LAMPUNG — Hasil komoditas pertanian di sejumlah wilayah di Kabupaten Lampung Selatan, ditangkap sebagai peluang berdagang oleh Mad Supi (40), warga Desa Rawi Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. Beberapa tahun melangkah, ia yang pada awalnya hanya bekerja serabutan sebagai tukang bangunan, kini menjadi juragan atau pengepul beragam hasil pertanian. Dari usahanya itu, ia bahkan bisa mempekerjakan pemuda di kampungnya yang selama ini menganggur.
Mad Supi.
Pada awalnya, ketika masih bekerja serabutan sebagai tukang bangunan, Mad Supi memanfaatkan waktu luangnya untuk membantu tetangga yang berdagang ikan keliling. Ia bertugas membeli ikan yang akan dijual oleh tetangganya itu. Ia juga ikut membeli beberapa komoditas pertanian dari petani untuk dijual ke pengepul besar, yang akan menjualnya ke Pulau Jawa.
Berangkat dari pengalaman membantu orang itu, pada tahun 2000 ia membulatkan tekad bersama istri, Suniah (35), untuk berdagang sendiri. Ia memilih hasil bumi atau komoditas pertanian sebagai bidang bisnisnya, dan membuka pangkalan sendiri di kawasan Jalan Lintas Sumatera yang dinilainya strategis. Waktu itu, ia hanya bermodal uang Rp. 2 Juta.
Sebagai pengepul, Mad Supi sadar betul, jika harus memiliki relasi yang luas dengan para pengepul kecil yang biasa mencari komoditas pertanian dari petani di pelosok-pelosok kampung. Untuk itu, ia tak segan memberikan uang modal kepada pengepul kecil untuk memperlancar pasokannya. Di luar itu, banyak pula para petani yang datang langsung kepadanya untuk menjual hasil pertaniannya seperti kelapa, beragam buah dan sayur-mayur.
Kesibukan Mad Supi sebagai pengepul, tidak jarang berlangsung hingga malam. Pekerjaannya meliputi menyortir barang-barang dagangan dan mengelompokkannya sesuai ukuran dan kualitas. Misalnya, buah kelapa. Mad Supi harus mengelompokkannya ke dalam beberapa kelas atau grade berdasarkan ukurannya, karena harga jualnya akan berbeda dengan buah kelapa yang berukuran lebih kecil. Buah kelapa berukuran besar dijualnya seharga Rp. Rp. 5-6.000 per butir, dan yang lebih kecil dijual seharga Rp. 3-4.000. Padahal, Mad Supi mengaku semua buah kelapa itu dibelinya dari petani secara borongan dengan harga beli Rp. 2.000 per butir. Dari sanalah keuntungan Mad Supi diperoleh.
Pada masa awal merintis usahanya itu, Mad Supi mengerjakan semua pekerjaan itu bersama istri dan dua anaknya. Namun, sejak 2009 ketika usahanya semakin besar, Mad Supi mampu merekrut 8 orang tenaga kerja, yang semuanya adalah tetangganya sendiri yang sebelumnya menganggur. Mereka diberi pekerjaan menyortir, mengemas, dan mengangkut dagangan ke kendaraan ekspedisi, serta tugas lain seperti mencungkil kelapa untuk dijadikan kopra, memecah kelapa serta melakukan pekerjaan lain di lapak miliknya.
Dengan upah Rp. 80.000 per orang untuk satu hari, belum termasuk makan dan keperluan lain, 8 orang tenaga kerja itu diakui Mad Supi sangat meringankan pekerjaannya. Apalagi, ketika hendak mengemas barang untuk diangkut ke Pula Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni.
Tetapi, Mad Supi juga tak sekedar mempekerjakan para pemuda itu. Melainkan juga berharap sekiranya mereka tumbuh jiwa bisnisnya dan bisa mempelajari cara berdagangnya, sehingga mampu berdikari. Dan, dua tenaga kerjanya, menurut Mad Supi, kini sudah ada yang bisa membuka lapak sendiri di desa lain.
“Usaha kecil yang saya tekuni ini memang awalnya belajar dari bawah. Mengalami jadi pedagang kecil, berkeliling dari kampung ke kampung untuk membeli buah-buahan dengan sistem tebas, lalu saya memiliki lapak dan tinggal menunggu kiriman dari para pemilik hasil bumi dari kampung,” ungkap Mad Supi, saat ditemui di Jalan Lintas Sumatera KM 71, Kamis (12/1/2017).
Suka-Duka
Sebagai usaha yang menggantungkan dari hasil pertanian, Mad Supi mengatakan perlunya melihat musim dan komoditas pertanian yang bisa diperoleh secara berkelanjutan tanpa memandang musim. Beberapa komoditi pertanian yang tidak kenal musim, misalnya buah kelapa yang bisa diperoleh setiap hari dari berbagai wilayah di Kecamatan Sragi, Rajabasa, Palas, Penengahan dan lainnya. Selain itu, juga pisang serta sayur-mayur yang ditanam secara rutin oleh para petani. Sedangkan komoditi lain yang tergantung musim, antara lain seperti jengkol, petai, alpukat, rambutan, durian serta buah-buahan semusim lainnya.
Namun demikian, Mad Supi mengatakan, bisnisnya tersebut juga terus bisa berjalan menyesuaikan permintaan pasar yang sedang meningkat, seperti komoditas cabai rawit, cabai merah serta beberapa komoditas lain yang harganya menguntungkan bagi pelaku bisnis pertanian.
Sementara itu, tidak ada masalah dengan distribusi dan penjualan. Mad Supi sudah memiliki banyak langganan jasa angkut, juga pelanggan dari sejumlah pedagang tradisional di Pasar Serang hingga Banten. Ia juga mengaku diuntungkan dengan lokasi lapaknya yang berada di tepian Jalan Lintas Sumatera, yang tidak pernah sepi selama 24 jam.
Mad Supi biasa mengirim dagangannya dengan sistem borongan tanpa mempertimbangkan tonase. Seberat apapun barang dagangannya yang terdiri dari kelapa, berbagai jenis buah, sayuran dan sebagainya, dipatok sebesar Rp 2,5 Juta sekali angkut.
“Saya pernah mencoba mengirim sendiri dengan kendaraan, namun biaya operasional yang dikeluarkan ternyata justru lebih besar, sehingga lebih enak dengan sistem putus menggunakan kendaraan ekspedisi,” terangnya.
Pasang surut bisnis komoditi pertanian, kata Mad Supi, dialami ketika terjadi penurunan harga secara drastis. Beberapa komoditi yang acapkali mengalami harga anjliok, antara lain kopra yang sempat mencapai Rp. 10.000 per kilogram, dan beberapa komoditas lainnya. Hal demikian seringkali membuat dirinya merugi, karena setiap komoditi pertanian harus segera dijual.
Dengan adanya bisnis pertanian yang terus berjalan, Mad Supi berharap bisa memberi keuntungan bagi para karyawan, para petani serta masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari usaha pertanian. “Kita selalu membeli hasil pertanian dari para petani, dan mereka senang, karena komoditasnya bisa menjadi uang dengan cara kita beli langsung di kebun,” terangnya.
Mad Supi, yang pada awalnya hanya buruh lepas, kini tidak terasa sudah menjadi pedagang sukses. Ayah yang kini juga sudah menjadi kakek dari dua cucu itu mengakui jika perkembangan usahanya cukup pesat. Omzetnya per hari mencapai Rp. 1 Juta, dan kini pun ia sudah mampu membeli kendaraan roda empat untuk operasional mengangkut hasil bumi yang dibelinya dari pelosok kampung untuk dibawa ke lapaknya.