengan penggunaan kipas angin sederhana yang masih terpasang dan juga karpet serta penyekat dari kayu. Bangunan masjid tersebut bahkan memiliki pintu dan jendela di beberapa bagian sehingga memberi ruang sirkulasi udara yang baik.
![]() |
| Jumhana selaku pengurus Masjid Al Muhajirin Kedaton Kalianda. |
Menurut sang penjaga masjid (marbot) bernama Jumhana (40) memiliki keistimewaan. Selain lokasinya yang strategis berada di tepi Jalan Lintas Sumatera juga terkesan nyaman dan teduh dengan beberapa pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan tepat di depan masjid tersebut.
“Sejak pagi banyak warga yang beribadah salat di sini karena lokasinya yang strategis dan bagi yang belum pernah ke sini ada yang tertarik karena bentuk masjidnya yang unik menyerupai bangunan khas rumah adat Lampung,” ungkap Jumhana sang marbot masjid Al Muhajirin saat ditemui Cendana News tengah membersihkan teras depan masjid tersebut, Selasa (31/1/2017)
Itu sebabnya selain digunakan masyarakat yang tinggal di lingkungan Desa Kedaton masjid tersebut menjadi lokasi favorit para pengendara yang melintas di wilayah Kalianda bertepatan dengan saat untuk menjalankan ibadah salat sehingga kerap digunakan untuk berhenti melakukan ibadah salat serta istirahat. Selain dilengkapi dengan tempat wudhu yang cukup luas fasilitas toilet juga disediakan di area Masjid Al Muhajirin Kedaton tersebut.
![]() |
| Pagar masjid dengan dominan kayu medang. |
Perlu Renovasi
Dilengkapi dengan fasilitas parkir yang memadai untuk kendaraan roda empat dan roda dua lokasi masjid yang ada di dekat lingkungan perkantoran pemerintah Kabupaten Lampung Selatan juga membuat masjid Al Muhajirin kerap digunakan oleh para pegawai negeri sipil maupun pegawai swasta yang ada di sekitar kota Kalianda. Sebagian sengaja datang untuk menjalankan ibadah shalat secara sendiri atau berjamaah selain itu menjadi sarana untuk saling bertemu dengan silaturahmu dengan sesama umat Muslim yang melakukan ibadah di masjid tersebut.
Namun Jumhana mengakui dibanding tahun tahun sebelumnya sekarang saat siang waktu menjalankan ibadah Salat Zuhur lebih sepi dari biasanya. Bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Lampung Selatan diwajibkan ibadah salat berjamaah di Masjid Kubah Intan Kalianda yang merupakan program bupati Zainudin Hasan agar seluruh pegawai yang muslim menjalankan ibadah salat berjamaah saat zuhur dan asar. Meski demikian dengan dekatnya masjid berornamen khas Lampung tersebut dengan beberapa perkantoran swasta membuat masjid tersebut masih menjadi pilihan untuk menjalankan ibadah secara pribadi maupun berjamaah.
Di bagian depan pada sebuah marmer putih terdapat sebuah prasasti lengkap dengan tulisan sebagai penanda bangunan tersebut merupakan bangunan masjid berornamen khas Lampung yang diresmikan pada 30 Oktober 2009 oleh Bupati Lampung Selatan Wendy Melfa. Meski telah berumur sekitar tujuh tahun dengan konsep masjid berornamen khas Lampung tersebut belum mendapat renovasi.
Pada beberapa bagian mendapat perbaikan terutama pada bagian kusen kayu yang sudah lapuk. Sebagai langkah untuk melakukan perawatan terhadap masjid berornamen khas Lampung tersebut saat ini kepengurusan masjid Al Muhajirin Kedaton Kalianda diketuai oleh Endang Supriyatna selaku ketua pengurus masjid dibantu beberapa pengurus lain.
Jumhana mengungkapkan meski telah dilakukan pembenahan namun dibeberapa bagian pagar terlihat cat cat yang mulai memudar dan sebagian dicat ulang. Pagar pagar berornamen khas Lampung pada bagian depan yang terbuat dari besi juga ungkap Jumhana sebagian sudah berkarat namun secara umum bagian bangunan masjid masih kokoh berdiri dan menjadi tempat mendirikan Shalat bagi umat Muslim di wilayah Lampung Selatan yang dekat dengan lokasi masjid Al Muhajirin tersebut.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

