Banyak Lulusan Pesantren Jadi Komunis ketika di Universitas

SELASA, 17 JANUARI 2017

KEDIRI — Sebuah ingatan atas luka perih kepada Pelajar Islam Indonesia, diperingati pada 13 Januari 2017 lalu di halaman Masjid AT-TAQWA, Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sebuah masjid yang menjadi saksi bisu peristiwa Kanigoro, ketika ribuan Pemuda Rakyat dari Partai Komunis Indonesia (PKI) menyerbu para Pelajar Islam Indonesia (PII) yang mengikuti Training Center. Selain menyerang, PKI juga melakukan penistaan Alquran dengan menginjak-injak kitab suci tersebut, menari-nari, serta melakukan pelecehan seksual kepada para pemudi Islam anggota PII. 
Thowaf Zuharon, Ketua Satgas Anti Komunisme Majlis Ulama Indonesia
Saat itu, dengan membawa berbagai jenis senjata, tanpa melepas alas kakinya, massa PKI langsung masuk ke dalam Masjid untuk menyeret PII yang baru saja selesai melaksanakan shalat Subuh. Para anggota PII diseret menuju halaman Masjid. Tidak hanya itu, PKI juga memaki-maki dan menggiring PII ke Kantor Polisi, dengan tuduhan sebagai pengkhianat. Puji syukur, dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa. 
Berangkat dari luka perih sejarah, Ikatan Keluarga Korban Teror Kanigoro (IKA KOTEKA) menggelar peringatan dalam acara bertajuk ’52 Tahun Refleksi Teror PKI Kanigoro’. Dalam acara yang diikuti oleh ratusan masyarakat berbagai daerah tersebut, turut hadir pula para korban yang mengalami penyiksaan PKI di Kanigoro saat itu. “Peristiwa Kanigoro merupakan salah-satu catatan sejarah nasional yang dianggap sebagai awal atau prolog peristiwa-peristiwa kekejaman PKI lainnya di berbagai daerah di Indonesia,” jelas ketua panitia, M. Ali Imron, kepada Cendana News, Sabtu (14/1/2017).
Menurut Ali Imron, kegiatan yang rutin digelar pada setiap tahunnya tersebut merupakan salah-satu upaya merawat ingatan atas tragedi peristiwa Kanigoro, agar selalu diingat oleh para generasi muda. Peringatan ini adalah upaya memberi penjelasan kepada para muda mudi bangsa ini, atas peristiwa tersebut di masa lalu. Trauma atas peristiwa Kanigoro membekas cukup mendalam bagi masyarakat Kanigoro dan kader PII yang menjadi korban. Pada tahun 2017 ini, bentuk kegiatannya adalah pengajian dengan mengundang beberapa narasumber.
Peringatan 52 Tahun Peristiwa Kanigoro di Masjid At-Taqwa, Jumat (13/1/2017).
Disebutkan, narasumber tersebut yakni, Prof. Dr. H. Zainudin Maliki (Ketua umum PW KB-PII Jawa Timur), Drs. Husni Sutikno Abdullah (Ketua I DPP Gerakan Bela Negara) dan Thowaf Zuharon, S.Sos. (Ketua Satgas Anti Komunis Majelis Ulama Indonesia). “Kami sengaja mengundang tokoh-tokoh tersebut untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai sejarah dan kewaspadaan terhadap komunis,” jelasnya.
Santri Tak Kenal Kekejaman PKI, Mudah Dibujuk Jadi Komunis di Universitas
Sementara itu, Thowaf Zuharon mengingatkan kepada masyarakat, terutama kepada orang tua untuk lebih menjaga dan menjauhkan anak-anaknya dari paham komunis. Dari pantauannya di berbagai Universitas, banyak sekali lulusan pesantren yang menjadi komunis, bahkan Atheis, ketika belajar di bangku Universitas. “Yang mengherankan, dari pantauan saya di berbagai Universitas, para pencinta Komunisme dan Atheisme justru banyak muncul dari Universitas Islam Negeri,” jelas Thowaf.
Sebagai Ketua Satgas Anti Komunisme di Majlis Ulama Indonesia, Thowaf mengusulkan kepada para Ulama dan Kyai di seluruh Indonesia, untuk membuat kurikulum pendidikan di Pesantren mengenai Bahaya Ideologi Komunis. Dengan adanya kurikulum bahaya ideologi komunisme, infiltrasi paham komunisme di berbagai Universitas bisa dihancurkan dan tidak merebak lagi. Tanpa kurikulum bahaya komunisme, anak dan cucu bangsa Indonesia bisa terus diinfiltrasi paham komunis di bangku perkuliahan. 
M Ali Imron, Ketua Penyelenggara Peringatan 52 Tahun Peristiwa Kanigoro.
Bahkan, menurut Thowaf, perlu ditunjukkan kepada santri-santri tentang berbagai contoh perilaku kejam dari para pemeluk komunis di masa lalu. Antara lain, kekejaman aksi keji PKI pada peristiwa Kanigoro, peristiwa Jengkol, tragedi Bandar Betsy, dan berbagai kekejaman lain yang tak terhitung. 
Gagasan tentang kurikulum bahaya ideologi komunisme di Pesantren ini, menurut Thowaf, memerlukan dukungan dari seluruh orang tua di Indonesia. “Semakin banyak dan semakin cepat dukungan atas kurikulum mengenai bahaya ideologi komunis diterapkan di pesantren-pesantren, semakin banyak bisa menyelamatkan generasi Indonesia,” pungkasnya.

Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : Koko Triarko / Foto : Agus Nurchaliq

Lihat juga...