SENIN, 30 JANUARI 2017
MAUMERE — Abrasi pantai di Lokaria, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, dinilai sudah sangat parah. Selama 15 tahun ini, air laut masuk ke daratan hingga radius 20 meter. Demikian disampaikan Wenefrida Efodia Susilowati, pendiri Bank Sampah Flores, Senin (30/1/2017), sore.
| Wenefrida Efodia Susilowati sedang mengecek kondisi pagar penahan ombak saat malam hari. |
Susi, sapaan akrabnya, juga mengatakan, ia yang membeli tanah di pesisir Pantai Lokaria pada 2002 langsung membangun tembok yang berjarak 16 meter dari laut. “Batasnya itu dibuat untuk mencegah air laut saat musim barat, supaya air tidak masuk ke halaman rumah kami,” ujarnya.
Susi mengaku terkejut, karena semakin hari ancaman abrasi semakin parah. Tembok yang dibangunnya pun runtuh dan abrasi sudah melewati tembok tersebut hingga hanya tersisa sekitar 5 meter dari rumahnya. “Ternyata setiap tahun abrasi terus terjadi dan semakin parah dua tahun belakangan. Saya memperkirakan sekitar satu setengah meter lahan daratan setiap tahun tergerus abrasi,” ungkapnya.
Ditambahkan pendiri Bank Sampah Flores ini, sejak dibangunnya turap penahan ombak di sebelah barat Pantai Lokaria, keadaan semakin parah, karena ombak yang biasanya datang dari arah depan sekarang datang dari arah barat ke timur. “Mungkin karena di sebelah barat ada turap, sehingga air laut meluap mencari daerah yang belum dibangun turap,” sebutnya.
Susi terus berupaya membangun penahan ombak sendiri dari kayu Kukung yang ditanam di pasir, dan menumpuk karung yang diisi pasir untuk mencegah ombak. Dirinya tidak memakai batu, sebab berpikir untuk tidak boleh melawan alam, tapi bersahabat dengan alam. “Bukan soal besarnya ombak, namun setelah benturan dengan tembok dia akan mengikis bagian bawah tembok, sehingga tembok lama-kelamaan runtuh,” jelasnya.
| Wenefrida Efodia Susilowati |
Dengan adanya pagar kayu, lanjut Susi, akan memberi celah bagi ombak dan terbukti sejak dipasangi kayu tidak ada pohon yang tumbang di atas tanah miliknya, sementara di sekitarnya puluhan pohon kelapa di pesisir pantai tumbang akibat tergerus ombak. “Saat ombak besar, (Rabu, 25 Januari 2017 –red) dalam radius satu setengah kilometer terlhat dua belas pohon kelapa tumbang akibat tergerus ombak,” terangnya.
Dengan kondisi tersebut, Susi pun meminta Pemerintah agar segera bertindak menanggulanginya, baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Bila tidak segera diatasi, air laut akan masuk ke darat dan merusak jalan negara yang letaknya sekitar 15 meter dari bibir pantai. “Pemerintah mungkin perlu membuat perencanaan dengan baik, sehingga tidak merugikan wilayah lain di sekitarnya. Jangan sampai ditanggulangi di suatu daerah, namun abrasi akan terjadi di daerah lain,” pungkasnya.
Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary