Lolos dari Serangan PKI, Bersembunyi dalam Parit

SELASA 17 JANUARI 2017 
KEDIRI—Achmad Djadi (68) adalah salah satu korban Peristiwa tragedi Kanigoro pada 52 tahun lalu. Ingatan atas kebiadaban Partai Komunis Indonesia (PKI) masih terus mencekam dalam benaknya. Hingga kini, trauma kebengisan PKI sangat sulit ia lupakan.

Achmad Jadi.

Ketika itu, Pada 13 Januari 1965, Djadi yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, sedang mengikuti mental training Pelajar Islam Indonesia (PII) di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Ia sengaja bangun lebih awal untuk membangunkan teman-temannya agar bisa segera makan sahur di bulan Ramadhan. Setelah selesai sahur, ia bersama dengan teman-temannya bersiap untuk shalat Tahajud. Usai Tahajud, Djadi dan anak-anak PII melanjutkan salat subuh di Masjid AT-TAQWA.  

Tiba-tiba, setelah selesai salat subuh, pelajar PII yang keluar menuju teras Masjid, diserbu gerombolan orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mulai berdatangan dengan membawa berbagai jenis senjata. Sontak, Djadi dan kawan-kawannya lari ke belakang untuk menyelamatkan diri. Di sana, ia bersama temannya bersembunyi di parit atau selokan.
Djadi masih ingat betul, saat itu suasana masih gelap, sehingga bisa aman tak diketahui, bersembunyi di parit dengan cara tiarap. Padahal, di dalam parit tersebut terdapat banyak duri bambu. “Alhamdulillah, saya tidak merasakan sakit, walaupun terkena duri-duri bambu yang tajam,” kisahnya saat di temui Cendana News ketika menghadiri Peringatan Peristiwa Kanigoro, Sabtu (14/1/2017).
Meskipun banyak orang-orang PKI yang meloncati parit, tapi tidak ada yang tahu kalau Djadi dan kawannya berada di dalamnya. “Kalau saat itu saya batuk sedikit saja, mungkin akan ketahuan dan langsung di tangkap. Allah masih melindungi kami berdua saat itu,” ujarnya.
Dengan kondisi tetap tiarap, di pojok jalan, Djadi mendengar suara keramaian dan teriakan. Mendengar keramaian tersebut, ia bertanya dalam hati, mau dibawa kemanakah teman-teman saya ini?
Setelah matahari mulai terlihat, suasana menjadi lebih terang, Djadi keluar dari parit persembunyiannya. Tapi, ia pun didatangi seorang Hansip dan dibawa ke rumah Kamituwo (Kepala Dukuh).
Selesai beristirahat, sekitar satu jam di rumah Kamituo, Djadi mendengar lantunan Shalawat Badar dari arah barat yang dikumandangkan oleh teman-temannya. Ia sangat bersyukur, kawan-kawannya telah dilepaskan.
Djadi yang kini telah memiliki tujuh orang cucu dari dua anaknya tersebut bdercerita, teman-temannya sempat digiring dan diserahkan ke kantor Polisi. Tapi, setelah itu, mereka dilepaskan lagi. Sore harinya, mereka akhirnya pulang ke daerah masing-masing. Mental training tidak dilanjutkan lagi karena bekal-bekal peserta sudah habis di rampas oleh PKI.
Padahal, selama mengikuti mental training tersebut, Djadi dan para peserta mendapatkan penjelasan dari para senior maupun guru-gurunya, betapa berbahaya PKI dengan berlindung pada konsep kenegaraan Nasionalis, Agama, dan Komunis (NASAKOM). Hal itu bisa menghancurkan Pancasila sebagai ideologi bangsa.
Bagi Djadi, komunis bertolak belakang dengan Ideologi Pancasila. Sebab, di dalam Pancasila, ada Ketuhanan yang Maha Esa. Celakanya, komunis punya pedoman, Agama adalah candu masyarakat. Djadi sangat setuju dengan prinsip Tentara Nasional Indonesia (TNI), masyarakat Indonesia harus hati-hati dengan Bahaya Laten Komunis (Balatkom). Demi tegaknya pengamalan Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggaln Ika, dan NKRI, Djadi selalu waspada dengan Balatkom.
Agus Nurchaliq/Editor: Irvan Sjafari/Foro: Agus Nucrhaliq
Lihat juga...