YOGYAKARTA — Seorang anak berinisial HA (8) asal Godean, Sleman, yang sempat dirawat di RSUP dr Sardjito hingga akhirnya meninggal dunia pada 6 Januari 2017 lalu, dipastikan terjangkit virus antraks. Hal itu disampikan pihak RSUP Dr Sardjito dari hasil uji laboratorium, yang baru keluar beberapa hari setelah pasien meninggal dunia.
Dokter RSUP Dr Sardjito yang menangani pasien tersebut, Nornanningsih menjelaskan, anak tersebut masuk pada 31 Desember 2016 lalu, dalam kondisi demam, tidak sadar, dan mengalami kejang-kejang. Pihak rumah sakit langsung melakukan upaya penanganan, termasuk melakukan pengujian laboratorium sampel cairan otak.
“Dari hasil uji laboratorium itu diketahui pasien mengalami infeksi otak yang disebabkan oleh bakteri. Namun saat itu kita belum bisa mengetahui itu bakteri jenis apa. Karena masih harus menunggu hasil pemeriksaan uji laboratorium lanjutan. Namun sebelum hasil lab itu keluar, pasien sudah dinyatakan meninggal dunia,” ujarnya di RSUP Dr Sardjito, Sabtu (21/01/2017).
Lebih lanjut dijelaskan, setelah hasil uji laboratorium keluar pada 16 Januari 2017, baru diketahui jika bakteri yang menjadi penyebab infeksi pasien merupakan bakteri bacillus anthracis. Untuk memastikan hal itu pihak RSUP Dr Sardjito sendiri telah mengirim sampel tersebut ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Puslibangkes) Depkes, untuk konfirmasi uji laboratorium lebih lanjut. Pihak RSUP Dr Sardjito juga telah melaporkan adanya temuan pasian kasus antraks itu ke pihak terkait dalam hal ini pemerintah.
“Jadi keronologinya empat hari sebelum dibawa ke RS Sardjito, anak itu mandi berenang di sebuah umbul. Dua hari kemudian anak ini mengalami demam serta nyeri di perut serta muntah-muntah. Anak itu lalu dibawa ke Puskesmas setempat dan sempat dirawat satu malam. Karena tidak ada perubahan lalu dirujuk ke RSUD Sleman. Setelah diperiksa sempat didiagnosis usus buntu. Tapi karena anak ini mengalami penurunan kesadaran lalu dirujuk ke RS Sardjito,” paparnya.
Sementara itu Pelaksana Tugas Harian Direktur Utama RSUP Dr Sardjito, Rukmono Siswi Hanto, membantah jika pihak rumah sakit saat ini tengah merawat belasan pasien yang diduga terkena virus antraks, sebagaimana banyak diberitakan di media sosial. Ia juga membantah jika pihak rumah sakit mengeluarkan dokumen nama-nama pasien yang dirawat karena mengidap penyakit antraks.
“Kami masih melacak kebenaran dokumen surat yang beredar luas itu. Termasuk siapa yang membuat. Yang jelas saat ini tidak ada pasien suspect antraks yang dirawat di RS Sardjito. Selain itu RS Saedjito juga aman untuk dikunjungi. Masyarakat tidak perlu khawatir akan tertular virus antraks jika datang ke RS Sardjito, karena kita sudah memiliki prosedur kewaspadaan agar semua dapat terlindungi,” pungkasnya.
Sebagaimana diketahui sebelumnya sebanyak 16 orang di desa Purwosari Kecamatan Girimulyo Kulonprogo dinyatakan postitif terjangkit penyakit menular yang diakibatkan virus antraks setelah mengkonsumsi daging hewan ternak sakit. Sejumlah warga mengalami keluhan sakit di kulit seperti melepuh dan terbakar. Pihak pemerintah daerah setempat juga telah memastikan hewan ternak yang dikonsumsi warga tersebut postif mengandung virus antraks.
Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana