Bonggol Bambu di Ponorogo Bawa Berkah

SENIN, 16 JANUARI 2017

PONOROGO — Siapa sangka, bonggol bambu yang biasanya tidak terpakai ternyata jika mau dikreasi sedikit mampu membawa berkah yang luar biasa. Hal inilah yang dirasakan Istadi (47) warga Desa Bangsalan, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo. Usaha kerajinan dengan berbahan baku bonggol bambu ini ia tekuni sejak 2008.

Istadi saat memamerkan produknya.

Istadi dulunya penjual baju, tas, dan sepatu di Surabaya. Namun suatu ketika, barang dagangannya tiba-tiba raib diambil maling saat di kosannya. Ia pun memutuskan kembali ke rumahnya dan ingin memulai usaha baru. Usai beberapa bulan dari kejadian tersebut, secara tidak sengaja karena rumahnya dekat dengan sungai besar dan banyak terdapat pohon bambu, ia menemukan bonggol bambu yang tersangkut di dekat rumahnya.

“Bentuknya seperti ikan, lalu saya menemukan lagi bonggol bambu. Bentuknya seperti kepala ikan dari situ timbul ide dan saya gabungkan. Ternyata bagus akhirnya oleh para tetangga disuruh mengembangkan sampai sekarang banyak yang pesan,” jelasnya kepada Cendana News saat ditemui di rumahnya, Senin (16/1/2017).

Istadi menerangkan ia mampu membuat berbagai macam bentuk hewan dari bonggol bambu, harganya pun mengikuti tingkat kesulitan. Ada tiga kelompok yang dijual, untuk kelompok A harganya mulai Rp 1–10 juta, kelompok B dihargai Rp 200–500 ribu, dan kelompok C dihargai Rp 25–200 ribu.

“Yang paling susah kelompok A, soalnya membuatnya memakan waktu hingga tahunan,” ujarnya.

Bapak dua orang anak ini menjelaskan di Jawa Tengah juga terdapat perajin bonggol bambu, namun karyanya sangat halus dan rapi. Kalau hasil karya Istadi lebih mengedepankan bentuk asli bonggol bambu serta imajinasi. Hal inilah yang membedakan hasil karyanya dengan yang lain.

“Saya bisa buat bentuk wayang, komodo, bebek, rusa dan lain-lain tergantung bentuk bonggolnya seperti apa nanti saya pikirkan bentuknya, terus proses pembuatan,” tuturnya.

Ditanya soal bahan baku, Istadi mengaku tidak sulit mendapatkannya. Hanya saja pengeringannya yang menggunakan sinar matahari dengan intensitas kuat inilah yang sulit di musim penghujan seperti sekarang ini. “Kalau tidak benar-benar kering nanti saat proses akhir, timbul jamur,” cakapnya.

Bonggol bambu yang ia gunakan harus jenis bambu ori. Biasanya ia mendapatkan bahan kiriman dari Slahung, untuk satu bak truk dihargai Rp 1 juta. Menurutnya, yang paling banyak peminatnya berupa kentongan.

“Satu kentongan bentuk ikan saya hargai Rp 35 ribu, ini yang paling sering laku biasanya untuk rumah-rumah atau rumah makan,” paparnya.

Istadi bahkan pernah ditawari oleh pengusaha asal Belanda dan Jepang dalam 3 bulan harus mengirim 1000 bonggol bambu yang sudah terbentuk. Namun karena kendala cuaca dan permintaan bentuknya bermacam- macam akhirnya Istadi tidak berani mengambil kesempatan emas itu.

“Kan alat yang saya buat masih manual pakai palu dan tatah, jadi tidak berani ambil resiko. Tapi saya juga pernah kirim ke Bali, 500 kerajinan bonggol bambu yang sudah jadi. Beruntungnya tidak ditarget waktu, jadi saya menyanggupi,” tukasnya.

Meski usaha ini berawal dari tidak sengaja, Istadi mengaku bersyukur dengan hasil karyanya dan mampu menghidupi keluarganya. Kini ia tidak perlu lagi susah mencari pembeli, karena pembeli selalu datang ke rumahnya.

Bonggol kreasi Istadi.

“Sekarang harus sabar kalau ada pemesan, karena saya mendahulukan pemesan awal, beruntung peminatnya terus bertambah dari tahun ke tahun,” pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti

Lihat juga...