SENIN, 30 JANUARI 2017
JAYAPURA — Pembangunan Jembatan Hamadi-Holtekam dengan biaya kontrak Rp. 858 Miliar, kini mencapai 30 persen pengerjaan. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional X Papua memastikan pada 2018 mendatang jembatan tersebut terselesaikan.
| Pembangunan Jembatan Hamadi-Holtekam dipastikan selesai 2018. |
Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Pembangunan Jalan Nasional 1, Sumihar Panjaitan, mengatakan, dari anggaran sebesar Rp. 858 Miliar, terdapat tiga input penganggaran, yakni Pemda Provinsi Papua, Pemda Kota Jayapura dan Pemerintah Pusat melalui Badan Jalan Nasional wilayah Papua.
“Itu sudah dilakukan MoU sharing pendanaan. Pekerjaan kami sampai saat ini pada bagian bawah sudah mencapai sekitar tiga puluh persen, mungkin bulan Maret mendatang sudah selesai pada bagian bawahnya,” kata Sumihar Panjaitan kepada Cendana News, Senin (30/1/2017).
Menurutnya, saat ini terdapat 15 titik yang belum dilakukan, pada pir keempat, dimana dalam pekerjaan ini ada abudmen atau bangunan bawah paling luar 1 hingga 5. Masih 30 persen pengerjaan ini, karena lamanya membor dasar laut. “Sedangkan sisanya dapat dikejar, karena hanya memasang rangka atas saja. Pir ini ada tergantung abudmennya. Karena abudmennya lima, dibutuhkan empat pir,” ujarnya.
Sumihar juga mengatakan, pihaknya menargetkan proyek multiyears ini akan selesai di 2018 mendatang. “Tahun dua ribu delapan belas rencana selesai, kontraknya begitu. Ini proyek multiyear. Jadi, dana delapan ratus lima puluh delapan miliar rupiah ini bertahap dari dua ribu nam belas hingga dua ribua delapan belas,” jelasnya.
Saat ditanya Cendana News terkait kendala apa saja yang dihadapi, menurutnya hanya satu, yakni hak ulayat tanah dan laut. “Hak ulayat tanah, laut pun minta dibayar oleh pemilik hak ulayat. Tapi, kami sepakat Provinsi Papua yang membereskan hal itu,” tuturnya.
Ia juga membeberkan ada perubahan desain, dan saat ini telah dibentuk komisi keselamatan jembatan dan terowongan. Setelah dilakukan evaluasi oleh komisi tersebut, terjadi perubahan, salah-satunya penambahan tiang-tiang jembatan. “Saat jembatan ini dikerjakan, komisi ini belum terbentuk. Saat komisi ini terbentuk, mereka meninjau kembali dan terdapat perubahan-perubahan. Contoh ada penambahan tiang, dengan alasan daya ukur tanahnya sangat rendah dan dikhawatirkan kurang kuat bila terjadi gempa, sehingga tiangnya ditambah,” katanya.
Sumihar juga membenarkan, jika nantinya akan ada penambahan anggaran, lantaran terdapat penambahan-penambahan tersebut. Namun, ia mengaku saat ini masih tetap menggunakan anggaran Rp. 858 Miliar sesuai kontrak awal. “Untuk penambahan anggaran itu masih dibahas dan belum final, jadi saat ini kami tetap mengacu pada kontrak awal,” tuturnya.
Semntara itu, salah-satu pengguna jalan, Irfandi, saat ditemui mengaku senang bila jembatan tersebut nantinya selesai. Ia yakin akan banyak pengendara melalui jembatan tersebut. Pasalnya, pusat rekreasi seperti pemancingan, lokasi pemandian Holtekamp serta tempat wisata perbatasan RI-PNG sering dikunjungi masyarakat. “Sudah pasti banyak pilihan untuk ke perbatasan RI-PNG. Kalau dari pusat kota melalui jalan utama menuju perbatasan RI-PNG ditempuh satu hingga satu setengah jam, namun bila nanti jembatan itu sudah jadi, sudah pasti hanya satu jam saja, bahkan bisa setengah jam,” katanya.
Jembatan yang berlokasi di Kota Jayapura ini menghubungkan antara Hamadi, Distrik Jayapura Selatan dan Holtekamp, Distrik Muara Tami. Dengan adanya jembatan ini, nantinya dapat memudahkan masyarakat perbatasan RI-PNG maupun dari Kabupaten Keerom untuk mengakses langsung ke pusat ibukota Provinsi Papua tersebut.
Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta