Akibat Hujan dan Angin Kencang, Produktivitas Kakao di Lamsel Menurun

SELASA, 17 JANUARI 2017
LAMPUNG — Angin barat disertai hujan deras yang melanda wilayah Lampung Selatan, berdampak pada produktivitas tanaman kakao. Salah-satu petani kakao di Kecamatan Penengahan, Andre (30), mengaku sebagian tanaman kakao miliknya yang sedang memasuki fase berbunga, rontok akibat hujan disertai angin kencang yang terjadi sepanjang hari selama dua pekan terakhir ini.
Andre, memangkas dahan tanaman kakao yang menghambat pertumbuhan buah.
Rontoknya bunga kakao yang memasuki masa pembuahan tersebut berimbas pada berkurangnya bakal buah kakao. Sebagian buah kakao yang bertahan bahkan diserang hama jamur serta bajing (tupai -red) yang menggerogoti tanaman kakao miliknya di lahan sekitar 1 hektar.
Selain merontokkan sebagian bunga yang sedang mulai berbuah, angin kencang juga mrobohkan beberapa pohon di sekitar tanaman kakao. Akibatnya, beberapa tanaman kakao produktif berusia sekitar 3 tahun tumbang tertimpa pohon lainnya (medang –red) yang roboh. Dengan rontoknya bunga kakao yang berimbas pada berkurangnya bakal buah, dipastikan juga akan mengurangi produksi tanaman kakao yang dibudi-dayakan.
“Musim panen sebelumnya cuaca sedang bagus, sehingga sepekan sekali saya bisa memanen sekitarenam hingga sepuluh kilogram seminggu. Tanaman kakao bisa dipetik setiap dua hari sekali, tergantung tingkat kematangan buah. Belum matang tapi sudah tua, tetap kita petik, karena ada hama bajing,” ungkap Andre, saat ditemui di kebunnya, Selasa (17/1/2017).
Buah kakao yang terserang jamur dan sebagian mengering karena hama.
Berbagai cara pun dilakukan Andre untuk tetap bisa meningkatkan produktivitas kakao miliknya, antara lain dengan melakukan penyemprotan dan pemangkasan daun serta rajin melakukan pemupukan. Pengontrolan rutin juga dilakukan dengan rajin memangkas dahan kakao yang mulai rapat antara tanaman satu dengan tanaman lainnya. Meski tidak sebanyak saat panen raya pada bulan April-Juni, namun Andre mengaku masih bisa memanen tanaman kakaonya.
Salah-satu petani kakao lainnya, Udin (34) mengungkapkan, pengaruh angin dan hujan pada tanaman kakao memang berimbas rontoknya bunga kakao yang sedang berkembang. Namun, ia mengaku penambahan pupuk KCL dengan dosis yang tinggi dinilai ampuh mencegah kerontokan pada buah kakao, meski sebagian petani masih enggan melakukan cara tersebut karena biaya operasional yang cukup tinggi.
Selain faktor cuaca, hambatan perkembangan tanaman kakao yang dialami oleh petani kakao di antaranya serangan hama penggerek yang berwujud ulat. Selain itu, jenis-jenis kutu yang menghisap cairan buah kakao yang masih muda berakibat buah kakao membusuk dan kering di pohon.
Dampak perubahan iklim yang terjadi, menurutnya, juga dapat dicegah dengan melakukan pemangkasan pada tanaman kakao. Sebab, dengan adanya curah hujan yang tinggi, banyak penyakit menyerang tanaman kakao terutama jenis jamur phytophthora palmivora yang menyebabkan penyakit busuk buah dan kanker batang.
“Selain cuaca, sebetulnya mutu bibit, perawatan, mutu tanah juga tak kalah penting, termasuk pemberian pupuk, karena pupuk yang bagus akan menghasilkan tanaman yang produktif,” ungkap Udin, yang juga merupakan salah-satu penyuluh pertanian tersebut.
Saat panen raya, Udin mengaku mampu memanen buah kakao sebanyak 100 kilogram, dengan harga jual mencapai Rp. 25-45.000 per kilogramnya. Harga jual yang masih cenderung naik turun tersebut tergantung masa panen. Saat panen raya buah kakao, harga kakao hanya berkisar Rp. 18.000 per kilogram, sementara saat pasokan biji kakao menurun, harganya bisa mencapai Rp. 50.000 per kilogram.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Koko Triarko / Foto : Henk Widi

Lihat juga...