KAMIS, 12 JANUARI 2017
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Jejak gerakan penghijauan sejak 1998 masih berbekas di RW 011 Bukit Duri, Jakarta Selatan. Trisno Budiarti, Ketua Posdaya Melati 1 RW 011, Bukit Duri sekaligus Ketua RW 011 Bukit Duri ingin keadaan saat itu terulang kembali pada 2017.
| Pengurus Posdaya Melati 1 RW 011 Bukit Duri (kiri-kanan) Titin Sumartini, Trisno Budiarti, serta Salman (ujung kanan), Ketua RT 04 RW 011. |
Kampung tani RW 011 Bukit Duri dengan anggota-anggota yang gemar bercocok tanam, hijaunya Bukit Duri dengan tanaman kangkung, sawi maupun cabai adalah jejak yang terus mengusik Budiarti. Membangun kembali lingkungan RW 011 Bukit Duri yang hijau royo-royo adalah impian ibu berusia 48 tahun tersebut.
Terjangan Banjir
Dulu, awal kehancuran penghijauan RW 011 Bukit Duri dimulai saat 1998 datang banjir kiriman dari Bendungan Katulampa, Bogor, ke Bukit Duri melalui Sungai Ciliwung. Setelah itu, berlanjut 2002 kembali banjir kiriman datang menerjang Bukit Duri. Seakan siklus lima tahunan, banjir kerap membekap wilayah ini dengan ketinggian air tak tanggung-tanggung, mencapai 2-5 meter.
Harta benda penduduk musnah, perekonomian lumpuh, dan penghijauan yang menjadi ciri khas Kampung tani RW 011 Bukit Duri sejak 1994 ikut musnah diterjang banjir. “ Karena terlalu seringnya banjir, warga mulai bosan bercocok tanam. Apalagi sejak banjir kiriman terakhir pada 2006, air kerap datang tanpa diduga. Semakin jenuhlah warga untuk melakukan penghijauan,” kenang Budiarti, Rabu (11/1/2017).
Pada medio 2014, Yayasan Damandiri masuk dalam bentuk Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) bersama empat aspek pemberdayaan masyarakat, yakni pendidikan, kesehatan, wirausaha dan lingkungan. Tiga aspek awal dari pemberdayaan berhasil dilakukan, akan tetapi karena banjir terus datang, aspek keempat yaitu lingkungan tidak kunjung dapat diberdayakan.
Pembentukan Posdaya Melati 1, RW 011 Bukit Duri Jakarta Selatan, bersamaan masuknya Yayasan Damandiri, terus dihantui ketidakberdayaan program penghijauan. Walau begitu, gagasan Yayasan Damandiri untuk menghijaukan kembali wilayah Bukit Duri tetap dijalankan Posdaya Melati 1 dengan perlahan, sambil terus menunggu momentum. Banjir kiriman belum usai, kembali menyusul September 2016, saat eksekusi proyek normalisasi Ciliwung dilakukan pemerintah provinsi DKI Jakarta di Bukit Duri. Akan tetapi, pasca eksekusi, banjir kiriman dari Bogor setinggi 2-5 meter berhasil tereduksi menjadi 20-30 cm saja.
“Sebelumnya, saat Katulampa siaga satu, masing-masing keluarga hitung mundur sepuluh jam sambil menaikkan barang-barang ke lantai dua dan atap rumah. Sekarang, walau sudah siaga satu, kami masih bisa tenang,” tutur Hayati, anggota Posdaya Melati 1 dan Ketua RT 011, RW 011 Bukit Duri kepada Cendana News, Rabu (11/1/2017).
Aktifkan Penghijauan Pasca Banjir
Awal 2017, Ketua Posdaya Melati 1, Trisno Budiarti melihat celah untuk mengaktifkan kembali penghijauan di RW 011 Bukit Duri. Dengan banjir setinggi 20-30 cm, artinya kampung tani belum bisa terwujud, namun penghijauan memanfaatkan lahan sempit kota bisa dilakukan. Ada dinding-dinding luar rumah yang bisa dimanfaatkan. Sebelum memberdayakan warga, Budiarti memberi contoh terlebih dahulu dengan menghijaukan kediamannya. Dinding luar rumah ditempeli tanaman berwadah pot plastik dan menempatkan pot-pot lain berisi tanaman berjejer di bawah dinding tersebut.
Setelah memberi contoh, ia mulai sosialisasi kepada anggota Posdaya Melati 1, kemudian bersama-sama mengimbau warga di seluruh lingkungan RW 011 Bukit Duri untuk menghijaukan lingkungannya masing-masing. Gayung bersambut, Ketua RT 03, RT 011 dan RT 07 memberi lampu hijau keikutsertaan memberdayakan warga masing-masing untuk penghijauan. Bahkan Ketua RT 04, Salam, tampak antusias dengan gagasan menghijaukan kembali lingkungan Bukit Duri, khususnya RW 011.
“Saya sudah tekankan kepada warga RT 04, jika gorong-gorong sudah selesai dibangun, tidak ada yang meletakkan atau membangun apa pun di atasnya. Karena akan dimulai penghijauan dengan meletakkan pot berisi tanaman hijau berjejer rapi di atas gorong-gorong tersebut,” tegas Salam saat ditemui Cendana News, Rabu (11/1/2017) di kediamannya.
| Trisno Budiarti mencontohkan penghijauan di depan kediamannya. |
Salam, kembali menambahkan, sosialisasi kepada warga mengenai penghijauan sudah jelas, jadi tinggal tunggu waktu saja untuk menjalankannya, yakni satu bulan sesudah gorong-gorong rampung dibangun. Bukan main pergerakan para penggiat Posdaya Melati 1 Bukit Duri dan luar biasa warga yang merespon gerakan mereka untuk kembali menggagas penghijauan lingkungan RW 011, Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Siapa lagi yang bisa menata lingkungan RW 011 Bukit Duri jika bukan warganya sendiri.
Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw