SENIN, 30 JANUARI 2017
JAYAPURA — Tahukah Anda, Kota Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua telah berganti nama sebanyak lima kali? Ingin tahu proses perubahan nama tersebut? Berikut Cendana News merangkum dalam catatan nama dalam sejarah, edisi keempat.
![]() |
| Kota Sukarnapura tahun 105-an. (Foto: Arsip LMA Port Numbay) |
Edisi ketiga kemarin, diresmikannya Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) yang berlokasi di Dok II Hollandia dengan kapasitas 360 tempat tidur pada 3 Juni 1959, langsung digunakan. Dalam peresmian itu, turut hadir Kepala Dinas Kesehatan Papua Nieuw Guinea (Irian Timur), dr. Scragg dan tamu-tamu lainnya.
Dalam tulisan kali ini, Cendana News akan membawa Anda ke era saat bendera Merah Putih pertama berkibar di Irian Barat (saat ini Papua –red). Awalnya, pada 1960 disebut-sebut sebagai tahun pembangunan daerah dan masyarakat di segala bidang di Irian Barat (politieke, economische en cultulere on wijkeli).
![]() |
| Kota Jayapura sekarang, banyak berdiri gedung-gedung bertingkat. |
Setahun kemudian, tepatnya pada 5 April 1961, anggota-anggota Nieuw Guinea Raad dilantik, sekaligus pembukaan dan peresmian Nieuw Guinea Raad. Fungsi dari dewan ini setelah pelaksanaan perjanjian New York, maka sesudah United Nations Temporary Execitive Authority (UNTEA) pada 1 Mei 1963 Nieuw Guinea Raad, dewan ini dilebur menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong (DPRD-GR) dengan pergantian dan penambahan anggota-anggota dewan baru.
“Pada 1 Oktober 1971, DPRD-GR diubah lagi dan diganti dengan anggota-anggota hasil pemilihan umum (pemilu), sehingga menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD),” kata Rudi Mebri, Ketua Pemuda Port Numbay.
Lalu, pada 1 September 1961, Bestuur Akademi dibuka khusus untuk putra-putra daerah yang berlokasi di Kompleks OSIBA Hollandia-Binnen. Saat itu, ibukota dipindahkan ke daerah Pantai Holllandia-Haven, dengan dibangunkannya Paleis Gubernur yang baru di Norwijks, sekarang Dok V atas, dan bekas kediaman Gubernur di Hollandia-Binnen dijadikan asrama kompleks Opleidingschool voor Inheemse Bestuurs-Ambtenaren (OSIBA).
| Rudi Mebri, Ketua Pemuda Adat Port Numbay. |
Sekedar pembaca tahu, bahwa tempat itulah pada 9 Desember 1962 dijadikan Kampus dan Aula Universitas Negeri Cenderawasih (UNCEN) yang saat ini ada di Abepura. Dua bulan sebelumnya, pada 1 Oktober 1962, Pemerintah Belanda menyerahkan West Nieuw Guinea atau Irian Barat kepada Pemerintah sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa UNTEA. Penyerahan ini dilakukan antara Tuan H.Veldkamp, Directure van Binnenlandse Zaken atas nama Pemerintah Belanda dan Tuan Mr. Jose Rosz Beenet mewakili Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di hari itu juga, dengan resmi bendera dapat dikibarkan di seluruh dataran pelosok Irian Barat, dan pada bulan itu juga Perwakilan Pemerintah Republik Indonesia yang dipimpin Sudjarwo Tjondronegoro, SH., tiba dan berkedudukan di Hollandia. Bulan Desember setelahnya, 1962, Mr. Jose Rolz Bennrt menyerahkan pimpinan pemerintahan UNTEA kepada Dr. Djalal Abdoh sebagai Administrator West Nieuw Guinea/West Irian yang ditunjuk oleh Sekretaris Perserikatan Bangsa-Bangsa, Tuan U Than.
Bendera Merah Putih berkibar di samping bendera PBB di dataran tanah Irian Barat, setelah bendera Kerajaan Belanda. Saat itu, tanggal 31 Desember 1962. Di saat itulah nama Hollandia berganti nama menjadi Kota Baru. Nah, di Kampung Injros, bendera Merah Putih pertamakali berkibar pada 18 Januari 1963, bersamaan dengan pengibaran bendera Merah Putih di Doyo, Kabupaten Jayapura, yang merupakan markas gerilyawan pendukung Irian Barat ke pangkuan NKRI di bawah pimpinan Marten Indey. (Bersambung)
Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta
