UGM Bentuk Tim Respon Cepat Waspada Antraks

SABTU, 21 JANUARI 2017

YOGYAKARTA — Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta membentuk Tim Respon Cepat Waspada Antraks, menyusul ditemukannya 16 suspect kasus antraks di Kabupaten Kulonprogo, dan Slemen Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa waktu lalu. Tim yang terdiri dari sejumlah unsur baik Fakultas Kedokteran, Kedokteran Hewan, maupun Fakultas Peternakan ini dibentuk untuk mendukung pihak-pihak terkait dalam menangani serta menaggulangi penyebaran virus antraks.
Tim Respon Cepat Waspada Antraks Fakultas Kedokteran UGM
Ketua Tim Respon Cepat Waspada Antraks Fakultas Kedokteran UGM, Riris Andono Ahmad menyatakan, masyarakat tidak perlu panik dalam menyikapi munculnya kasus tersbut. Pasalnya penyakit antraks hanya ditularkan dari hewan ke hewan, atau hewan ke manusia, dan tidak dapat menular dari manusia ke manusia.
“Penularan virus antraks dari hewan ke manusia memang mungkin terjadi, meskipun peluangnya kecil. Yakni apabila melakukan kontak langsung maupun tidak langsung dengan hewan, bangkai ataupun produk hewan sakit yang terkena antraks. Namun penularan antraks dari manusia ke manusia itu tidak dimungkinkan,” ujarnya di UGM, Sabtu (21/01/2017).
Virus antraks pada manusia sendiri dikatakan, biasanya paling banyak menyerang pada bagian kulit manusia. Meskipun juga bisa menyerang saluran pencernaan atau saluran pernafasan. Serangan pada saluran pernafasan inilah yang biasanya akan menimbulkan dampak fatal, sementara serangan pada kulit sangat dimungkinkan untuk sembuh baik dengan sendirinya atau dengan diobati.
“Gejala yang muncul akibat virus antraks ini paling banyak ditemukan pada kulit, mencapai 99 persen. Seperti kulit melepuh dan terbakar. Dan ini 99 persen dapat disembuhkan dengan cepat. Sementara serangan pada saluran pernafasan sangat jarang, hanya mencapai 1 persen saja yang dapat menimbulkan kematian,” ujarnya.
Ketua Tim Respon Cepat Waspada Antraks Fakultas Kedokteran UGM, Riris Andono Ahmad
Ia mengatakan, masyarakat tak perlu khawatir mengkonsumsi daging, selama daging yang dikonsumsi tersebut dibeli di tempat pemotongan hewan bersertifikasi. Selain itu ia juga meminta masyarakat untuk selalu mencuci tangan memakai sabun serta memasak daging hingga benar-benar matang atau mencapai suhu 120 derajat.
Sementara itu, Ketua Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fak Kedokteran Hewan UGM, Heru Susetya mengatakan, penyakit antraks secara umum hanya menyerang hewan herbivora seperti sapi kambing domba kuda atau gajah. Sementara serangan aktraks pada manusia sangat jarang terjadi.
“Antraks termasuk penyakit menular strategis. Hewan yang terkena antraks biasanya akan mengalami panas tinggi dan mati mendadak. Selain itu juga keluar darah dari lubang tubuh alaminya. Bila menemui kasus seperti ini, tidak boleh dilakukan bedah bangkai apalagi sampai dikonsumsi. Namun segera dilaporkan kepada pihak terkait,” ujarnya.
Bakteri antraks sendiri dikatakan dapat membentuk spora di dalam tanah secara alami dan mampu bertahan hingga puluhan tahun. Meski begitu, spora antraks dalam jumlah sedikit tidak akan dapat mempengaruhi tubuh manusia. 
“Kalau dalam jumlah seditik dan tidak terkonsentrasi tidak akan berpengaruh. Karena butuh jumlah yang banyak untuk bisa mempengaruhi. Manusia memiliki pertahanan tubuh yang dapat menanggulangi virus ini secara alami, ” ujarnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...