Kisah Keluarga Cemara dari Makassar di Tenda Biru

SELASA 17 JANUARI 2017

MAKASSAR— Senin (16/01/17) lalu  saya tiba Jalan Masjid Raya, Makassar.  Di sana terdapat sebuah lapak koran sederhana, tenda biru Rabbani Agency. Lapak koran yang sudah lama menarik perhatian saya.  Lapak itu milik M.Jihadul Arifin (47) bersama istrinya Singrawati Umar(46).
Saya bersama Kelaurga Pak Jihad, Keluarga Cemara dari Makassar. 
Di dalam lapak itu terpampang banyak media pers yang laris di Makassar, baik skala nasional maupun lokal. Walaupun tampilannya begitu sederhana tapi lapak itu merupakan salah satu penyalur koran ke loper-loper koran yang menjajakan korannya di sekitar Jalan Mesjid Raya. Di antara yang menjajakan termasuk juga anak-anak dari  Jihadul sendiri. 
Pasangan suami-istri ini memiliki 8 orang anak 3 di antara sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, seorang tinggal  di pesantren kelas 2 SMA, seorang  masih duduk di kelas 2 SMP dan dua duduk di sekolah dasar kelas 4 dan 6, dan si bungsu yang masih 3 tahun. Melihat keluarga ini saya  seperti terlempar ke era 1990-an, ketika serial televisi Keluarga Cemara menjadi tontonan favorit pemirsa televisi.

Lapak itu menjadi tempat berteduh mereka, sebelum mereka pulang ke kediaman yang cukup jauh dari lapak itu. Mereka pulang malam hari. Jadi lapak sekligus tempat hiburan keluarga ini dengan saling bercengkerama sepulang beraktivitas sekolah atau kuliah. 

Keluarga Pak Jihadul ini sebangun  seperti “Keluarga Cemara”. Langsung  saya jadi teringat dengan soundtrack film ini sungguh mengharukan sepenggal syair “Keluarga Cemara”. 
Harta yang berharga adalah keluarga”
“Istana yang paling indah adalah keluarga”
“Puisi yang paling bermakna adalah keluarga”
“Mutiara tiada tara adalah keluarga”

Keluarga Pak Jihadul ini betul-betul mencermin kehidupan “Keluarga Cemara”. Kami mengobrol di bawah tenda biru itu.
“Setiap pagi saya selalu ditemani istri saya untuk membuka lapak korannya, Saya ingin terus berjuang menghidupi  keluarga saya dengan hasil yang halal menyekolahkan anak-anak saya setinggin-tinggi,” ujarnya.
Pada awal dibuka lapak koran tersebut 8 tahun lalu ini dimulai dari tekat anak kedua dari Pak Jihad yang ingin meringankan beban orang tuanya kala itu. Tetapi karena kesibukan anak keduanya yang sekarang menempuh semester akhir pendidikannya di salah satu perguran tinggi negeri di Makassar maka Pak Jihad menggantikannya. Dan kini usaha agency korannya  sudah memiliki loper koran sebanyak 9 orang.
Walaupun begitu dia mendidik anaknya bagaimana cara bekerja keras sebagai loper koran namun tidak dinilai mengekploitasinya anaknya masih bisa bermain setelah selesai berjualan koran. Pak Jihad kerap  memberikan pengertian pada anak bahwa mencari uang itu susah, agar si anak senang hati untuk menjajakan jualannya.  Di saat orang  berada memanjakan anaknya dengan uang Pak Jihad malah mengajarkan nilai kehidupan pada anaknya agar tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
Saya sempat bertanya apakah Pak Jihad sempat merasa kesulitan membesarkan anak 8 orang. Dia hanya menjawab; “Tidak,  Di saat saya merawat anak-anak saya lakukan dengan penuh keikhlasan dan rasa sabar.”
Jika mungkin pasangan suami istri lain memikirkan seperti itu kasus kekerasan pada yang dilakukan orang tuanya sendiri tidak akan ada.  Ketika saya sedang berbincang-bincang anak kedua dari Pak Jihad datang.  Namanya Rabbani (22). Nama agency koran itu berasal dari namanya.  Dia mengaku dirinya sangat bangga memiliki orang tua yang mengajarkan nilai kehidupan sehingga membuat tumbuh menjadi pribadi yang baik. Ia ingin segera menyelesaikan kuliahnya agar bisa menjadi dosen “ Saya akan terus berjuang untuk esok yang lebih baik” lanjutnya.
Caranya menjaga hubungan antara keluarga sangatlah baik mereka saling terbuka, saling membantu dalam suka dan duka dan sering melakukan komunikasi antar anggota keluarga sehingga mereka tau apa yang sedang terjadi pada setiap anggota keluarga. Bahkan salah satu langganan koran mereka berkomentar “Semangat hidup dan juang keluarga Mas (Pak Jihad) ini sangatlah tinggi bakan saya ingin memiki anak-anak seperti Pak Jihad sabar tidak banyak menuntut apa.” 
Baginya lapak korannya yang tidak luasnya seberapa itu merupakan rumah keduanya di sana tersimpan sejuta kenangan, tempatnya mencari nafkah dengan untung bersih Rp150 ribu  per harinya. Dari untung itulah ia gunakan untuk membiayai sekolah anaknya dan kehidupannya. Sekalipun anaknya  sudah sukses, dia akan tetap membuka lapak ini. 
Tanpa terasa waktu sudah menujukkan sore. Akhirnya saya mengakhiri pertemuan itu.  Rutinitas tetap berlangsung Pak Jihad mengantarkan koran maka Bu Singra akan membantu menyusun eksemplar koran , Sama halnya Emak dan Abah dari Keluarga Cemara , pasanagn ini tiada bosan mengajarkan makna kehidupan pada anaknya:  Hidup sederhana tanpa banyak menuntut sama apa yang dilakukan anak-anak abah
Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah
Lihat juga...