LAMPUNG — Bisnis komoditas pertanian yang ditekuni Mad Supi (40), diakuinya banyak disokong oleh komoditas buah kelapa. Pasalnya, komoditas tersebut memiliki beberapa keunggulan, antara lain pangsa pasarnya yang luas. Bisa dijual di dalam dan luar negeri sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng.
Proses pembuatan kopra di lapak Mad Supi.
Berbeda dengan komoditas lainnya, jenis komoditas kelapa memberinya keuntungan yang cukup berlipat baik dijual utuh, diubah menjadi kopra hingga limbah yang dihasilkan pun tetap memiliki nilai tambah yang bisa digunakan untuk membayar 8 orang tenaga kerjanya. Tidak hanya itu, komoditas buah kelapa bahkan dikatakan menjadi primadona, karena tidak mengenal musim dan sepanjang tahun bisa diperoleh.
Mad Supi mengungkapkan, kelapa ukuran besar yang dibelinya dari petani seharga Rp. 3-4.000 per butir, dijualnya dalam kondisi utuh seharga Rp 4-6.000 perbutir ke sejumlah pasar tradisional. Sementara kelapa yang berukuran kecil dimanfaatkan untuk membuat kopra. Proses pembuatan kopra dilakukan oleh beberapa karyawannya, dengan cara memecah dan memanggangnya di tempat penggarangan, lalu menjemurnya di saat cuaca sedang panas selama 5-6 hari.
“Kopra yang saya buat rata-rata, dijual ke pabrik pembuatan minyak goreng yang ada di sekitar Lampung. Namun, lebih banyak dijual ke Jakarta untuk diekspor. Selain lebih menguntungkan, juga bisa menjadi penyokong usaha ini,” terang Mad Supi, sembari menunjukkan sejumlah karyawannya yang sedang memecah kopra miliknya, Kamis (12/1/2017).
Menurutnya, saat ini harga kopra pun tergolong bagus, Rp. 9.000 per kilogram. Sebelum menjualnya, Mad Supi mengumpulkan terlebih dahulu kopra yang telah kering hingga mencapai jumlah tertentu berkisar 1 Ton, agar bisa menjualnya dengan nilai rupiah yang besar.
Sementara itu, limbah pembuatan kopra yang dihasilkan dari proses pemecahan kelapa tetap dimanfaatkan dan laku dijual. Air kelapa biasa digunakan sebagai bahan membuat minuman nata de coco, dan batok kelapanya biasa dibeli oleh para pembuat arang. Selain itu, batok kelapa juga sering dipesan oleh perusahaan pembuatan obat nyamuk bakar.
Limbah kelapa yang telah terkumpul, kata Mad Supi, akan diangkut ke pengepul besar sebelum dikirim melalui Pelabuhan Panjang menggunakan kontainer. Hasil dari menjual limbah batok kelapa itu bahkan dikatakan cukup menjanjikan. Batok kelapa sebanyak satu kendaraan L-300 yang dimodifikasi dengan pagar tinggi, biasa dijual borongan seharga Rp 2 Juta. Sedangkan air kelapa yang dikemas dalam jerigen berukuran sekitar 10 liter, dihargai Rp 4.000 per jerigen.
“Jerigen berisi air kelapa ini dibeli oleh para pembuat nata de coco. Jadi, meskipun limbah, masih tetap bisa menghasilkan uang,” ungkapnya.
Omzet dari penjualan limbah-limbah kelapa tersebut, diakui Mad Supi juga cukup untuk membayar karyawan serta keperluan lain seperti menambah uang pembayaran kredit kendaraan operasional dan kendaraan roda dua miliknya.
Mad Supi pun yakin, selama para petani masih menanam dan masyarakat masih membutuhkan hasil pertanian, bisnisnya akan terus berjalan. Tidak hanya untuk kepentingan sendiri, namun juga untuk memberdayakan pemuda di kampungnya.