RABU, 18 JANUARI 2017
LAMPUNG — Menjelang pergantian tahun baru Tionghoa yang dikenal dengan perayaan Imlek umat Budha di Kalianda melakukan berbagai persiapan. Persiapan menjelang pergantian tahun 2567 menuju tahun 2568 menurut penanggalan Tionghoa dilakukan oleh umat Budha yang beribadah di Vihara Dharma Sasana dengan berbagai kegiatan rutin. Di antaranya pembersihan areal dalam vihara, luar vihara serta berbagai persiapan lain.
![]() |
| Vihara Dharma Sasana lakukan pembenahan jelang Imlek. |
Menurut Gunawan Salim (57), penjaga sekaligus Kepala Vihara Dharma Sasana yang berada di Jalan Pratu M. Yusuf No 89 Kalianda, Lampung Selatan tersebut, pada tahun ini pihaknya tidak melakukan persiapan khusus. Bahkan pada tahun 2017 ini, ia mengaku, persiapan hanya dilakukan seperti tahun sebelumnya dengan melakukan penambahan aksesoris vihara di antaranya menambah lampu lampion baru serta aktivitas untuk menunjang peribadatan.
Gunawan Salim mengungkapkan, pergantian tahun baru Tionghoa yang akan memasuki tahun ayam api dan akan jatuh pada 28 Januari 2017 mendatang, secara khusus Vihara Dharma Sasana Kalianda menambah kanopi peneduh pada bagian depan dan samping vihara. Penambahan kanopi tersebut, menurut Gunawan, merupakan bagian dari sumbangan umat Budha yang berasal dari daerah lain setelah beberapa waktu lalu bangunan vihara yang menghadap ke perairan laut Kalianda tersebut diterjang angin dan menyebabkan bagian vihara mengalami kerusakan.
![]() |
| Bagian dalam Vihara Dharma Sasana. |
“Penambahan kanopi dilakukan karena sempat kemarin angin menghantam atap dan juga tampias karena air hujan yang bisa masuk ke bagian dalam vihara. Biasanya menggunakan tenda tapi setelah ada donatur bagian depan dibuat kanopi dengan rangka baja dan atap zincalume,” terang Gunawan Salim, penjaga sekaligus Ketua Vihara Dharma Sasana, Kalianda, Lampung Selatan, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (18/1/2017).
Khusus pembersihan Vihara Dharma Sasana yang memiliki nama lain Vihara Tjoe Soe Kong, pembersihan akan dilakukan pada bagian langit-langit vihara yang masih mempertahankan bentuk asli seperti saat dibangun dengan sebagian masih menggunakan kayu merbau. Selanjutnya, pada bagian tempat persembahyangan (jin lu) juga akan dibersihkan terutama pada arca atau patung dewa-dewa yang ada di bagian dalam. Termasuk patung Budha yang terbuat dari tembaga, bagian wadah berupa bokor untuk menancapkan hio, serta mempersiapkan lilin-lilin yang akan digunakan oleh setiap keluarga yang akan bersembahyang dengan lilin merah.
![]() |
| Atap langit-langit Vihara Dharna Sasana. |
Lilin-lilin yang dipersiapkan di antaranya merupakan titipan setiap keluarga yang akan dinyalakan saat menjelang perayaan Imlek dengan nama-nama keluarga yang akan ditulis pada bagian wadah lilin tersebut. Tempat-tempat lilin yang akan dinyalakan telah dibersihkan, sebab menurut Gunawan, mengawali tahun baru sebagian besar sarana peribadatan akan diganti baru. Di antaranya hio yang dipasang pada bagian langit- langit berbentuk viral diganti baru termasuk tempat untuk menancapkan hio.
Ia mengungkapkan, untuk pergantian tahun baru lunar 2567 menuju tahun 2568 pada tahun 2017 ini pihaknya belum memastikan akan adanya kegiatan seperti tahun sebelumnya. Sebelumnya selalu dilakukan kegiatan bakti sosial bagi masyarakat sekitar vihara. Kegiatan bakti sosial berupa pembagian kebutuhan pokok untuk warga kurang mampu di sekitar vihara biasanya akan diberitahukan oleh donatur yang akan melakukan kegiatan bakti sosial tersebut.
![]() |
| Gunawan Salim, Kepala Vihara Dharma Sasana. |
“Kalau tahun sebelumnya memang ada pembagian sembako kepada warga sekitar vihara sebagai bentuk kepedulian umat yang berasal dari wilayah lain. Namun untuk tahun ini belum ada informasi,” ungkap Gunawan Salim.
Sebagai sebuah vihara kecil dengan sekitar 100 kepala keluarga (KK) umat Budha di wilayah tersebut, menurut Gunawan Salim, penyambutan pergantian tahun baru Tionghoa (Imlek) tahun ini akan diisi dengan kegiatan persembahyangan. Kegiatan persembahyangan tersebut dilakukan sejak malam pergantian tahun baru Imlek atau Chuxi dengan ritual sembahyang tutup tahun. Chuxi yang dalam bahasa Mandarin menurut Gunawan bermakna menghapus yang lama dan jahat di malam terakhir untuk menyongsong kedatangan tahun baru dilakukan dengan kegiatan persembahyangan dan kegiatan bersama keluarga.
Penambahan kanopi pada bagian depan dan samping, ungkap Gunawan, sekaligus untuk mengantisipasi jumlah umat yang datang dari wilayah luar Lampung Selatan terutama keluarga yang pulang ke kampung halaman di Kalianda. Jumlah warga yang akan pulang ke kampung halaman diprediksi akan meningkat karena pergantian tahun tepat jatuh pada akhir pekan Sabtu (28/1/2017) mendatang sehingga digunakan untuk etnis Tionghoa berkumpul bersama keluarga sekaligus merayakan pergantian tahun baru Imlek.
Selain persiapan di Vihara Dharma Sasana, persiapan oleh umat Budha atau warga Tionghoa yang ada di Kalianda yang juga memeluk agama Kristen dan Katolik akan melakukan pembersihan rumah. Selain itu selain kegiatan sembahyang bersama di Vihara sebagian umat lain yang merayakan pergantian tahun baru Imlek akan melakukan doa sembahyang tutup tahun melek sampai larut malam (shousui) dan menyalakan petasan.
“Selain persiapan di rumah ibadah, di keluarga-keluarga, satu hal yang tentunya juga disiapkan yaitu kesiapan hati sebagai manusia untuk menyambut hal yang baru dengan membuang sifat jelek di tahun sebelumnya,” terang Gunawan.
Umat Budha serta umat beragama Kristen dan Katolik yang ada di wilayah Kalianda, ungkap Gunawan, sebagian merupakan warga keturunan Tionghoa yang masih menetap di Kalianda. Sebagian sudah bekerja di Jakarta, Bandung, Palembang, Bandarlampung, dan akan berkumpul bersama keluarga untuk meneruskan tradisi leluhur berkumpul pada malam pergantian tahun baru atau Imlek.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi


