Damandiri dan Keunikan Edukasi Simpan Pinjam di Pengadegan

RABU, 25 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Warga Pengadegan RW 01, tinggal tepat di pinggir Sungai ciliwung. Rata-rata dari golongan menengah ke bawah jika di bedah secara tingkatan ekonomi. Satu hal yang cukup menarik adalah karakter warga di sana ingin kemudahan. Bukan berarti kemudahan lalu antikerja keras, maksudnya kemudahan agar mereka bisa konsentrasi mencari nafkah.

Magda Hasmutri, Ketua Posdaya Melati 3, RW 01, Pengadegan.

Contoh kemudahan tersebut adalah dalam hal simpan pinjam. Wajar saja mereka sempat banyak terjerat rentenir simpan pinjam yang mengobral kemudahan layaknya tukang obat. Jika Yayasan Damandiri tidak masuk ke sana melalui pembentukan Posdaya Melati 3 RW 01 Pengadegan, tidak tahu bagaimana nasib warga di tempat itu. Pastinya mereka akan semakin terjerat rentenir simpan pinjam seumur hidup.

Warga banyak yang tidak familiar akan cara berhubungan dengan bank. Bukan berarti mereka tidak punya rekening di bank, tetapi ada beberapa mekanisme yang kurang familiar bagi mereka. Salah satunya mekanisme penentuan tanggal jatuh tempo cicilan bank. Jika dalam menangani jatuh tempo berlarut-larut, bank akan mengirimkan tenaga penagihan berwajah menyeramkan. Tetapi koperasi tidak melakukan cara tersebut. Jika tagihan jatuh tempo terlewat cukup jauh, justru koperasi akan mendatangi warga dan menanyakan apakah ada masalah atau bagaimana usaha mereka. Apakah usaha mereka lancar atau terkendala sesuatu dan lain hal.

Hal ini sangat dipahami oleh pengurus Posdaya Melati 3 RW 01 Pengadegan, terutama Ketua Posdaya, Magda Hasmutri. Pengalamannya bekerja di salah satu bank swasta di Jakarta pada 1995 membawanya untuk mencerahkan warga tentang beberapa mekanisme lembaga keuangan, sekaligu mengedukasi mereka menjadi anggota simpan pinjam Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) milik Yayasan Damandiri.

“Masalahnya hanya satu, mereka bukan tidak mampu membayar cicilan, justru boleh dibandingkan apakah kredit macet terbesar berada di pelaku usaha mikro atau pelaku usaha besar. Saya banyak bertemu hal seperti itu, jadi saya coba bimbing rekan-rekan anggota Tabur Puja agar mendapat pencerahan dalam hal mewaspadai tanggal jatuh tempo cicilan,” Magda mulai merincikan penjelasannya.

Magda sudah tahu, dalam kredit tanpa agunan di dunia perbankan, tanggal pembayaran, tanggal jatuh tempo cicilan serta tanggal cetak lembar tagihan (billing statement) pasti berbeda. Ia coba menyederhanakan sistem perbankan tersebut secara tradisional. Ia mengedukasi warga jika dana diterima pertama kali tanggal 1 Desember, artinya peminjam harus membayar tanggal 1 Januari bulan berikutnya. Sama saja dengan awal minggu kelima jika dihitung menggunakan sistem mingguan. Karena pembayaran harus dilakukan di awal atau hari ke sekian pada minggu kelima, uang cicilan harus dipersiapkan sejak awal minggu keempat.

Tidak cukup sampai di situ, sebagai antisipasi anggota yang lupa tanggal jatuh tempo, Magda mencantumkan tanggal jatuh tempo sampai bulan terakhir cicilan lunas dengan menempelkannya di buku Tabur Puja masing-masing anggota. Cara ini ternyata efektif untuk mengedukasi warga dalam mewaspadai tanggal jatuh tempo pembayaran cicilan, sekaligus mengedukasi warga untuk familiar dengan sistem pelunasan cicilan dunia perbankan.

Sejauh ini semua lancar, bahkan terkadang anggotanya sudah datang menyerahkan cicilan pada awal minggu ketiga. Sekarang dunia justru terbalik, Magda yang dibuat pusing tujuh keliling sekarang karena harus memegang uang cicilan para anggota jauh sebelum tanggal jatuh tempo. Warga juga mulai mengikuti saran Magda, yaitu menyimpan sebaik-baiknya tanda bukti pembayaran cicilan, karena jika itu hilang, dan ada yang bermaksud jahat, warga bisa dirugikan. Mereka semua mengikuti saran dan edukasi Magda.

“Mengedukasi, mendidik atau apa pun terminologinya, tidak bisa dengan kekerasan apalagi suara lantang layaknya berpidato. Akibatnya hanya dua, kamu ditinggalkan atau justru dilempari orang. Harus dengan perlahan membuka ranah berpikir mereka, setelah terbuka, berikan pembandingnya jika mereka tidak melakukan dan apa yang terjadi jika mereka melakukan sebaik-baiknya. Buktinya sudah jelas, warga di sini perlahan mulai paham, juga terbangun rasa saling percaya yang sehat antara pengurus Posdaya dengan warga,” pungkas Magda.

Cara mengingatkan anggota Tabur Puja akan tanggal jatuh tempo cicilan.

Hari kas Posdaya Melati 3 jatuh setiap hari Rabu pada 1 Februari 2017. Pada hari kas itulah waktu yang tepat untuk menyaksikan sendiri kemajuan warga RW 01 Kelurahan Pengadegan yang sekarang sudah mampu menempatkan diri sebagai nasabah yang mengerti akan kesetaraan hak dan kewajibannya.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...